Puisi  

Letih yang Menua

Nisrina Nafsiyanah Muthmainnah. (Foto: Istimewa)

Puisi karya  Nisrina Nafsiyanah Muthmainnah

 

pagi menyapa pelan

lereng sunyi mengalunkan selimut putih

sementara kita sibuk menaklukkan jarak

mukjizat lewat sebagai bayangan

 

bumi tak pandai menuntut,

tetap memberi meski tersakiti

 

bila suatu hari ia bergeming

ia takkan memilih riuh,

hanya bisikan tipis di lipatan angin senja

 

lelah bukan marah

lelah tetaplah Lelah

meski luka tersimpan dalam bahasa akar,

gemuruh alam menjawab, akhirnya

 

tak banyak yang ia pinta

hanya setetes hening dari rakus yang tak usai

celah kecil bagi hidup yang terengah

 

rimba mulai lupa siapa dirinya

saksi bisu gugurnya hijau perlahan

samudra mengeruh karna getirnya

langit  menua menahan demam manusia

 

maka biarlah

belajar pulang pada Langkah yang dilunakkan

rindu

membiarkan luka berhenti berakar

di tempat dekapan terbuka lebar

sebelum sunyi, menjadi jawaban

 

suatu hari nanti,

tatkala bumi sembuh dari lukanya

inilah saatnya kita pulang

pada rindu yang sejak lama menunggu

 

panggil ia, rumah

 

Catatan: Puisi ini berhasil menjadi Juara Ke-3 Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N)  cabang Puisi Tingkat Kota Bogor tahun 2026.

 

Tentang Penulis

Nisrina Nafsiyanah Muthmainnah, lahir di Jakarta tanggal 21 April 2009. Anak bungsu dari lima bersaudara.  Bersekolah di SMA Bosowa Bina Insani, Bogor,  kelas XI. Suka menulis juga menari. Puisi-puisinya mulai dipublikasikan sejak tahun 2025 dalam bentuk Buku Antologi dan di Millenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *