Karya: Senjatigapuluhjuni
Duniaku runtuh tanpa suara,
di bawah telunjuk mereka yang pandai bersandiwara.
Akulah dermaga tempat menepi ketika badai datang,
namun kini akulah nakhoda yang dituding buat kapal karam.Betapa lucunya komedi yang mereka mainkan,
membenci untuk mencintai, membuang untuk merayakan.
Kutarik ke tengah panggung yang asing,
dihujani tuduhan, sedang mereka tertawa dalam hening.Bagaimana ku bisa memikul beban yang tak kupunya?
Bagaimana ku bisa menjadi jahat dalam narasi yang dibuat-buat?
Momen-momen itu kini mati, membusuk di tangan mereka,
dibuang ke tumpuk sampah, seolah bayangan tanpa raga.Akulah tumbal untuk perdamaian busuk,
diadu domba agar mereka kembali berpeluk.
Sesak ini mencekik, buntu tanpa satu pun pintu,
melihat jujurku dibalas dengan fitnah yang membatu.Tuhan, jika diamku adalah luka paling dalam,
biarlah air mata bicara pada sunyi malam.
Sebab ku tak punya lagi kata untuk sekadar justifikasi,
di hadapan mereka yang tega membunuh hati paling murni.










