Oleh: Mefta Maudia, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Seorang pemuda berinisial MSH (21) ditemukan tergeletak pingsan di pinggir Jalan Mangin, Kampung Rancakukun, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Ia diduga mencoba mengakhiri hidup dengan meminum racun tikus yang dicampur kopi setelah mengalami depresi akibat putus cinta.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah hubungan yang berakhir. Kasus tersebut menunjukkan bagaimana kehilangan seseorang dapat menjadi pukulan emosional yang sangat berat, terutama ketika hubungan asmara telah menjadi pusat kehidupan seseorang.
Di era media sosial, cinta sering diposisikan sebagai sumber utama kebahagiaan. Banyak anak muda merasa hidupnya lengkap ketika memiliki pasangan dan merasa gagal ketika hubungan itu berakhir. Tidak heran jika putus cinta kerap dipandang sebagai akhir dari segalanya.
Baca juga: Ketika Identitas Jadi Tersangka: Dari Student Hidjo hingga Diskriminasi Muslim di Amerika
Hanafi dan kehilangan jati diri
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sastra Indonesia telah lama merekam persoalan serupa melalui novel Salah Asuhan karya Abdul Muis.
Tokoh Hanafi dalam novel tersebut jatuh cinta kepada Corrie du Bussee, perempuan berdarah Eropa yang dianggap mewakili modernitas sekaligus status sosial yang lebih tinggi. Namun, perasaan Hanafi tidak berhenti pada rasa cinta. Ia menggantungkan harga diri, kebanggaan, bahkan makna hidupnya pada hubungan tersebut.
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan membuat Hanafi perlahan menjauh dari identitasnya sendiri. Ia merasa rendah sebagai pribumi dan berusaha menjadi seperti orang Eropa agar diterima oleh Corrie. Dalam proses itu, cinta tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya, melainkan menjadi seluruh hidupnya.
Kisah Hanafi memperlihatkan bagaimana seseorang dapat kehilangan arah ketika terlalu menggantungkan kebahagiaan dan nilai dirinya kepada orang lain.
Ketika cinta menjadi satu-satunya sandaran
Di titik inilah kisah Hanafi terasa relevan dengan kasus yang terjadi di Tasikmalaya. Ketika seseorang menjadikan hubungan asmara sebagai satu-satunya tempat bergantung secara emosional, kehilangan pasangan dapat terasa seperti kehilangan diri sendiri.
Kesedihan yang semestinya dapat dilalui perlahan berubah menjadi kehampaan. Rasa kehilangan yang wajar berkembang menjadi perasaan putus asa karena tidak ada lagi sumber makna lain dalam hidupnya.
Banyak anak muda saat ini mengalami kondisi serupa. Mereka membangun rasa percaya diri melalui hubungan asmara. Mereka merasa berharga ketika dicintai dan merasa hancur ketika ditinggalkan.
Media sosial sering memperkuat keadaan tersebut. Hubungan bukan hanya soal kedekatan emosional, tetapi juga menjadi sarana validasi sosial. Unggahan romantis, perhatian pasangan, hingga status hubungan sering dijadikan ukuran kebahagiaan.
Akibatnya, putus cinta tidak hanya dipahami sebagai berakhirnya hubungan, tetapi juga dianggap sebagai kegagalan hidup.
Pelajaran dari salah asuhan
Kasus MSH menunjukkan bahwa kesehatan mental yang berkaitan dengan relasi asmara masih menjadi persoalan serius di kalangan anak muda. Sayangnya, patah hati sering dianggap masalah sepele yang cukup diatasi dengan nasihat sederhana seperti “move on” atau “cari yang baru”.
Padahal, bagi sebagian orang, kehilangan cinta dapat memicu krisis emosional yang sangat mendalam. Ketika seseorang tidak memiliki dukungan sosial yang cukup, luka tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya.
Melalui Salah Asuhan, Abdul Muis seolah mengingatkan bahwa manusia yang kehilangan pegangan hidup akan lebih mudah runtuh oleh luka emosional. Hanafi menjadi simbol seseorang yang tersesat karena terlalu menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Karena itu, kasus Tasikmalaya seharusnya menjadi pengingat bahwa anak muda membutuhkan ruang emosional yang sehat. Mereka membutuhkan keluarga yang mau mendengar, lingkungan yang tidak mudah menghakimi, serta kesadaran bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh keberhasilan hubungan asmara.
Baca juga: Ketika Nabi Ibrahim Mengajarkan bahwa Cinta kepada Allah Harus Mengalahkan Segalanya
Jangan jadikan satu orang sebagai seluruh hidupmu
Pada akhirnya, cinta memang penting dalam kehidupan manusia. Namun, cinta seharusnya menjadi bagian dari hidup, bukan seluruh hidup itu sendiri.
Ketika seseorang memiliki tujuan hidup, hubungan sosial yang sehat, serta penghargaan terhadap dirinya sendiri, kehilangan pasangan memang akan terasa menyakitkan, tetapi tidak sampai meruntuhkan seluruh kehidupannya.
Kasus yang terjadi di Tasikmalaya mengingatkan kita bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hubungan. Sebab, tidak ada hubungan yang layak dibayar dengan hilangnya harapan untuk melanjutkan hidup.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














