Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Sering berkunjung ke Malaysia dan telah menuntaskan penjelajahan di Kuala Lumpur, Penang, hingga Melaka, membuat saya merasa perlu merencanakan perjalanan ke destinasi baru: Ipoh. Ada dua hal utama yang memantik rasa penasaran saya. Pertama, Ipoh memiliki kawasan kota tua (old town) yang terawat molek. Kedua, khazanah kulinernya memiliki karakter unik yang berbeda dari wilayah Malaysia lainnya. Apalagi di Jakarta belakangan ini, restoran-restoran yang menyajikan menu khas Ipoh mulai menjamur. Orang Jakarta tak lagi hanya akrab dengan nasi lemak atau laksa penang.
Perburuan tiket kereta api ETS—yang konon menjadi moda transportasi paling nyaman dari Kuala Lumpur menuju Ipoh—pun dimulai. Namun apa daya, rencana ini dibuat cukup mendadak di sela-sela waktu luang seusai acara. Jadwal keberangkatan yang saya bidik adalah Sabtu dan kembali pada hari Minggu. Karena akhir pekan merupakan puncak pergerakan wisatawan ke Ipoh, saya pun harus gigit jari karena kehabisan tiket.
Pilihan kedua yang cukup praktis sebenarnya adalah menyewa taksi. Jarak Kuala Lumpur ke Ipoh berkisar 205 kilometer—mirip jarak Jakarta ke Cirebon—yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam. Namun, opsi ini sengaja saya tepuk: selain merogoh kocek lebih dalam, naik taksi terasa kurang berseri karena menghilangkan denyut autentik perjalanan di Tanah Melayu. Opsi paling merakyat dan membumi akhirnya jatuh pada bus umum.
Baca juga: Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan
Ada dua titik keberangkatan utama, yaitu Terminal Bersepadu Selatan (TBS) dan Terminal KL Sentral. Saya memutuskan berangkat dari KL Sentral karena lokasinya terbilang dekat dengan hotel tempat saya menginap. Bus bergaya konfigurasi kursi 1-2 yang saya tumpangi perlahan meluncur meninggalkan pusat Kota Kuala Lumpur. Pemandangan awal didominasi oleh deretan gedung pencakar langit—di kejauhan, tampak siluet Merdeka 118, menara baru yang memegang predikat sebagai gedung tertinggi kedua di dunia. Bus terus melaju menembus jalan layang bertingkat dan kawasan pemukiman padat.
Menembus Perkampungan, Bukit Kapur, dan Danau Bekas Tambang

Saat bus memasuki jalan tol ke arah utara, lanskap visual di luar jendela mulai berganti kulit. Kepadatan metropolitan perlahan melunak, menggeliat menjadi hamparan ladang dan pepohonan hijau. Bus kemudian membelah perkebunan kelapa sawit yang membentang luas hingga ke kaki perbukitan di garis horison. Sesekali, perjalanan diwarnai oleh lanskap kawasan industri, pemukiman kota kecil, serta pedesaan yang menyajikan denyut kehidupan kontras dari riuk-pikuk ibu kota.
Tiga jam berlalu, bus mulai mendekati garis Kota Ipoh. Pemandangan luar berubah kian dramatis. Di balik jendela kaca, bentang perbukitan batu kapur berdiri megah di sisi jalan. Tebing-tebing kapur yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu ini menandai bahwa kami telah memasuki Lembah Kinta—sebuah kawasan yang pada masa lampau merupakan pusat pertambangan timah terbesar di dunia. Di kaki-kaki bukit tersebut, hamparan pepohonan rindang menyelimuti danau-danau berair tenang. Danau-danau cantik ini dulunya adalah ceruk bekas galian tambang yang kini telah menghijau dan menyatu secara alami dengan lanskap kota.
Di kejauhan, atap-atap kuil tampak menyempil anggun di balik celah tebing kapur. Inilah keunikan khas Ipoh yang lahir dari sejarah panjang industri timah, sebuah pemandangan eksotis yang sulit dijumpai di kota-kota Malaysia lainnya.
Sinyal perkotaan mulai tampak. Bangunan komersial, pemukiman, dan rumah toko (ruko) berjejer bergantian. Bus perlahan masuk dan mendarat di Terminal Amanjaya, terminal bus utama di Kota Ipoh. Begitu menginjakkan kaki di dalam terminal, terasa konsep arsitektur modern yang diusungnya. Ada pemisahan area yang sangat tertata antara peron bus, ruang tunggu, dan zona komersial.
Saya segera memesan taksi daring menuju Stasiun Kereta Api Ipoh. Mengapa ke sini? Sebab jika saja tiket kereta ETS berhasil didapatkan, di sinilah saya seharusnya menjejakkan kaki pertama kali. Stasiun ini merupakan salah satu bangunan kolonial paling ikonik di Ipoh sekaligus titik mula paling pas untuk memulai penjelajahan di kota tua.
Stasiun Ipoh: Kemegahan Taj Mahal of Ipoh yang Terawat

Stasiun Kereta Api Ipoh merupakan monumen warisan kolonial yang memukau. Resmi dibuka pada tahun 1917, bangunan ini mengusung gaya arsitektur Indo-Saracenic—sebuah peleburan harmonis antara elemen Mughal India, Klasik Eropa, dan sentuhan estetika Islam. Aliran arsitektur ini kerap dipakai pada bangunan pemerintahan Inggris di Asia karena mampu menghadirkan kesan megah namun tetap adaptif dengan iklim tropis.
Fasad stasiun tampil simetris dengan balutan warna putih bersih yang memberi kesan monumental yang anggun. Di bagian depan, deretan kolom kokoh berdiri menopang serambi yang memanjang. Bangunan bagian tengah menjadi fokus utama berkat kubah raksasa yang menjulang, diapit oleh kubah-kubah berukuran lebih kecil di sisi kiri dan kanannya, membuat siluet stasiun ini mudah dikenali dari kejauhan.
Bila dicermati lebih dekat, tampak lengkungan-lengkungan (arches) berbentuk tapal kuda khas arsitektur Mughal. Elemen lengkung ini tidak sekadar mempercantik estetika, tetapi juga berfungsi sebagai bukaan cahaya serta sirkulasi udara alami. Tak heran, area interior stasiun senantiasa terasa terang dan sejuk.
Di kedua sisi bangunan, berdiri menara-menara kecil beratap kubah yang makin memperkuat simetrisitas gaya Indo-Saracenic. Perpaduan kubah, menara, kolom, dan lengkungan berbalut cat putih anggun inilah yang membuat Stasiun Ipoh dijuluki sebagai “Taj Mahal of Ipoh”.
Interior stasiun dirancang dengan langit-langit tinggi untuk menciptakan ruang yang lapang. Kendati telah tersentuh modernisasi guna menunjang fasilitas kereta api masa kini, karakter historisnya tetap terjaga dengan sangat baik. Pengunjung masih bisa meresapi atmosfer nostalgia keemasan Ipoh sebagai pusat peradaban timah pada awal abad ke-20.
Kopi Putih dan Dua Telur Setengah Matang

Ipoh memegang reputasi mentereng sebagai salah satu surga kuliner terbaik di Malaysia. Kemasyhuran ini berakar dari perjumpaan tiga budaya: Melayu, China, dan India. Gelombang kedatangan pekerja dari Guangdong dan Hakka yang bertemu dengan para pedagang dari India Selatan di masa perburuan timah melahirkan perpaduan kuliner khas yang resepnya dipertahankan lintas generasi.
Kini, kuliner Ipoh telah merambah ranah internasional. Di Jakarta saja, kita mulai sering menemui restoran bergaya Ipoh. Masakan Ipoh tak cuma unggul dalam racikan bumbu, tetapi juga kualitas bahan bakunya. Kesuburan tanah Lembah Kinta yang mengapit kota dipercaya menghasilkan beras yang lebih pulen serta sayur-mayur yang lebih segar. Salah satu produk kebanggaannya adalah tauge yang gurih dan renyah, membuat ragam olahan tauge begitu melekat dengan identitas kuliner Ipoh.
Saya pun tak ingin melewatkan kesempatan untuk meresapi ritual sarapan khas Ipoh. Bagi warga lokal, sarapan bukan sekadar pengisi perut di pagi hari, melainkan tradisi kebudayaan yang terus diwariskan.
Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan
Saya mengambil tempat di sebuah meja sudut pada kafe kecil yang tertata rapi. Sembari mengamati suasana pagi, saya menimbang pilihan menu. Semuanya merupakan jejak peninggalan dari para pekerja dan pedagang yang pernah mengadu nasib di kota pertambangan ini sejak era kesultanan hingga zaman kolonial.
Pilihan saya akhirnya jatuh pada menu sarapan paling ikonik: Ipoh White Coffee. Kopi khas ini diproses unik dari biji kopi yang disangrai bersama margarin, menghasilkan aroma karamel yang khas serta karakter rasa kopi yang lebih lembut dan gurih di lidah. Agar makin mantap, saya menyandingkan secangkir kopi putih hangat ini dengan roti bakar srikaya (roti kaya) dan dua butir telur setengah matang.
Secangkir Ipoh White Coffee yang harum, roti kaya yang manis renyah, serta dua butir telur setengah matang kini telah tersaji di atas meja.
Mari sarapan!
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







