Cerpen  

Pesawat Tempur yang Tersandung Jempol Sendiri

Feby Surya A. Bashit. (Foto: Istimewa)

Cerpen karya  Feby Surya A. Bashit

 

Tepat ketika siswi berambut panjang di dalam ruang kesenian itu menoleh dan melirik ke arah luar jendela, seluruh sistem saraf di tubuhku mendadak korsleting. Sialan. Aku merasa seperti baru saja tersetrum listrik bertegangan seratus ribu volt tanpa sekring pengaman. Jantungku berdegup liar, melompat-lompat hancur di dalam dada, sementara dengkulku mendadak berubah menjadi jeli yang lembek.

Harusnya, ini menjadi momen romantis yang sinematik. Aku sudah membayangkan diriku tampil sekeren pesawat tempur di era Perang Dunia Kedua yang gagah berani menerjang badai demi sang kekasih. Namun, realitas masa puber selalu punya cara yang kejam untuk menertawakan khayalan. Bukannya memberikan senyuman termanis yang bisa meruntuhkan hatinya, sifat pemaluku justru mencapai titik puncaknya yang paling absurd. Aku mendadak mati rasa, membatu di lantai lorong sekolah yang ramai.

Kondisi ini diperparah oleh raga konyolku yang menolak bekerja sama dengan otak. Karena terlalu panik ditatap oleh sepasang mata seindah busur panah itu, kakiku salah tingkah. Dan di sinilah letak bencana komedinya: jempol kaki kananku yang dengan tidak sopannya sedang mengintip jalan-jalan dari balik lubang sepatu Warrior hitam bututku malah tersangkut di celah batas lantai pintu lorong!

Krek!

Aku kehilangan keseimbangan. Tas sekolahku berayun liar, dan tubuhku oleng ke depan dengan pose menungging yang sungguh tidak estetis tepat di hadapan kaca ruang kesenian. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana siswi berambut panjang itu langsung menghentikan latihan vokalnya, menutup mulut dengan tangan, dan matanya membelalak menahan tawa yang hampir meledak. Di belakangku, tawa teman-temanku pecah, menggema di sepanjang lorong menuju kantin. Rasanya perih dan nyesek sekali. Harga diriku yang setinggi langit runtuh seketika ke dalam lantai koridor, menyadarkanku bahwa dalam urusan merayu wanita, aku bukanlah burung bilqis yang anggun, melainkan hanya seekor unggas lumpuh yang malang.

Sebelum insiden jatuhnya harga diriku di lorong ini, mari kita rewind sedikit ke pagi hari.

Perkenalkan, namaku Wanda Waditra. Teman-temanku sering memanggilku Anda. Konon, menurut guru seni yang memberiku nama ini, maknanya mirip balok yang digantung di garis-garis pendek, yang tiada lain adalah seperangkat musik. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti arti filosofis dari pemberian guru seniman itu, jadi kuacuhkan saja. Bagiku, nama tidak terlalu berpengaruh pada makna hidup; yang penting hati dan pikiran kita harus menjadi motornya.

Ya, persis seperti motor Karismaku. Walau jelek dan terlihat jadul, motor kesayanganku itu sangat mengerti arti hidupnya: untuk mengantarkanku ke mana pun aku mau. “I Love You Full” pokoknya, he!

Pagi ini, aku datang ke sekolah dengan tingkat kepedean maksimal. Motor Karisma kuparkirkan dengan gagah di depan sekolah. Coba bayangkan penampilanku: berjaket kulit hitam yang cukup gerah, memakai helm naga berwarna biru, dan tentu saja, sepasang sepatu Warior hitam yang sudah bolong sehingga ibu jariku seperti mengintip jalan-jalan. Sambil membereskan kerah jaket ala bintang film aksi, aku berteriak lantang di pelataran parkir, “Aku Cinta Sekolahku!”

Namun, kerenku cuma bertahan tiga detik. Tiba-tiba dari pinggir gerbang ada yang menyahut teriakanku dengan teguran menggelegar, “Hey!”

Sial. Dia adalah satpam penjaga sekolah. Dengan badan besar, berkulit hitam, dan berkumis baplang, sosoknya sangat ditakuti oleh seluruh siswa di sekolah itu. Bagiku, dia tak ubahnya monster atau jin penghuni sekolah yang sangat menyeramkan. Tanpa panjang lebar lagi, nyaliku langsung ciut dan aku buru-buru memindahkan motorku ke tempat parkir yang benar.

Masa sekolah menengah atas memang fase puberditas manusia, baik pada zaman dulu maupun zaman sekarang. Ini adalah masa-masanya mencari cinta, gonta-ganti pacar, surat-menyurat, hingga ajang saling mentraktir makan, minum, dan menonton di bioskop. Sayangnya, rentetan kegiatan romantis itu sepertinya tidak berlaku dalam daftar riwayat hidupku.

Lima belas tahun sudah aku mendambakan seorang perempuan. Perempuan istimewa yang kehadirannya bisa membuatku menjadi seruni yang selalu bernyanyi di tanah Sunda. Jika pun ada perempuan seperti itu di dunia nyata, kurasa itu hanya hayalan saja. Tatapan seorang gadis selalu terasa menjadi busur panah bagiku, senyumannya ibarat rengkarnasi mata pisau, dan suaranya selalu menghantuiku bahkan ketika aku sedang berdiam diri di kloset. Aku selalu mati rasa karena hal itu.

Makanya, daripada terus-terusan menahan malu, sampai sekarang aku lebih memilih mematungkan hatiku dan menyimpannya di dompetku sendiri. Ya, biar kelihatan tebal sedikit, Ma!

Semua benteng pertahananku itu masih utuh, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Waktu itu, aku bersama teman-temanku sedang berjalan menuju kantin sekolah. Teman-temanku asyik membicarakan wanita yang mempunyai dada dan pantat yang besar, pembicaraan tipikal anak laki-laki masa puber.

Namun, langkahku mendadak berhenti. Aku terpaku di depan satu ruangan, yaitu ruang kesenian, yang letaknya tidak jauh dari kantin yang kami tuju. Di sanalah, di balik kaca ruang latihan vokal itu, segala hayalan dan realitas bertabrakan, berujung pada kakiku yang tersandung sepatu bolongku sendiri.

Saat aku masih berjuang mengembalikan keseimbangan tubuhku dari pose menungging yang nista itu, seorang temanku menepuk pundakku keras-keras.

“Hei Nda! Kenapa sih kamu?” tanyanya dengan raut wajah kebingungan yang bercampur dengan niat ingin meledek.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Boro-boro mau menjawab, untuk bernapas saja rasanya paru-paruku lupa caranya. Aku masih terpaku di sana, kaku, persis seperti orang bodoh yang baru saja tersetrum listrik bertegangan 100.000 volt. Seluruh fokusku tersedot pada pemandangan di balik kaca itu.

Siswi tinggi berambut panjang yang sedang berlatih nyanyi bersama guru vokalnya itu kini sepenuhnya menatapku. Ia menghentikan nyanyiannya. Dan di sinilah momen “nyesek” itu terjadi. Alih-alih memalingkan wajah karena jijik melihat tingkah absurdku, siswi itu malah melirik ke arahku dengan sebuah senyuman kecil.

Demi Tuhan, senyumannya itu sungguh membingungkan! Lirikannya itu seolah-olah ia sedang melemparkan sebuah buah Pir yang sangat manis ke arahku, memberiku harapan bahwa aku punya peluang. Namun, belum sempat tanganku menangkap harapan itu, dengan kejamnya ia menarik buah Pir itu kembali dan memakannya sendiri di depan mataku! Aih!

Harapanku diterbangkan setinggi langit, lalu dihempaskan begitu saja. Ia mengalihkan pandangannya dariku secepat ia menatapku. Guru vokalnya berdehem, memintanya kembali fokus pada partitur nada, dan siswi itu pun kembali bernyanyi, memunggungiku, seolah-olah eksistensi Wanda Waditra yang memakai sepatu Warior bolong ini tidak pernah ada di dunia.

Hatiku patah sebelum sempat menyatakan apa-apa. Rasanya seperti baru saja ditilang polisi padahal motorku belum juga keluar dari garasi.

Melihatku yang masih mematung dengan wajah memelas sambil berusaha menyembunyikan jempol kakiku yang mengintip, teman-temanku akhirnya menyerah. Mereka menarik kerah seragamku, menyeretku pergi dari zona pembantaian harga diri tersebut.

Aku dan teman-temanku pun akhirnya melanjutkan sisa perjalanan menuju kantin yang sempat tertunda. Sepanjang lorong, raga dan langkahku memang bergerak maju, tapi jiwaku tertinggal di depan kaca ruang kesenian itu. Tragisnya, teman-temanku sama sekali tidak peduli dengan badai emosional yang sedang mengoyak dadaku. Tanpa rasa bersalah, mereka malah kembali mengoceh, melanjutkan cerita X-nya tentang anatomi tubuh wanita yang sempat terpotong tadi.

Sementara mereka tertawa lepas, aku hanya bisa menunduk menatap ujung sepatuku yang bolong, meratapi nasib menjadi remaja pemalu yang tak punya nyali.

Di meja kantin yang lengket oleh sisa tumpahan kuah bakso, aku masih terdiam meratapi nasib. Teman-temanku sibuk memesan es teh manis dan gorengan, sama sekali tidak peduli pada krisis eksistensial yang sedang kualami.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka si tukang gosip nomor satu di kelas menyenggol lenganku keras-keras.

“Lu ngeliatin cewek tadi sampai mau nyium lantai, lu naksir, Nda?” selidiknya dengan mulut yang masih penuh dengan tahu isi.

Aku hanya mengangkat bahu, berpura-pura membersihkan kerah jaket kulit hitamku untuk menjaga sisa-sisa wibawa. “Emang dia siapa?” tanyaku pelan, berusaha terdengar tidak peduli.

“Gila lu nggak tahu? Dia anak baru pindahan dari Bandung. Namanya Seruni. Suaranya bagus banget, makanya langsung diincar buat lomba nyanyi.”

Seruni.

Mendengar nama itu, duniaku seakan berhenti berputar selama dua detik. Mataku membelalak. Pantas saja! Tiba-tiba, segala hayalan absurd yang selama lima belas tahun ini kusimpan rapat-rapat terbayang kembali. Bukankah aku selalu mendambakan perempuan yang bisa membuatku menjadi seruni yang selalu bernyanyi di tanah Sunda?

Ternyata, Seruni itu bukan sekadar metafora atau bunga khayalan semata. Seruni adalah wujud nyata dari siswi berambut panjang yang baru saja mengunyah ‘buah Pir’ harapanku mentah-mentah di balik kaca lorong tadi! Namanya persis seperti doa dan mimpiku yang paling rahasia. Aku tertawa getir dalam hati. Sungguh komedi yang kejam. Tuhan mengirimkan bidadari bernama Seruni tepat di depan mataku, tapi di saat yang bersamaan, Ia malah memberiku sepatu Warior berlubang dan nyali sekecil biji kuaci sebagai modal untuk mendekatinya. Ironi macam apa ini?

“Kenapa lu senyum-senyum sendiri, Nda? Kesambet jin satpam depan, ya?” ledek temanku lagi, membuyarkan lamunanku.

“Nggak apa-apa,” jawabku sok misterius. Aku menoleh ke luar jendela kantin, menatap jauh ke arah tempat parkir di mana motor Karismaku terparkir dengan setia.

Walau jelek dan terlihat jadul, motorku itu sangat mengerti arti hidupnya: untuk mengantarkanku ke mana pun aku mau. Dan hari ini, motor pikiran dan hatiku akhirnya menemukan arah tujuannya yang baru.

Untuk saat ini, biarlah aku kalah. Biarlah aku terlihat seperti unggas bodoh yang tersandung jempol kakinya sendiri. Dan biarlah hatiku tetap mematung kuamankan di dalam dompetku biar makin tebal, Ma!

Tapi tunggu saja. Suatu hari nanti, aku akan mengganti sepatu bolong ini, memoles motor Karismaku hingga mengkilap, dan mengumpulkan keberanian hingga aku pantas menjelma menjadi pesawat tempur saat perang dunia kedua yang gagah berani. Aku akan memastikan, kelak Seruni tidak hanya melirikku dan menelan senyumannya sendiri. Kelak, ia akan benar-benar bernyanyi bersamaku di tanah Sunda ini.

Aku tersenyum mantap, menyeruput es teh manisku, dan membatin di tengah riuhnya kantin, I Love You Full, Seruni… pokoknya he!

Tentang Penulis

Feby Surya A. Bashit lahir di Tasikmalaya 28 Februari 1990. Beralamat di Kp. Simpang Ds. Simpang Kec. Bantarkalong. Seorang pengajar di SMK Negeri juga sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di universitas STKIP Tasikmalaya. Pernah belajar menulis sastra kepada Bode Riswandi. Karya-karya sastra dalam bentuk puisi pernah dipublikasi di koran Priangan dan Harian Radar Tasikmalaya, dan puisinya tergabung dalam buku antologi puisi “Ungkapan yang Meracau”. Selain puisi juga pembuatan buku bersama Gol A Gong dalam judul “Akar yang Menolak Tumbang” antologi kisah inspiratif para pejuang kehidupan. Cerpen yang berjudul Anie & Maskun yang dipublikasi di milenianews.com.

Selain aktif menulis, juga mendirikan ekstrakurikuler Teater Bakal di sekolah dan berprestasi membimbing siswanya sering masuk ke provinsi dalam bidang menulis dan drama monolog pada ajang FLS3N tiap tahunnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *