Puisi  

Nyala yang Tak Mau Padam

nyala yang tak mau padam

Karya: Novita Sari Yahya

Jangan menyebut demokrasi bila suara dibungkam ketakutan,
bila pertanyaan dianggap ancaman bagi kekuasaan,
bila mulut yang mencari kebenaran dipaksa terdiam,
dan kebebasan tinggal nama tanpa kehidupan.

Jangan mengagungkan idealisme dengan kata-kata yang megalodrama,
jika langkahmu berakhir di hadapan singgasana kekuasaan,
jika keyakinan ditukar dengan kenyamanan sesaat,
dan keberanian perlahan larut dalam kepentingan.

Jangan berbicara tentang keadilan dengan dada membusung,
jika tanganmu masih melindungi mereka yang mengkhianati rakyat,
jika luka orang kecil tak pernah kau dengarkan,
dan nurani kalah oleh kedekatan dengan penguasa.

Che Guevara berjalan menuju api revolusi,
memilih jalan terjal yang berujung pada kematian,
sementara namanya tetap hidup di lembar sejarah,
sebagai nyala yang menolak tunduk pada ketakutan.

Di negeri ini anak-anak muda membaca Tan Malaka,
menemukan harapan dalam gagasan yang tak lekang waktu.
Mereka membawa kegelisahan di dada yang menyala,
dan keyakinan bahwa perubahan masih mungkin diperjuangkan.

Namun setiap kali kata revolusi menggema di jalanan,
ada ketakutan yang tumbuh diam di dalam diriku.
Sebab aku tahu teriakan itu lahir dari luka,
dari kemarahan panjang yang kehilangan tempat pulang.

Aku membayangkan wajah para ibu yang menunggu,
menyimpan doa dalam setiap malam yang panjang,
menitipkan masa depan pada anak-anak yang mereka cintai,
tanpa pernah ingin kehilangan mereka pada sejarah.

Sebab revolusi sering datang membawa dua wajah,
satu menjanjikan harapan dan pembebasan,
yang lain menyisakan air mata dan kehilangan,
di rumah-rumah yang pernah dipenuhi tawa.

Mungkin ada yang salah pada zaman yang diwariskan,
ketika penderitaan terlalu lama dibiarkan menjadi biasa,
ketika ambisi menyamar sebagai kebijaksanaan,
dan nurani perlahan tersisih dari percakapan.

Kawan, pulanglah sejenak kepada suara hatimu sendiri.
Pulanglah kepada keyakinan yang dahulu kau jaga.
Sebab ketika nurani telah kalah oleh kepentingan,
yang tersisa hanyalah gema kemunafikan di lorong sejarah.

Bogor, 16 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *