Milenianews.com, Jakarta– Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti, M.A., Ph.D. tampil sebagai pemakalah dalam Annual International Conference on Islam, Media, and Digital Society (AICIMDS) FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Konferensi Nasional Komunikasi Islam VI Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KNKI VI ASKOPIS) yang digelar di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, pada 12–14 Agustus 2026. Dalam forum ilmiah bertema “Media, the Contemporary Muslim World, and Digital Network Society: Authority, Identity, and Social Transformation,” ia memaparkan makalah berjudul “Media Development in Indonesia & the Future of Islamic Dakwah.”
Dalam paparannya, Prof. Andi menegaskan bahwa perkembangan media di Indonesia tidak lagi sekadar perubahan teknologi, melainkan pergeseran besar dalam struktur, proses, dan nilai komunikasi. Ia menjelaskan bahwa ruang media kini ditentukan oleh jejaring platform, algoritma, kreator konten, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara produksi, distribusi, dan visibilitas informasi berlangsung di tengah masyarakat.
Ia memotret kondisi media Indonesia yang semakin terkoneksi, tetapi juga menghadapi ketimpangan akses, disinformasi, polarisasi, serta tekanan ekonomi terhadap industri pers. “Media sosial telah menjadi pintu utama berita bagi banyak pengguna, sementara media lokal dan ruang redaksi menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah perubahan model bisnis digital,” kata Prof. Andi.
Baca Juga : Dari IIQ Jakarta ke Forum Internasional: Tiga Dosen Presentasikan Riset di AICIMDS dan KNKI VI ASKOPIS
Prof. Andi juga menekankan bahwa masa depan dakwah Islam di era digital harus dibangun di atas prinsip komunikasi Islam yang beretika, berorientasi pada kemaslahatan, dan tetap menempatkan manusia sebagai pengendali utama teknologi. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan dapat membantu produksi konten, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia dalam menjaga kebenaran, tabayyun, dan akhlak komunikasi.
Lebih jauh, ia menawarkan gagasan bahwa dakwah di era media digital perlu bergerak menuju ekosistem hibrida yang melibatkan media, platform, kreator, komunitas, publik, dan AI secara seimbang. “Dengan pendekatan itu, dakwah tidak hanya menjadi penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun ruang publik yang demokratis, literat, dan beradab di tengah transformasi sosial yang terus berlangsung,” ujar Prof. Andi M. Faisal Bakti.












