Oleh: Nisrina Nabila Putri Pebri, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Pernahkah Anda mendengar atau mungkin mengucapkan kalimat, “Gapapa, santai aja”? Pada era digital dan masifnya penggunaan media sosial saat ini, sepenggal kalimat tersebut sangat sering berkelindan di telinga kita. Tanpa disadari, kita pun kerap melontarkannya, baik secara sadar maupun spontan. Menariknya, frasa yang awalnya terkesan kasual ini kini sering bertransformasi menjadi takarir (caption) melankolis yang menghiasi berbagai unggahan visual di jagat maya.
Secara denotatif atau berdasarkan makna aslinya, frasa “gapapa” (tidak apa-apa) mengindikasikan ketiadaan masalah, segala sesuatu berjalan baik, atau tidak adanya kerugian yang ditimbulkan. Sementara itu, kata “santai” merujuk pada keadaan yang bebas dari ketegangan, rileks, dan tenang. Kombinasi kedua kata ini idealnya digunakan secara literal dalam situasi-situasi santun yang kasual.
Baca juga: “Spill” Tak Lagi Berarti Tumpah: Ketika Makna Kata Berubah di Media Sosial
Sebagai contoh, ketika seseorang tidak sengaja menyenggol kita di tempat umum lalu meminta maaf, secara refleks kita akan menjawab, “Gapapa, santai aja.” Dalam konteks tersebut, makna yang tersampaikan murni bersifat harfiah: insiden tersebut kecil dan kita tidak merasa terganggu atau marah. Kalimat ini berfungsi sebagai pelumas sosial untuk menjaga harmoni dalam interaksi sehari-hari.
Ranah psikologis dan mekanisme pertahanan diri
Namun, di era modern—khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda—frasa “gapapa, santai aja” telah mengalami perluasan makna yang cukup radikal. Maknanya tidak lagi terbatas pada situasi fisik atau interaksi sosial formal, melainkan meluas ke ranah psikologis internal dan bertindak sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism).
Fenomena ini terlihat jelas ketika frasa tersebut disandingkan dengan narasi yang kontras, seperti kalimat: “bahkan ketika aku berada di titik terhancur sekalipun.” Di sinilah pergeseran makna yang ironis itu terjadi. Dahulu, ungkapan ini menjadi indikator bahwa seseorang benar-benar berada dalam kondisi tenang dan bebas masalah. Sebaliknya, saat ini kalimat tersebut justru sering kali menjadi sinyal artikulatif bahwa seseorang sedang remuk redam, tetapi memilih untuk menyembunyikannya agar tidak membebani orang lain atau demi menghindari impresi rapuh. Perluasan makna ini mengonstruksikan kata “santai” bukan lagi sebagai representasi kondisi nyata, melainkan sebuah target ideal yang ingin dicapai.
Baca juga: Ketika Kata “Wajar” Berubah Menjadi Alat Pembenaran
Antara people pleasing dan estetisasi kerapuhan
Dalam kajian sosiosemantik, terdapat dua faktor utama yang memicu pergeseran makna ini. Faktor pertama adalah merebaknya sindrom people pleasing di tengah tuntutan zaman yang mengharuskan setiap individu untuk selalu tampak tangguh dan tangkas. Dalam pusaran ekspektasi sosial ini, kalimat “gapapa, santai aja” diadopsi sebagai tameng defensif paling aman agar kerapuhan seseorang tidak terendus oleh lingkungan sekitarnya.
Faktor kedua adalah tren media sosial, seperti di platform TikTok, yang sering kali meromantisasi dan mengemas kerapuhan emosional menjadi sebuah kepasrahan yang “estetik”. Melalui konten-konten tersebut, kata “santai” mengalami distorsi makna yang mendalam. Ia tidak lagi berarti rileks tanpa beban, melainkan telah bergeser menjadi sebuah bentuk kepasrahan fatalistik terhadap badai kehidupan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








