Sri Tidak Sedang Mencari Cinta, Ia Sedang Mencari Rumah yang Hilang: Mother Wound dalam Pada Sebuah Kapal

novel pada sebuah kapal

Oleh: Najma Kamila Safithri, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mata Akademisi, Milenianews.com – Beberapa tahun terakhir, istilah mother wound, inner child, dan generational trauma semakin sering muncul di media sosial. Istilah-istilah ini tidak lagi terdengar asing, terutama bagi generasi muda yang mulai menyadari bahwa luka emosional di masa dewasa sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang tidak sepenuhnya aman atau hangat.

Kesadaran ini tidak muncul tanpa alasan. Berbagai survei kesehatan mental pada remaja menunjukkan bahwa jutaan anak muda menghadapi tantangan psikologis, dengan relasi keluarga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Sejumlah penelitian psikologi juga menegaskan bahwa kualitas keterikatan (attachment) dengan orang tua memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan cara seseorang membangun hubungan di masa dewasa.

Baca juga: Novel Belenggu Mengingatkan bahwa Diam Kadang Lebih Menyakitkan daripada Pertengkaran

Akar Kegelisahan Sri dalam Novel Nh. Dini

Fenomena tersebut terasa relevan ketika membaca Sri, tokoh utama dalam novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini. Selama ini, Sri sering dipahami sebagai perempuan yang terjebak dalam pernikahan yang tidak membahagiakan. Namun jika ditarik lebih jauh, kegelisahan itu tampaknya tidak lahir begitu saja di masa dewasa.

Sejak kecil, Sri tumbuh dengan perasaan tidak sepenuhnya diinginkan dalam keluarga. Hal ini terlihat dari pengakuannya:

“Rupa-rupanya aku adalah anak yang tidak dikehendaki dalam keluarga. Ini kuketahui dari ibuku yang sering mengutukku dengan kalimat-kalimatnya yang tidak menyenangkan sejak kecilku.”

Kalimat ini memperlihatkan fondasi psikologis yang rapuh sejak awal: seorang anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa keberadaannya tidak sepenuhnya diterima. Dalam banyak kasus, pengalaman seperti ini tidak berhenti di masa kecil, tetapi ikut terbawa hingga dewasa dan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Manifestasi Mother Wound yang Terbawa hingga Dewasa

Ibu Sri bukan digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya jahat. Ia lebih tepat dibaca sebagai figur yang keras, sibuk, dan tidak selalu memiliki ruang emosional untuk memberikan kelembutan yang dibutuhkan anak.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan mother wound, yaitu luka emosional akibat pola pengasuhan yang minim kelekatan atau dukungan emosional. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat muncul dalam bentuk harga diri yang rendah, kebutuhan validasi, hingga kesulitan membangun relasi yang sehat di masa dewasa.

Penelitian Peg Streep, penulis dan peneliti dari University of Pennsylvania dan Columbia University, menunjukkan bahwa pengalaman “tidak dicintai” oleh ibu dapat meninggalkan jejak psikologis jangka panjang. Bahkan di usia dewasa, suara kritik dari masa kecil sering kali tetap hidup dalam bentuk dialog internal yang merendahkan diri sendiri.

Sri digambarkan tumbuh dengan beban semacam itu. Ia sempat menemukan kehangatan pada ayahnya, tetapi kehilangan itu datang terlalu cepat ketika sang ayah meninggal saat ia masih remaja. Sejak saat itu, ada kekosongan emosional yang tidak benar-benar terisi.

Kekosongan Jiwa dan Makna Hubungan di Atas Kapal

Sri kemudian menikah dengan Saputro, bukan karena cinta, melainkan karena ketidakmampuan untuk menolak. Pernikahan itu tidak menghadirkan kedekatan emosional yang ia butuhkan. Ia tetap merasa kosong, seolah hidup dalam hubungan yang formal tetapi tidak hangat.

Di titik inilah pertemuannya dengan Michel, seorang pria Prancis di atas kapal, menjadi penting dalam struktur emosional cerita. Hubungan itu bukan sekadar kisah perselingkuhan, melainkan momen ketika Sri untuk pertama kalinya merasa benar-benar dilihat dan diterima.

Melalui Sri, Nh. Dini memperlihatkan bahwa luka masa kecil tidak otomatis hilang ketika seseorang tumbuh dewasa. Luka itu sering kali ikut membentuk cara seseorang mencintai, memilih, dan memahami hubungan.

Sri sendiri pernah mengatakan:

“Aku tidak pernah merasai adanya hubungan yang lebih dalam daripada rasa hormat.”

Kalimat ini menegaskan jarak emosional yang sudah lama hadir dalam hidupnya, bahkan dalam relasi keluarga. Ada rasa hormat, tetapi tidak ada kehangatan yang membuat seseorang merasa aman secara emosional.

Relevansi dengan Realitas Hari Ini

Di sinilah Pada Sebuah Kapal terasa tetap relevan. Banyak kajian psikologi modern menunjukkan bahwa individu yang tumbuh tanpa kelekatan emosional yang sehat dengan orang tua berisiko mengalami kesulitan dalam membangun hubungan di masa dewasa.

Mereka tidak selalu sedang mencari cinta dalam arti romantis. Sering kali, yang mereka cari adalah rasa aman, validasi, atau “rumah emosional” yang tidak mereka dapatkan di masa kecil.

Baca juga: Potret Kelam Intoleransi yang Masih Menghantui: Membaca Kembali Novel Maryam

Pada akhirnya, novel ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa hubungan manusia tidak pernah sesederhana cerita cinta atau pernikahan. Di baliknya, ada lapisan-lapisan luka yang dibawa sejak lama, yang kadang tidak terlihat, tetapi terus memengaruhi cara seseorang menjalani hidup.

Sebab pada akhirnya, tidak semua orang dewasa sedang mencari cinta. Sebagian dari mereka mungkin hanya sedang mencari rumah yang dulu tidak sempat mereka miliki.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *