Oleh: Silvi Bahriya, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Kasus viral dugaan perselingkuhan seorang dokter ortopedi dengan seorang influencer di Jepang kembali menyita perhatian publik. Media sosial dipenuhi kemarahan, sindiran, hingga simpati kepada pihak yang dianggap menjadi korban. Namun di tengah riuhnya perdebatan itu, ada satu pertanyaan yang sering luput dibahas: mengapa hubungan yang tampak baik-baik saja dari luar tetap bisa retak?
Perselingkuhan tentu tidak dapat dibenarkan. Namun, jika hanya berhenti pada penghakiman moral, kita sering gagal memahami persoalan yang lebih dalam. Sebab, tidak sedikit rumah tangga yang terlihat harmonis di hadapan publik, tetapi sebenarnya menyimpan jarak emosional yang terus melebar dari waktu ke waktu.
Baca juga: Bukan Jahat, Tapi Salah Asuhan: Toxic Masculinity Hanafi yang Masih Hidup Sampai Hari Ini
Ketika rumah tangga kehilangan ruang percakapan
Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum media sosial dipenuhi drama rumah tangga viral, Armijn Pane telah membahasnya melalui novel Belenggu.
Tokoh Dokter Sukartono digambarkan sebagai sosok yang berhasil dalam karier dan memiliki keluarga yang tampak ideal. Ia menikah dengan Tini, perempuan modern, cerdas, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Namun, di balik semua itu, hubungan mereka perlahan kehilangan kehangatan.
Tini sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Sukartono memendam kesepian yang tidak pernah benar-benar ia ungkapkan. Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi tidak lagi benar-benar hadir satu sama lain.
Armijn Pane menunjukkan bahwa keretakan hubungan sering kali tidak dimulai oleh perselingkuhan. Keretakan itu justru lahir dari komunikasi yang perlahan menghilang, dari kebutuhan emosional yang tidak lagi terpenuhi, serta dari perasaan tidak dipahami yang terus menumpuk.
Kesepian yang tidak terlihat
Dalam kondisi itulah Sukartono bertemu Yah atau Nyonya Eni. Kehadiran Yah bukan semata-mata karena faktor ketertarikan fisik. Ia hadir sebagai sosok yang memberikan perhatian, mendengarkan, dan membuat Sukartono merasa dipahami.
Di sinilah Belenggu terasa begitu relevan dengan berbagai kasus rumah tangga yang ramai dibicarakan saat ini. Perselingkuhan sering dipahami hanya sebagai persoalan nafsu atau moralitas. Padahal, dalam banyak kasus, hubungan terlarang juga tumbuh dari kesepian emosional yang tidak pernah diselesaikan.
Kasus yang viral hari ini memperlihatkan bagaimana publik kerap melihat hubungan dari permukaannya saja. Banyak orang beranggapan bahwa pengorbanan pasangan, status sosial, kecantikan, ketampanan, atau keberhasilan karier sudah cukup untuk menjamin kesetiaan. Padahal, manusia juga membutuhkan kedekatan emosional yang tidak selalu tampak dari luar.
Rumah yang dihuni, tetapi tidak ditempati
Apa yang dialami Sukartono dan Tini sebenarnya cukup dekat dengan realitas rumah tangga modern. Kesibukan pekerjaan, tuntutan karier, target finansial, hingga tekanan sosial membuat pasangan kehilangan waktu untuk saling memahami.
Hubungan akhirnya berjalan seperti rutinitas. Ada komunikasi, tetapi hanya soal kebutuhan sehari-hari. Ada kebersamaan, tetapi tanpa kedekatan emosional yang mendalam.
Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa lebih didengar oleh orang lain dibandingkan oleh pasangannya sendiri. Di sinilah bahaya itu muncul. Bukan karena cinta hilang seketika, melainkan karena hubungan perlahan kehilangan makna emosionalnya.
Perselingkuhan bukan jalan keluar
Namun, Belenggu juga memberikan pelajaran penting bahwa perselingkuhan tidak pernah menjadi solusi atas kehampaan batin.
Hubungan Sukartono dengan Yah justru membuatnya semakin terjebak dalam konflik. Ia berada di antara rasa nyaman, rasa bersalah, dan kebingungan terhadap dirinya sendiri. Tidak ada pihak yang benar-benar bahagia. Semua tokoh dalam novel itu sama-sama terluka oleh pilihan yang mereka ambil.
Pesan inilah yang masih relevan hingga sekarang. Orang ketiga mungkin hadir karena ada ruang kosong dalam hubungan, tetapi kehadirannya tidak otomatis menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ia sering melahirkan luka baru yang lebih rumit.
Baca juga: Putus Cinta Bukan Akhir Dunia: Belajar dari Hanafi dan Kasus Pemuda Tasikmalaya
Belajar dari novel Belenggu
Kasus yang ramai dibicarakan publik hari ini semestinya menjadi pengingat bahwa rumah tangga tidak cukup dibangun oleh status, pencapaian, atau citra harmonis di depan publik.
Hubungan membutuhkan komunikasi yang jujur, perhatian yang konsisten, dan kesediaan untuk memahami kebutuhan emosional pasangan. Sebab, banyak hubungan tidak hancur karena hilangnya cinta, melainkan karena dua orang perlahan berhenti saling mendengarkan.
Melalui Belenggu, Armijn Pane mengingatkan bahwa manusia bisa tampak berhasil dari luar, tetapi rapuh di dalam dirinya sendiri. Dan mungkin, pelajaran terbesar dari berbagai kasus rumah tangga yang viral hari ini adalah bahwa yang paling berbahaya bukan selalu hadirnya orang ketiga, melainkan kesepian yang terlalu lama dibiarkan tumbuh di antara dua orang yang pernah saling mencintai.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














