Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Dahulu saat kita masih duduk di bangku sekolah, Kepulauan Natuna dan Anambas terasa seperti tempat yang sangat jauh. Dari peta yang tergantung di dinding kelas, keduanya hanya tampak sebagai pulau-pulau kecil di ujung utara peta Indonesia, tepatnya di Laut China Selatan. Dari peta pula tidak ada informasi kota besar di sana—sebuah wilayah yang jauh dari jangkauan imajinasi anak sekolah.
Ketika guru menjelaskan Indonesia sebagai negara kepulauan, Natuna dan Anambas hanya terlihat sebagai titik-titik kecil. Imajinasi kita saat itu menggambarkan tempat terpencil, lautnya luas, serta pulaunya kecil dengan kehidupan yang sangat sederhana. Kala itu sulit membayangkan seperti apa kehidupan dan budaya masyarakat di sana.
Sebuah ironi yang menarik saat masa sekolah: kita mempelajari bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau, tetapi pelajaran yang didapat terasa sekadar hafalan. Namun setelah berkunjung langsung, Indonesia ternyata tidak sekadar titik kecil atau garis pantai di peta. Indonesia adalah perjalanan panjang dari satu pulau ke pulau lainnya, di mana laut luas bukanlah pemisah, melainkan penghubung antarpulau beserta seluruh kekayaan di dalamnya.
Baca juga: Nostalgia Kota Malang Dari Anggunnya Masjid Agung Hingga Kehangatan Kajoetangan
Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna yang Sederhana dan Berkarakter

Pesawat menurunkan ketinggian. Dari kaca jendela, hamparan laut biru terlihat luas diselingi gugusan pulau hijau dan garis pantai putih dari hempasan ombak yang alami. Dalam hitungan menit, pesawat mendarat di Bandar Udara Raden Sadjad—pintu masuk utama ke Kepulauan Natuna yang terletak di pulau terbesar, Pulau Bunguran Besar. Nama bandar udara ini diambil dari sosok pahlawan yang memiliki keterikatan erat dengan sejarah Natuna.
Bandara ini berada di Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna. Keluar dari pintu pesawat, ada sensasi tersendiri: tidak ada gedung tinggi maupun perumahan padat yang terlihat karena lokasi bandara berada di pinggiran utara kota. Landasan pacu, perbukitan, serta bentang alam yang menghijau menjadi pemandangan pembuka bagi saya yang baru pertama kali tiba di Pulau Natuna.
Perjalanan menuju pusat Kota Ranai kembali mengingatkan saya pada peta di dinding kelas. Kendaraan menelusuri jalan menuju pusat aktivitas dan pemerintahan Kota Ranai dalam suasana yang relatif tenang dan sepi. Bentang alam hijau, kebun, semak belukar, perbukitan, hingga laut seakan selalu hadir menemani perjalanan. Ranai bukanlah kota metropolitan; tidak ada gedung tinggi atau kemeltroan lalu lintas, hanya ada deretan ruko dua lantai yang diselingi rumah tradisional berbahan papan serta bangunan gedung biasa.
Jalanan di dalam kota relatif tenang. Bangunan rumah dan pertokoan mengikuti kontur pulau sehingga terdapat jalan naik dan turun di pusat kota. Sementara di kejauhan, Gunung Ranai berdiri megah menjadi latar alam yang selalu hadir—sebuah penanda geografis dan bagian penting dari identitas Natuna. Ranai memang indah dalam kesederhanaannya, memberikan karakter khas yang memikat.
Laut yang Tak Pernah Menjauh dari Pusat Kota

Ranai adalah kota pantai di tengah kehidupan masyarakatnya, di mana laut tidak pernah benar-benar jauh. Salah satu pengalaman menarik yang sulit ditemukan di kota besar Pulau Jawa adalah menikmati pantai tanpa harus meninggalkan pusat kota terlalu jauh.
Di Ranai terdapat Pantai Rindu, atau dalam bahasa setempat dikenal sebagai Pantai Piwang. Hanya sepelemparan kerikil dari pusat kota, kawasan ini menjadi ruang publik tempat masyarakat berkumpul, bersantai, berolahraga, dan menikmati sajian kuliner. Terdapat fasilitas area bermain, lapangan, hingga panggung kegiatan seni. Pada pagi hari, dari pantai ini kita bisa menikmati indahnya terbit matahari.
Masyarakat Natuna mayoritas beragama Islam, dan bangunan paling ikonik di Kota Ranai adalah Masjid Agung Natuna. Berukuran cukup besar, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah dan kegiatan keagamaan, melainkan telah menjadi landmark kota serta daya tarik wisata religi.
Bangunannya tampak monumental bagi Natuna dengan kubah besar berwarna hijau dan kuning sebagai elemen visual paling menonjol. Diresmikan pada tahun 2009, kawasan masjid ini menggabungkan fungsi keagamaan, pemerintahan, pendidikan, serta ruang publik. Masjid ini memiliki empat menara setinggi 17 meter yang menjulang gagah di kota ini.
Perjalanan lebih jauh mengenalkan saya pada sisi lain Natuna. Salah satu daya tarik utama adalah keberadaan batu-batu granit raksasa yang tersebar di sepanjang pesisir pantai. Bongkahan batu raksasa ini seolah diletakkan begitu saja di muka bumi. Berpadu dengan bentangan laut biru dan vegetasi hijau tropis, pemandangan ini menciptakan lanskap khas Natuna yang memukau.
Perpaduan Ikan Laut dan Sagu di Tepi Pantai

Saya berkenalan dengan kernas—kuliner khas Natuna yang secara sederhana bisa disebut sebagai nugget Natuna, meski bahan dan kisahnya berbeda dari nugget modern di Jakarta. Dinas Pariwisata Natuna menyebutnya sebagai makanan berbahan dasar ikan dan sagu.
Bentuknya bulat pipih sederhana dengan permukaan yang menampilkan butiran-butiran sagu. Kernas dibuat dari perpaduan daging ikan laut—khususnya ikan tongkol—yang dicampur dengan sagu butir, diuleni bersama rempah-rempah, lalu digoreng hingga bagian luarnya renyah.
Saat dikunyah, tekstur renyah di luar dan lembut di dalam langsung terasa, dipadukan dengan gurihnya daging ikan yang kuat. Kelezatannya makin berkesan jika dinikmati selagi hangat bersama cocolan sambal.
Baca juga: Nostalgia Kota Malang Dari Anggunnya Masjid Agung Hingga Kehangatan Kajoetangan
Kuliner Natuna memang sangat dekat dengan sagu dan ikan. Pohon sagu yang melimpah menggambarkan sumber karbohidrat utama masyarakat kepulauan, sedangkan ikan melambangkan kekayaan laut Natuna. Olahan yang menggabungkan kedua bahan ini menghasilkan hidangan sederhana dengan identitas yang sangat kuat.
Dahulu, sagu merupakan bahan pangan vital bagi masyarakat Natuna. Kondisi geografis kepulauan yang terisolasi mendorong masyarakat berkreasi memanfaatkan hasil alam sekitar hingga lahirlah kernas. Menikmati kernas memberikan pengalaman baru tentang cerita masyarakat di antara laut dan daratan—tentang bagaimana mereka mengolah apa yang telah disediakan oleh alam.
Saya menikmati kernas sambil menikmati Natuna—sebuah wilayah yang dahulu hanya saya baca di sudut utara peta Indonesia di dalam kelas.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







