Isman Iskandar Paparkan Dakwah Berbasis Kecerdasan Buatan di AICIMDS dan KNKI VI ASKOPIS

Dosen Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Dr. Isman Iskandar, M.Sos. mempresentasikan penelitian berjudul “Artificial Intelligence-Based Da'wah Messages on the Instagram Account @hijrahtime” dalam Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konferensi Nasional Komunikasi Islam VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KNKI VI ASKOPIS), di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pada Rabu–Jumat, 12–14 Agustus 2026. (Foto: Dok IIQ)

Milenianews.com, Jakarta– Dr. Isman Iskandar, M.Sos. dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mempresentasikan penelitian berjudul “Artificial Intelligence-Based Da’wah Messages on the Instagram Account @hijrahtime” dalam Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konferensi Nasional Komunikasi Islam VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KNKI VI ASKOPIS). Forum ilmiah tersebut berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pada Rabu–Jumat, 12–14 Agustus 2026, dengan tema “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation.”

Dalam presentasinya, Isman menyoroti bagaimana pesan dakwah di akun Instagram @hijrahtime dibangun melalui kombinasi ilustrasi berbasis kecerdasan buatan dan narasi singkat yang disusun untuk menyesuaikan karakter media sosial yang visual, ringkas, dan berurutan. “Penelitian ini menunjukkan bahwa AI membantu memperkuat daya tarik visual dan mempercepat produksi konten, tetapi otoritas keagamaan, pemilihan sumber, serta tanggung jawab editorial tetap berada di tangan manusia,” kata Dr. Isman Iskandar, M.Sos.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis tiga unggahan yang mewakili tema akidah, syariah, dan akhlak. Setiap carousel dibaca sebagai rangkaian tanda visual dan verbal, lalu ditafsirkan melalui semiotika Roland Barthes pada level denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil analisis memperlihatkan bahwa pesan-pesan dakwah pada akun tersebut dibangun secara terintegrasi, mulai dari ajakan untuk tawakal, dorongan memperkuat ibadah, hingga penekanan pada empati dan pengendalian diri.

Baca Juga : Dari IIQ Jakarta ke Forum Internasional: Tiga Dosen Presentasikan Riset di AICIMDS dan KNKI VI ASKOPIS

Isman menjelaskan bahwa pada tema akidah, konten yang ditampilkan mengarahkan emosi dan kegelisahan kepada sikap tawakal kepada Allah. Pada tema syariah, pesan disusun untuk mendorong ibadah, doa, dan zikir, sedangkan pada tema akhlak, unggahan mengajak audiens untuk menahan penilaian, bersikap lembut, dan menjaga kehormatan sesama. “Dari ketiga lapisan itu, penelitian ini membaca adanya konstruksi identitas Muslim yang ideal, yakni beriman, taat, dan berakhlak dalam satu kesatuan pesan dakwah digital,” ujarnya.

Lebih jauh, penelitian ini menegaskan bahwa AI dalam dakwah lebih tepat dipahami sebagai penanda visual, bukan sebagai otoritas kebenaran. Gambar yang dihasilkan AI dapat membantu menciptakan suasana, membangun keterhubungan emosional, dan memudahkan audiens mengenali konteks pesan, tetapi tidak dapat menggantikan verifikasi ilmiah maupun kepakaran keagamaan. “Karena itu, penggunaan AI dalam dakwah perlu disertai verifikasi sumber, telaah oleh dai atau komunikator yang kompeten, evaluasi etis atas representasi pesan, serta transparansi ketika visual realistis dihasilkan oleh mesin,” kata Dr. Isman Iskandar, M.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *