Oleh: Muhammad Baqier Kaisy, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Novel Belenggu karya Armijn Pane dikenal sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang banyak mengangkat persoalan psikologis dan kompleksitas hubungan manusia. Di balik kisah rumah tangga yang ditampilkan, novel ini menyimpan refleksi yang masih relevan hingga saat ini, terutama mengenai fenomena yang dalam konteks modern sering disebut sebagai silent divorce atau perceraian diam-diam.
Fenomena tersebut tercermin melalui hubungan rumah tangga dr. Sukartono atau Tono dengan istrinya, Sumartini atau Tini. Meskipun keduanya masih terikat dalam status pernikahan yang sah, hubungan mereka mengalami kerenggangan emosional akibat kurangnya komunikasi dan perbedaan cara pandang terhadap kehidupan. Rumah tangga yang seharusnya menjadi ruang untuk berbagi pikiran, perasaan, dan tujuan hidup justru berubah menjadi tempat yang menghadirkan jarak di antara keduanya.
Baca juga: Putus Cinta Bukan Akhir Dunia: Belajar dari Hanafi dan Kasus Pemuda Tasikmalaya
Kondisi tersebut terlihat dalam kegelisahan yang dirasakan Tono terhadap pernikahannya.
“Kata orang kawin itu bersatu pikiran, bersatu tujuan, rupanya setelah nikah, berlainan paham juga, masing-masing hidup sendiri.” (hlm. 39)
Kutipan tersebut menunjukkan kekecewaan Tono terhadap realitas yang ia hadapi. Ia menyadari bahwa pernikahan tidak selalu mampu menyatukan dua individu secara utuh. Alih-alih hidup dalam kebersamaan, Tono dan Tini justru menjalani kehidupan masing-masing tanpa adanya kesepahaman yang kuat.
Dalam konteks inilah, silent divorce mulai terlihat. Pasangan masih hidup dalam satu rumah dan mempertahankan status suami istri, tetapi ikatan emosional yang menjadi fondasi hubungan perlahan memudar. Secara fisik mereka bersama, tetapi secara emosional mereka berjalan di jalur yang berbeda.
Ketika Komunikasi Tidak Lagi Menjadi Jembatan
Kerenggangan tersebut semakin terlihat melalui perubahan pola komunikasi yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
“Isteriku hidup sendiri. Dahulu kalau hendak kemana-mana selalu dikatakannya dahulu, kalau aku tiada di rumah ditinggalkannya surat mengatakan kemana dia. Sekarang entahlah.” (hlm. 39)
Kutipan ini memperlihatkan bahwa komunikasi yang sebelumnya terjalin baik antara Tono dan Tini perlahan memudar. Tini tidak lagi merasa perlu berbagi aktivitas atau keberadaannya kepada Tono sebagaimana yang dahulu ia lakukan. Perubahan kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan hilangnya kedekatan emosional dalam hubungan mereka.
Komunikasi bukan sekadar bertukar informasi. Dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah cara pasangan saling memahami kebutuhan, kekhawatiran, dan perasaan satu sama lain. Ketika komunikasi berhenti berfungsi sebagai jembatan, yang muncul justru kesalahpahaman, keterasingan, dan kesepian.
Novel Belenggu menunjukkan bahwa keretakan hubungan tidak selalu ditandai oleh pertengkaran besar atau konflik yang meledak-ledak. Ada kalanya hubungan retak secara perlahan, hampir tanpa suara. Pasangan tetap tinggal bersama, menjalankan rutinitas yang sama, dan mempertahankan status pernikahan, tetapi kehilangan kehangatan yang membuat hubungan itu bermakna.
Relevan dengan Persoalan Hubungan Masa Kini
Apa yang dialami Tono dan Tini terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan saat ini. Banyak hubungan yang tampak baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya menyimpan jarak emosional yang cukup dalam.
Salah satu contoh yang sempat menjadi perhatian publik adalah perceraian pasangan selebritas Faby Marcelia dan Revand Narya pada 2024 setelah menjalani pernikahan selama sebelas tahun. Salah satu faktor yang dikaitkan dengan keretakan hubungan mereka adalah kebiasaan silent treatment, yaitu sikap mendiamkan pasangan ketika terjadi masalah.
Alih-alih menyelesaikan konflik melalui komunikasi yang terbuka, masalah justru dipendam dan dibiarkan menumpuk. Akibatnya, jarak emosional semakin melebar hingga hubungan menjadi sulit dipertahankan.
Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan hubungan Tono dan Tini. Keduanya menunjukkan bahwa komunikasi yang memburuk dapat menciptakan keterasingan emosional yang semakin besar. Ketika pasangan tidak lagi saling mendengarkan, memahami, dan mengungkapkan perasaan mereka, hubungan perlahan kehilangan makna kedekatan yang sesungguhnya.
Baca juga: Bukan Jahat, Tapi Salah Asuhan: Toxic Masculinity Hanafi yang Masih Hidup Sampai Hari Ini
Armijn Pane dan Kritik atas Hubungan yang Kehilangan Percakapan
Melalui penggambaran hubungan Tono dan Tini, Armijn Pane tidak hanya menghadirkan persoalan rumah tangga pada zamannya, tetapi juga menunjukkan realitas hubungan manusia yang bersifat universal. Meskipun novel ini terbit puluhan tahun lalu, persoalan yang diangkat masih terasa relevan hingga sekarang.
Novel Belenggu mengingatkan bahwa keharmonisan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dua orang dalam satu ikatan pernikahan. Keharmonisan juga ditentukan oleh kemampuan mereka untuk tetap saling mendengar, memahami, dan berbicara satu sama lain.
Pada akhirnya, pernikahan tidak selalu berakhir ketika surat cerai ditandatangani. Dalam beberapa kasus, pernikahan bisa kehilangan maknanya jauh sebelum perceraian terjadi. Melalui kisah Tono dan Tini, Belenggu mengajak pembaca memahami bahwa komunikasi yang terbuka, jujur, dan saling menghargai merupakan fondasi penting untuk menjaga kedekatan emosional serta mencegah munculnya silent divorce dalam sebuah hubungan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














