Pesantren Jangan Sampai Jadi Sekadar Sekolah yang Kebetulan Punya Sarung: Membangkitkan Lagi Seni, Budaya, dan Tradisi sebagai Ruhnya

pesantren

Oleh: Fahmi Arif El Muniry, Anggota Lembaga Seni-Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia

Mata Akademisi, Milenianews.com – Di banyak pesantren di Indonesia, malam tidak benar-benar sunyi. Dari sudut musala terdengar lantunan selawat yang mengalun pelan. Di serambi asrama, beberapa santri menabuh hadrah dengan ritme yang teratur. Di ruang lain, ada yang tekun menyalin kaligrafi dengan sapuan tangan yang sabar dan hati-hati. Sementara di ruang pengajian, nadhom dan syi’ir dilafalkan berulang hingga melekat dalam ingatan.

Pemandangan semacam ini bukan sekadar romantisme kehidupan pesantren. Di situlah sesungguhnya pendidikan bekerja dalam bentuk yang paling hidup. Nilai tidak hanya diajarkan lewat ceramah dan kitab, tetapi ditanamkan melalui rasa, kebiasaan, dan pengalaman sehari-hari.

Karena itu, ketika negara menghadirkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan memperkuatnya lewat kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren, publik tentu patut mengapresiasi langkah tersebut. Negara mulai menempatkan pesantren sebagai lembaga penting dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: Santri di Era Digital: Menjaga Jati Diri Pesantren di Tengah Arus Zaman

Namun di tengah perkembangan itu, ada satu sisi pesantren yang tampaknya belum benar-benar mendapatkan perhatian serius, yaitu seni, budaya, dan tradisi pesantren itu sendiri. Padahal justru di sanalah ruh pesantren tumbuh.

Pesantren tidak pernah hanya soal belajar kitab

Pesantren sejak awal bukan hanya tempat transfer ilmu atau ta’lim. Ia adalah ruang pembentukan jiwa, pembiasaan adab, dan latihan menjadi manusia seutuhnya. Pesantren mendidik bukan hanya cara berpikir, tetapi juga cara merasa dan cara hidup.

Masalahnya, ketika kebijakan terlalu sibuk pada aspek administratif dan kelembagaan, pesantren perlahan berisiko terdorong menjadi institusi yang rapi secara sistem, tetapi kering secara makna. Ada kecenderungan bahwa ukuran keberhasilan mulai bergeser pada laporan, sertifikasi, dan tata kelola, sementara dimensi rasa yang selama ini menjadi kekuatan pesantren justru luput diperhatikan.

Di titik inilah seni dan tradisi menjadi penting untuk dibicarakan kembali.

Hadrah dan marawis, misalnya, bukan sekadar pertunjukan musik religius. Di balik irama yang rampak, santri belajar disiplin, kekompakan, dan kemampuan menempatkan diri dalam harmoni bersama. Mereka dilatih mendengar, menunggu, dan menjaga keseimbangan antara suara pribadi dan irama kelompok. Nilai seperti ini sulit dibentuk hanya lewat teori di ruang kelas.

Begitu pula lantunan selawat yang terus hidup di lingkungan pesantren. Tradisi ini bukan hanya rutinitas spiritual, melainkan cara menanamkan mahabbah atau cinta dalam kehidupan sehari-hari. Pesantren memahami bahwa akhlak tidak lahir dari hafalan semata. Ia tumbuh dari rasa yang dipelihara terus-menerus.

Tradisi yang dianggap biasa, padahal menjaga banyak hal

Sastra pesantren seperti nadhom dan syi’ir memiliki fungsi yang jauh lebih dalam dibanding sekadar metode menghafal. Tradisi itu memperlihatkan bahwa ilmu dan keindahan dapat berjalan beriringan. Santri belajar memahami makna sekaligus menikmati estetika bahasa. Di tengah dunia pendidikan yang sering terlalu mekanis, pesantren justru menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi.

Kaligrafi pun demikian. Dalam setiap goresannya ada latihan kesabaran, ketelitian, dan pengendalian diri. Aktivitas yang tampak sederhana itu sejatinya adalah pendidikan karakter dalam bentuk yang paling halus.

Belum lagi tradisi membaca Al-Qur’an dengan langgam dan irama khas pesantren yang berkembang begitu kaya di Indonesia. Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi dihidupkan dalam pengalaman spiritual sehari-hari. Di situ tampak jelas bahwa seni dalam pesantren bukan hiburan tambahan, melainkan bagian dari cara mendidik manusia.

Tradisi pesantren juga memainkan peran sosial yang sangat besar. Tahlilan, yasinan, haul, dan manaqiban sering kali dianggap sebatas ritual rutin. Padahal di balik itu ada ruang perjumpaan sosial yang sangat kuat.

Haul, misalnya, mempertemukan santri, alumni, masyarakat, dan para kiai dalam satu ikatan emosional yang hangat. Ada silaturahmi, penghormatan kepada guru, sekaligus pewarisan nilai keteladanan lintas generasi. Tradisi semacam ini bekerja secara alami menjaga kohesi sosial masyarakat.

Ironisnya, karena sifatnya kultural dan tidak selalu masuk dalam kerangka program formal, tradisi-tradisi tersebut sering dipandang kurang penting dalam kebijakan pendidikan. Padahal jika tradisi ini perlahan hilang, pesantren bisa kehilangan fondasi sosial dan spiritualnya sendiri.

Jangan sampai pesantren kehilangan ruhnya

Karena itu, kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren seharusnya tidak berhenti pada penguatan kelembagaan semata. Ini momentum penting untuk membangkitkan kembali seni, budaya, dan tradisi pesantren sebagai bagian inti dari sistem pendidikan pesantren.

Sudah waktunya seni dan budaya pesantren dipandang sebagai investasi peradaban, bukan sekadar kegiatan pelengkap. Negara dapat mulai menghadirkan dukungan nyata melalui ruang kreativitas santri, festival budaya pesantren, pendokumentasian tradisi, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis pesantren.

Langkah seperti ini tidak bertentangan dengan modernitas. Justru sejalan dengan prinsip pesantren yang selama ini terkenal lentur dan bijak, yaitu menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.

Baca juga: Menyingkap Stigma Pesantren: Fakta, Tantangan, dan Peran di Era Modern

Pesantren tidak boleh kehilangan jantungnya sendiri.

Sebab di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, serba cepat, dan makin kering makna, pesantren sesungguhnya memiliki sesuatu yang mulai langka, yaitu kemampuan mendidik manusia secara utuh. Bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghidupkan jiwa.

Dan di sanalah seni, budaya, serta tradisi menemukan perannya yang paling penting.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *