Milenianews.com, Jakarta – Dentum konflik di Timur Tengah tak hanya mengguncang wilayah yang berperang, tetapi juga menjalar jauh ke ruang-ruang batin manusia yang menyaksikannya dari kejauhan. Di tengah ketegangan yang nyaris menggagalkan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), dunia kembali diingatkan bahwa perang bukan sekadar angka korban dan kerugian ekonomi—ia adalah luka yang hidup dalam kesadaran kolektif.
Dampaknya bahkan terasa hingga Indonesia. Jarak geografis tak lagi menjadi batas bagi kecemasan global. Dari kegelisahan itulah, penyair Pulo Lasman Simanjuntak menuliskan respons batinnya melalui sebuah puisi berjudul “Jelang April 2026”.
Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah rekaman kegelisahan, pergulatan iman, sekaligus refleksi atas kemungkinan masa depan yang diliputi ketidakpastian jika konflik tak kunjung reda.
Baca juga: Puisi Penyair Pulo Lasman Dapat Apresiasi Penikmat Puisi Atik Bintoro
Pada sebuah kesempatan, dua tokoh dari dunia yang berbeda—Prof. Wahyu Wibowo, dosen sekaligus pengamat sastra, dan Ananda Sukarlan, komponis serta pianis kelas dunia—membaca, menafsirkan, dan “membidik” puisi tersebut dari perspektif mereka masing-masing. Hasilnya menghadirkan lapisan makna yang semakin kaya.
Berikut puisinya:
JELANG APRIL 2026
oleh Pulo Lasman Simanjuntak
jelang april 2026
semalaman aku terus dihajar
mimpi-mimpi mengerikan
bersama sajakku
makin terkaparmungkinkah mimpi-mimpi itu
jadi kenyataan
karena perang rudal
tak kunjung terselesaikanbahkan telah membakar
semua pengharapan
angan-angan
dalam kesusahan
dan pencobaanaku harus bersabar, pesanmu
di atas kendaraan kemenangan
usianya telah mencapai ribuan
perjalanan
paling menegangkan
menuju tanah kanaansebab hanya Tuhan
selalu ada di depan
sehingga jiwaku
makin tenang
seperti tak tergoyahkan(Jakarta, Kamis 26 Maret 2026)
Puisi sebagai cermin kegelisahan zaman
Bagi Pulo Lasman Simanjuntak, puisi ini seperti cermin yang memantulkan kecemasan zaman. Penyair yang telah melahirkan puluhan karya dalam berbagai antologi ini tampak menempatkan dirinya di antara realitas perang dan keyakinan spiritual yang menjadi penopang batin.
Prof. Wahyu Wibowo melihat lapisan itu sebagai bentuk penegasan iman yang kuat. Menurutnya, larik “sebab hanya Tuhan selalu ada di depan, sehingga jiwaku makin tenang” menjadi titik penting yang memperlihatkan citra keimanan penyair.
Dalam pandangannya, meski perang rudal terus berlangsung tanpa kepastian, penyair tetap berpegang pada keyakinan akan pesan Ilahi. Sebuah sikap yang, menurutnya, menempatkan Pulo sebagai sosok penyair dengan kecenderungan romantik—yang terus mendaki “bukit” harapan, meski tak pernah benar-benar sampai.
Ia bahkan mengaitkan pergulatan itu dengan gambaran klasik tentang perjalanan panjang yang penuh kelelahan dan ketegangan—sebuah simbol yang memancing tafsir hermeneutis dan membuka ruang pembacaan yang lebih dalam.
Sementara itu, Ananda Sukarlan membaca puisi ini dengan kepekaan musikal. Baginya, kekuatan puisi terletak pada kontras emosional yang tajam: dari mimpi buruk yang mencekam menuju ketenangan spiritual yang kokoh.
Ia melihat struktur puisi ini sebagai sesuatu yang “simfonik”—bergerak dari suasana gelap, penuh kecemasan, lalu perlahan menuju terang yang menenangkan. Perjalanan emosi dari ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, hingga akhirnya penerimaan, terasa seperti komposisi musik yang padat namun utuh.
Perbandingan dengan karya simfoni besar pun muncul dalam pembacaannya, menegaskan bahwa puisi ini tidak hanya bekerja di ranah kata, tetapi juga memiliki ritme dan dinamika layaknya musik.
Baca juga: Puisi “Meditasi Batu” Karya Pulo Lasman Simanjuntak Menggema di Skotlandia
Pengalaman personal Ananda di tengah situasi global juga memberi warna tersendiri. Rencana perjalanannya ke Spanyol untuk mengisi masterclass sempat tertunda akibat pembatalan penerbangan. Sebuah detail kecil yang justru mempertegas bagaimana perang, dalam skala global, menyentuh kehidupan individu secara nyata.
Pada akhirnya, Jelang April 2026 menjadi lebih dari sekadar puisi. Ia adalah ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia—tempat kegelisahan, iman, dan harapan bertemu.
Di saat berita dipenuhi angka dan strategi, puisi ini mengingatkan bahwa di balik semua itu, ada jiwa-jiwa yang berusaha tetap tegak, mencari makna, dan bertahan dalam keyakinan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.












