Milenianews.com, Tangerang Selatan– Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Associate Prof. Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H, M.Hum, menegaskan bahwa radio masih memiliki tempat penting di tengah arus deras transformasi digital, namun harus mampu beradaptasi agar tetap relevan dan diminati masyarakat. Hal itu disampaikan dalam sambutan pembukaan Kuliah Umum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IIQ Jakarta yang digelar pada Senin, 25 Mei 2026.
Dalam sambutannya, Rektor menyoroti bahwa media penyiaran, khususnya radio, tidak lagi dapat bertumpu pada pola lama. Perubahan perilaku audiens, yang kini semakin dekat dengan media sosial dan platform digital berbasis video maupun audio on demand, menuntut lembaga penyiaran untuk berinovasi. Menurutnya, kekuatan radio justru terletak pada kedekatannya dengan pendengar, karakter suaranya yang intim, serta kemampuannya menjangkau beragam lapisan masyarakat.
Baca Juga : KPI IIQ Jakarta Gelar Kuliah Umum Bahas Eksistensi Radio di Era Digital
“Radio tidak mati, tetapi harus berubah,” demikian inti pesan yang ditekankan dalam sambutan tersebut. IIQ Jakarta, lanjutnya, berkomitmen mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul dalam bidang keislaman, tetapi juga memiliki literasi media yang kuat. Mahasiswa, terutama yang berada di lingkungan KPI, didorong untuk memahami dinamika komunikasi modern agar mampu menjadi dai dan daiyah yang efektif di ruang digital.
Rektor juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi komunikasi sebagai bagian dari pengembangan dakwah. “Di era informasi yang serba cepat, penyebaran nilai-nilai Al-Qur’an dan pesan-pesan keislaman harus disampaikan melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter audiens masa kini. Karena itu, media sosial, produksi konten digital, dan pemahaman tentang ekosistem penyiaran menjadi bagian penting yang harus dipelajari mahasiswa,” tegasnya.
Baca Juga : IIQ Jakarta dan Bens Radio Tandatangani MoU untuk Perkuat Kolaborasi Penyiaran
Ia menambahkan, kerja sama antara kampus dan industri penyiaran bukan semata-mata formalitas, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata. Dunia akademik, menurutnya, perlu terus membuka ruang kolaborasi dengan pelaku media agar mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis sekaligus wawasan lapangan. “Dengan begitu, lulusan IIQ Jakarta tidak hanya memiliki dasar keilmuan yang kuat, tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif,” ujarnya.
Sambutan Rektor tersebut juga menjadi penanda bahwa IIQ Jakarta serius mendorong pengembangan prodi KPI sebagai ruang pembelajaran yang responsif terhadap perubahan zaman. Kuliah umum ini dipandang sebagai bagian dari strategi kampus dalam menjembatani teori dan praktik, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi Islam dalam membangun komunikasi dakwah yang adaptif dan modern.














