Oleh: Zihan Hurriatul Muslimah, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Jakarta kerap hadir dalam karya sastra sebagai simbol kemajuan, kemegahan, sekaligus ketimpangan sosial. Gedung-gedung pencakar langit, lalu lintas yang padat, dan ritme hidup yang serba cepat menjadi gambaran yang melekat pada ibu kota. Namun, KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus menawarkan sudut pandang yang berbeda melalui cerpen Di Jakarta dalam kumpulan cerpen Konvensi. Ia tidak sekadar memotret wajah fisik kota, melainkan mengajak pembaca menyelami persoalan yang lebih dalam, yakni kegersangan spiritual dan lunturnya nilai-nilai kemanusiaan di tengah kehidupan modern.
Melalui cerpen tersebut, Jakarta tampil bukan hanya sebagai latar tempat, melainkan sebagai ruang yang membentuk cara hidup dan cara pandang manusia. Kota besar menjadi arena tempat berbagai ambisi dipertaruhkan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi ruang yang perlahan mengikis kepekaan sosial.
Keterasingan di Tengah Keramaian
Salah satu kekuatan utama cerpen Di Jakarta terletak pada kemampuannya menggambarkan paradoks kehidupan perkotaan. Di tengah keramaian yang tidak pernah berhenti, manusia justru mengalami keterasingan yang mendalam. Mereka hidup berdampingan secara fisik, tetapi semakin jauh secara emosional.
Gus Mus memperlihatkan bagaimana kehidupan kota yang serba cepat membuat manusia terjebak dalam rutinitas tanpa jeda. Kesibukan mengejar pekerjaan, status sosial, dan berbagai tuntutan hidup perlahan mengurangi ruang bagi empati dan kepedulian terhadap sesama. Orang-orang bertemu setiap hari, tetapi tidak benar-benar saling mengenal. Mereka berada dalam keramaian yang sama, namun menjalani kesepian masing-masing.
Melalui penggambaran yang sederhana, Gus Mus seolah ingin mengatakan bahwa modernitas tidak selalu menghadirkan kedekatan. Kemajuan justru dapat melahirkan jarak ketika manusia lebih sibuk mengejar pencapaian pribadi dibanding membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.
Kritik Sosial yang Tidak Menggurui
Sebagai seorang ulama, Gus Mus memiliki otoritas untuk menyampaikan kritik secara langsung terhadap berbagai persoalan sosial. Namun, melalui karya sastra, ia memilih pendekatan yang lebih halus dan reflektif. Kritik yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk ceramah, melainkan melalui potret kehidupan sehari-hari yang terasa dekat dengan pengalaman pembaca.
Kekuatan cerpen ini terletak pada kemampuannya mengajak pembaca berpikir tanpa merasa digurui. Berbagai peristiwa yang tampak biasa justru menyimpan kritik yang tajam terhadap budaya individualisme, materialisme, dan obsesi terhadap status sosial yang semakin menguat dalam kehidupan perkotaan.
Konflik yang dihadirkan pun bukan konflik besar yang penuh ledakan emosi, melainkan pergulatan batin manusia dalam mempertahankan nurani di tengah lingkungan yang semakin pragmatis. Dari sinilah pesan sosial dalam cerpen menjadi terasa kuat dan membekas.
Relevansi di Era Media Sosial
Pesan yang disampaikan dalam Di Jakarta terasa semakin relevan ketika dibaca pada era digital saat ini. Kehidupan modern tidak hanya ditandai oleh kepadatan kota, tetapi juga oleh derasnya arus informasi dan budaya pencitraan di media sosial. Banyak orang berlomba menampilkan kehidupan terbaiknya demi memperoleh pengakuan dan validasi dari publik.
Di tengah fenomena tersebut, cerpen Di Jakarta hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan materi dan pengakuan sosial bukanlah satu-satunya ukuran kebahagiaan. Karya ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna hubungan antarmanusia, kepedulian sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sering terabaikan.
Pertanyaan yang diajukan Gus Mus melalui cerpen ini masih relevan hingga hari ini: apakah segala pencapaian yang diraih akan bermakna jika manusia kehilangan kepekaan terhadap sesamanya?
Baca juga: Ketika Cinta Tak Lagi Sesederhana Memiliki: Membaca Cerpen Ave Maria Karya Idrus
Pada akhirnya, Di Jakarta bukan sekadar cerita tentang kehidupan di ibu kota. Cerpen ini merupakan kritik sosial sekaligus refleksi kemanusiaan yang mengajak pembaca melihat sisi lain dari modernitas. Melalui kisah yang sederhana, Gus Mus menghadirkan cermin bagi masyarakat urban untuk menilai kembali arah kehidupan yang sedang dijalani.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan kompetitif, pesan yang dibawa cerpen ini terasa penting untuk terus diingat: bahwa setinggi apa pun ambisi yang ingin dicapai, manusia tetap membutuhkan empati, kepedulian, dan kemampuan untuk memanusiakan manusia lainnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














