Puisi  

Cinta di Waktu yang Salah

Hadi Suroso. (Foto: Istimewa)

Puisi karya Hadi Suroso

Satu pelajaran….

Mengenalmu telah mengajarkanku untuk lebih mengerti lagi arti bersabar. Mengajarkanku untuk tidak selalu tergesa-gesa. Beberapa perlu diberi ruang. Beberapa perlu diberi waktu. Ada irama yang perlu ditata. Ada ritme yang perlu dijaga. Kenyataannya sesuatu yang berharga tidak selalu mudah untuk dapat memilikinya.

Pun demikian denganmu…

Meski musim telah berganti,  jalan menujumu masih menggantung di antara ikhtiar dan  do’a- do’aku yang menggema di seluruh  penjuru langit. Meski telah kumenangkan hatimu,  kamu tak mudah untuk seutuhnya kumiliki.

Kita sama-sama tahu ini bukan soal hati. Kita juga tahu kita saling mengingini. Namun keadaan kerap menjadi sebab. Kerap menjadi penghalang. Kerap menjadi alasan dua jiwa yang telah menyatu sulit untuk bisa bersatu. Nyatanya cinta saja tak cukup menjadi jawaban dari persoalan yang kita hadapi.

Kita saling menggenggam, namun debar di hati kita terpaksa mesti ditepis habis-habisan tanpa perlu dipahami ataupun dimengerti. Kitapun terjebak di belantara rasa yang menyesakkan. Lalu haruskah kita berhenti sampai di sini ? Bagaimana dengan cinta yang kita miliki ?

Mungkin sejak awal ini sebuah kesalahan. Aku mestinya cukup mengenalmu, bukan malah ingin memilikimu. Aku bukan hanya menyemai benih di pekarangan yang tak boleh kutanami. Aku malah tekun merawat hingga tumbuh merekah memenuhi seluruh halaman. Aku menyulam wajah halaman itu penuh dengan namamu, meski sekian lama telah kupagari dan kulindungi dari dahsyatnya badai berbagai musim.

Namun…

Satu hal yang tak bisa kupungkiri

Perlahan hadirmu begitu indah. Kilau pesonamu terus memancar menembus pagar yang kubangun. Tak mampu ku halau. Tak mampu kutolak. Aku jadi terkesima dan jatuh hati tenggelam di semua tentangmu. Dan kamu tahu ?  Semua tentangmu adalah daya magis yang menyirap hingga aku tak mampu lagi mengenali batas. Pagarku pun runtuh dihujani cinta tanpa jeda dengan hadirmu.

 

Kini kita tiba di persimpangan jalan. Dan kita telah terlanjur jauh melangkah. Kembali bukan yang kita harapkan. Berhenti juga bukan yang kita inginkan. Melanjutkan langkah juga bukan tanpa akibat yang tak terbayangkan. Lalu mana yang akan kita pilih? Barangkali kita perlu sedikit lagi waktu. Sejenak menepi. Sejenak merenungi. Sembari belajar menguatkan hati.

Jika kelak kita dipukul mundur oleh kenyataan dan harus mengakhiri, semoga saat itu kita telah sama-sama siap untuk saling melepaskan. Kita telah sama-sama siap untuk saling merelakan. Tanpa saling menyalahkan. Tanpa ada yang disesalkan. Tanpa ada yang merasa tersakiti. Biarlah ini tersimpan rapat di bilik kenangan, dan tetap menjadi rahasia indah kita berdua.

Saat itu…. , semoga kita telah benar-benar dewasa. Benar-benar matang. Bukan sekedar bertambah angka usia, sehingga  kita sama-sama menyadari, bahwa tak selalu yang telah disatukan hati akan terus bersama hingga abadi.

Barangkali cinta memang tidak pernah salah.  Ia bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja tanpa ada yang bisa menghalangi. Hanya saja untuk kita…

Mungkin cinta datang di waktu yang salah.

Bogor, 22092026

Hd’s

Profil Penulis:

Hadi Suroso. Biasa dipanggil Mr/Mas Bob. Aktivitas keseharian, mengajar Math Cambridge di sekolah Bosowa Bina Insani Bogor, guru Bimbel dan juga guru privat SD sampai SMA untuk persiapan masuk PTN. Mulai menyukai menulis sejak satu tahun terakhir, khususnya Puisi dan Refleksi kehidupan sebagai percikan hikmah. Menulis bisa kapan saja, biasanya saat muncul gagasan dan keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan bagian dari  mengasah jiwa dan menggali hikmah.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *