Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Menjadi seorang guru sebenarnya melelahkan. Bukan hanya karena harus berdiri berjam-jam di depan kelas, mempersiapkan materi pembelajaran, atau menghadapi beragam karakter peserta didik setiap hari. Kelelahan seorang guru sering kali lahir dari sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, yaitu tekanan sosial yang datang dari berbagai arah.
Ketika seorang guru menyuarakan hak-haknya, memperjuangkan kesejahteraan, atau mengingatkan tentang berbagai persoalan pendidikan yang perlu dibenahi, tidak sedikit yang langsung memberikan label negatif. Guru yang berbicara dianggap terlalu banyak menuntut, arogan, atau hanya memikirkan kepentingan pribadi. Padahal, di balik suara yang disampaikan itu sering kali tersimpan harapan agar dunia pendidikan menjadi lebih baik.
Ironisnya, masyarakat sering menginginkan guru yang berkualitas, profesional, dan berdedikasi tinggi, tetapi pada saat yang sama kurang memberi ruang bagi guru untuk menyampaikan keresahan yang mereka alami. Seolah-olah seorang guru hanya boleh mengajar, tersenyum, dan menerima keadaan tanpa memiliki hak untuk mengeluhkan sesuatu yang memang perlu diperjuangkan.
Baca juga: Guru Berprestasi Diminta Terus Mengabdi, tapi Nasibnya Tetap Digantung Negara
Ketika Kritik Dianggap Sebagai Perlawanan
Di sisi lain, guru juga sering berada dalam posisi yang sulit ketika mencoba memberikan kritik terhadap kebijakan atau kondisi pendidikan yang dirasa kurang tepat. Kritik yang sebenarnya lahir dari kepedulian justru kerap ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan atau sikap yang tidak mencerminkan marwah seorang pendidik.
Ada anggapan bahwa guru harus selalu tampak santun dalam segala situasi hingga kehilangan ruang untuk menyampaikan pendapat secara terbuka. Padahal, sejarah pendidikan menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari keberanian para pendidik yang bersuara. Kritik bukan selalu berarti membangkang, sebagaimana diam bukan selalu berarti setuju.
Kritik yang disampaikan dengan niat memperbaiki merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang guru terhadap masa depan generasi yang sedang mereka didik. Namun sayangnya, tidak semua orang mampu membedakan antara kritik yang membangun dan sikap yang sekadar mencari kesalahan. Akibatnya, guru sering memilih menyimpan kegelisahannya sendiri daripada harus berhadapan dengan berbagai penilaian yang belum tentu adil.
Diam Pun Tidak Menjamin Aman
Yang lebih melelahkan lagi adalah ketika guru memilih diam. Diam yang seharusnya menjadi pilihan aman ternyata tidak selalu membuat keadaan menjadi lebih baik.
Ketika seorang guru tidak banyak berbicara, tidak aktif menyampaikan pendapat, atau memilih fokus menjalankan tugasnya, sebagian orang justru menganggapnya tidak peduli terhadap perkembangan pendidikan. Ada yang menilai guru tersebut kurang inovatif, tidak memiliki semangat belajar, atau malas untuk berkembang.
Pada akhirnya, guru berada dalam situasi serba salah. Berbicara salah, mengkritik salah, diam pun salah. Seakan-akan apa pun yang dilakukan selalu memiliki peluang untuk disalahartikan.
Padahal, tidak semua guru memiliki kondisi, kesempatan, dan energi yang sama. Ada guru yang harus membagi waktunya antara mengajar, mengurus keluarga, menyelesaikan administrasi yang menumpuk, hingga menghadapi persoalan pribadi yang tidak pernah diketahui orang lain. Namun masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhirnya tanpa memahami perjalanan panjang yang sedang dijalani oleh seorang pendidik.
Guru Juga Manusia
Di balik berbagai penilaian tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu bahwa guru juga manusia biasa. Mereka bukan sosok yang hidup tanpa masalah, tanpa rasa lelah, dan tanpa kebutuhan untuk didengar.
Guru memiliki batas kesabaran, memiliki rasa kecewa, bahkan memiliki ketakutan yang sama seperti profesi lainnya. Hanya saja, profesi guru sering ditempatkan pada posisi yang sangat ideal sehingga kesalahan kecil dapat terlihat begitu besar.
Ketika seorang guru menunjukkan kelemahan, sebagian orang langsung mempertanyakan profesionalismenya. Ketika seorang guru memperjuangkan kesejahteraan, ada yang mempertanyakan keikhlasannya. Seolah-olah menjadi guru berarti harus siap mengorbankan segala hal tanpa boleh berharap apa pun.
Padahal, kesejahteraan dan penghargaan yang layak bukanlah musuh dari pengabdian. Justru guru yang dihargai dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Menghormati guru bukan hanya dengan kata-kata manis pada momen tertentu, melainkan juga dengan memahami kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.
Memberi Ruang bagi Guru untuk Menjadi Manusia
Karena itu, sudah saatnya kita melihat guru secara lebih manusiawi dan lebih adil. Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas, melainkan tentang memikul tanggung jawab besar dalam membentuk masa depan bangsa. Tugas itu tidak ringan, apalagi ketika harus dijalankan di tengah berbagai tuntutan yang sering kali saling bertentangan.
Guru diharapkan menjadi teladan, inovator, motivator, administrator, bahkan terkadang menjadi tempat mengadu bagi peserta didik dan orang tua. Semua peran itu dijalankan dalam waktu yang sama dengan segala keterbatasan yang dimiliki.
Baca juga: Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Gaji Gurunya
Maka ketika seorang guru bersuara, dengarkanlah terlebih dahulu sebelum menghakimi. Ketika seorang guru mengkritik, pahamilah bahwa mungkin ada kepedulian yang sedang diperjuangkan. Dan ketika seorang guru memilih diam, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa ia tidak peduli. Bisa jadi ia sedang berjuang dalam caranya sendiri.
Sebab pada akhirnya, di balik seragam dan profesinya, guru tetaplah manusia yang ingin dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan rasa hormat yang sama seperti profesi lainnya. Jika pendidikan adalah fondasi sebuah bangsa, maka sudah sewajarnya para pendidiknya tidak hanya dituntut untuk terus memberi, tetapi juga diberi ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














