Saepullah Ungkap Ziarah Syekh Quro sebagai Praktik Dakwah Simbolik di AICIMDS dan KNKI VI ASKOPIS

Dosen IIQ Jakarta, Saepullah, M.A. Hum. (ketiga dari kiri) mempresentasikan penelitian berjudul “Symbolic Da'wah Communication and Ritual Practicing during The Pilgrimage to The Tomb of Syekh Quro in Karawang from The Perspective of George Herbert Mead” dalam Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konferensi Nasional Komunikasi Islam VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KNKI VI ASKOPIS), di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, Rabu–Jumat, 12–14 Agustus 2026. (Foto: Dok IIQ)

Milenianews.com, Jakarta– Saepullah, M.A. Hum. dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta mempresentasikan penelitian berjudul “Symbolic Da’wah Communication and Ritual Practicing during The Pilgrimage to The Tomb of Syekh Quro in Karawang from The Perspective of George Herbert Mead” dalam Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konferensi Nasional Komunikasi Islam VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KNKI VI ASKOPIS).

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pada Rabu–Jumat, 12–14 Agustus 2026 itu mengusung tema “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation.”

Dalam pemaparannya, Saepullah mengangkat tradisi ziarah ke makam Syekh Quro di Pulobata, Karawang Timur, sebagai ruang perjumpaan antara dimensi spiritual, sosial, dan budaya masyarakat. Menurut penelitiannya, makam Syekh Quro tidak hanya menjadi tempat penghormatan kepada ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Tatar Sunda, tetapi juga menjadi medium dakwah kultural yang merekatkan identitas keagamaan dan solidaritas sosial masyarakat setempat.

Baca Juga : Dari IIQ Jakarta ke Forum Internasional: Tiga Dosen Presentasikan Riset di AICIMDS dan KNKI VI ASKOPIS

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi arsip, serta literatur terkait. Analisis dilakukan dengan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan pengodean tematik yang berfokus pada kategori mind, self, dan society.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah dalam tradisi ziarah berlangsung melalui komunikasi simbolik yang tampak dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Doa, tahlil, pembacaan Yasin, ceramah singkat, hingga penjelasan sejarah berjalan beriringan dengan gestur penghormatan, pola duduk, antrean, mencium nisan, dan tata ruang makam. “Seluruh unsur itu membentuk simbol-simbol yang memengaruhi perilaku keagamaan para peziarah,” kata Saepullah.

Saepullah juga menjelaskan bahwa unsur-unsur fisik dan ritual di kompleks makam, seperti batu nisan utama, kain penutup makam, pohon keramat Quldi, tradisi Sabtuan, dan haul, dimaknai sebagai ekspresi penghormatan kepada ulama, ketaatan kepada Allah, dan kesinambungan transmisi spiritual. “Makna tersebut menghadirkan ketenangan batin, kesadaran moral, serta penguatan piety sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Penelitian ini menempatkan kuncen, tokoh agama, dan sesepuh kampung sebagai komunikator penting yang menjaga simbol dan menjelaskan makna ritual kepada peziarah. “Melalui peran mereka, ziarah Syekh Quro dipahami bukan sekadar aktivitas tradisi, melainkan ruang dakwah yang hidup, moderat, dan berakar pada budaya lokal. Saepullah menilai praktik ini dapat menjadi model dakwah kultural yang inklusif di tengah modernisasi, privatisasi agama, dan tantangan era media digital,” papaar Saepullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *