Bukan Jahat, Tapi Salah Asuhan: Toxic Masculinity Hanafi yang Masih Hidup Sampai Hari Ini

novel salah asuhan

Oleh: Aurellia Sarah Gunawan, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pernah tidak, kita begitu terpukau pada budaya lain sampai merasa semuanya tampak lebih baik daripada budaya sendiri? Cara hidupnya terlihat modern, pola pikirnya terasa lebih maju, bahkan gaya bicaranya terdengar lebih menarik. Kekaguman semacam itu sebenarnya wajar. Masalah muncul ketika kekaguman berubah menjadi pemujaan.

Itulah yang terjadi pada Hanafi, tokoh utama dalam novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Ia begitu mengagungkan budaya Barat hingga perlahan kehilangan pijakan atas identitasnya sendiri. Kekaguman yang semula tampak biasa akhirnya berkembang menjadi sikap yang merugikan banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Baca juga: Ketika Identitas Jadi Tersangka: Dari Student Hidjo hingga Diskriminasi Muslim di Amerika

Ketika identitas diri menjadi musuh

Hanafi tumbuh di Minangkabau bersama ibunya tanpa kehadiran seorang ayah. Ia memperoleh kesempatan bersekolah di HBS, sekolah elite Belanda pada masa kolonial. Dari sana, Hanafi tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi juga menyerap nilai, cara pandang, dan standar kehidupan Barat.

Persoalannya, Hanafi menerima semua itu tanpa proses kritis. Ia mulai memandang budaya asalnya sebagai sesuatu yang kuno dan tidak layak dipertahankan. Dalam pikirannya, menjadi modern berarti meninggalkan identitas yang dimiliki sejak lahir.

Di sinilah letak makna “salah asuhan” yang ingin disampaikan Abdul Muis. Bukan semata tentang siapa yang membesarkan Hanafi, melainkan tentang bagaimana proses pendidikan dan lingkungan membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri. Hanafi tumbuh menjadi pribadi yang asing terhadap akar budayanya sendiri.

Mencintai atau menguasai?

Krisis identitas Hanafi kemudian memengaruhi cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya, terutama perempuan.

Rapiah, perempuan yang dipilihkan ibunya untuk menjadi istri, sebenarnya digambarkan sebagai sosok yang baik, setia, dan terdidik. Namun, bagi Hanafi, Rapiah justru menjadi simbol dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan. Ia tidak menolaknya karena kebencian, melainkan karena Rapiah dianggap tidak sesuai dengan citra diri baru yang sedang ia bangun.

Sebaliknya, Corrie du Bussee hadir sebagai representasi dunia yang selama ini ia kagumi. Corrie bukan hanya perempuan yang dicintainya, tetapi juga simbol keberhasilan menjadi “orang Barat”.

Di titik inilah karakter Hanafi menunjukkan sisi yang hari ini sering disebut sebagai toxic masculinity. Ia tidak benar-benar mencintai orang lain sebagai individu yang utuh. Ia mencintai apa yang bisa diberikan orang tersebut kepada citra dirinya.

Corrie menjadi semacam trofi yang membuktikan bahwa dirinya berhasil naik kelas secara sosial dan budaya. Ketika harapan itu tidak berjalan sesuai keinginannya, Hanafi lebih mudah menyalahkan orang lain daripada melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.

Toxic masculinity yang tidak selalu berwujud kekerasan

Banyak orang memahami toxic masculinity hanya sebagai perilaku kasar, dominan, atau agresif. Padahal bentuknya bisa jauh lebih halus.

Hanafi tidak selalu tampil sebagai sosok yang brutal. Namun ia menunjukkan ciri-ciri lain yang sama bermasalahnya: merasa paling benar, sulit mengakui kesalahan, merendahkan orang yang dianggap tidak setara, dan menjadikan perempuan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya.

Sikap seperti ini masih mudah ditemukan hingga sekarang. Tidak sedikit orang yang menjalin hubungan bukan karena ingin bertumbuh bersama, melainkan karena ingin mendapatkan validasi. Pasangan dijadikan alat untuk meningkatkan status sosial, membangun citra diri, atau mengisi kekosongan batin yang tidak pernah diselesaikan.

Ketika hubungan gagal, yang muncul bukan evaluasi diri, melainkan kemarahan kepada keadaan dan orang lain.

Hanafi-Hanafi zaman sekarang

Akhir kisah Hanafi menjadi ironi yang menyakitkan. Semua yang ia kejar justru hilang dari genggamannya. Corrie meninggal dunia, Rapiah telah ia sia-siakan, dan dirinya berakhir dalam kesepian yang penuh penyesalan.

Namun kekuatan Salah Asuhan justru terletak pada relevansinya. Meski ditulis lebih dari satu abad lalu, Hanafi masih hidup di sekitar kita.

Ia hadir dalam sosok yang terlalu sibuk membangun citra diri di media sosial. Hadir pada mereka yang mencintai dengan syarat. Hadir pada orang-orang yang mengukur harga dirinya dari pengakuan orang lain.

Karena itu, membaca Salah Asuhan hari ini bukan sekadar membaca novel tentang kolonialisme. Novel ini juga menjadi cermin untuk melihat bagaimana krisis identitas dapat melahirkan relasi yang tidak sehat dan bagaimana pengakuan sosial sering kali lebih dicari daripada kedewasaan emosional.

Baca juga: Putus Cinta Bukan Akhir Dunia: Belajar dari Hanafi dan Kasus Pemuda Tasikmalaya

Sebelum terlambat belajar dari Hanafi

Dari Hanafi, kita belajar bahwa seseorang tidak harus menjadi jahat untuk menyakiti orang lain. Kadang-kadang, luka justru lahir dari ketidakmampuan memahami diri sendiri.

Toxic masculinity tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang terlihat jelas. Ia bisa muncul dalam bentuk ego yang rapuh, ketidakmampuan menerima kenyataan, serta kebiasaan menjadikan orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan diri.

Karena itu, pertanyaan penting setelah menutup novel Salah Asuhan bukan lagi siapa yang salah mengasuh Hanafi. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup berani melihat diri sendiri dan memastikan bahwa sedikit Hanafi yang mungkin ada dalam diri kita tidak tumbuh semakin besar?

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *