Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir sebagai salah satu instrumen penting dalam dunia pendidikan Indonesia yang bertujuan mengukur capaian belajar siswa secara lebih terstruktur. Di atas kertas, TKA bukan sekadar alat evaluasi, melainkan cermin kualitas pembelajaran yang telah berlangsung. Namun, di balik tujuan ideal tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai relevansi dan efektivitasnya ketika dihadapkan pada realitas literasi pelajar Indonesia yang masih tertinggal dibanding negara tetangga.
Dalam konteks pendidikan modern, kemampuan akademik tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga erat kaitannya dengan literasi. Literasi tidak sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi secara kritis. Sayangnya, berbagai studi internasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi pelajar Indonesia masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat skor literasi membaca Indonesia sebesar 359 poin dan menempatkannya di peringkat bawah secara global. Skor tersebut bahkan menjadi yang terendah sejak tahun 2000, sebuah fakta yang seharusnya menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan nasional.
Baca juga: Siswa Makin Berani, Hormat ke Guru Makin Hilang?
Ketertinggalan literasi di tingkat regional
Ketertinggalan ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam mencatat skor literasi yang lebih tinggi dan menempati posisi yang lebih baik dalam peringkat global.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan literasi di Indonesia bukan sekadar isu internal, melainkan juga tantangan regional yang berdampak pada daya saing bangsa.
Di sinilah letak dilema TKA. Sebagai alat ukur kemampuan akademik, TKA menuntut siswa untuk memahami soal, menganalisis konteks, dan memberikan jawaban yang tepat. Seluruh proses tersebut sangat bergantung pada kemampuan literasi.
Jika fondasi literasi siswa lemah, TKA berpotensi hanya menjadi alat seleksi yang tidak sepenuhnya mencerminkan potensi sebenarnya. Siswa yang memiliki pemahaman konsep yang baik bisa saja gagal menunjukkan kemampuannya karena kesulitan memahami bahasa soal.
Lebih jauh, TKA berisiko memperkuat paradigma pendidikan yang berorientasi pada hasil, bukan proses. Ketika hasil tes dijadikan tolok ukur utama, sekolah dan siswa cenderung fokus pada latihan soal dan hafalan, bukan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan literasi yang mendalam.
Meski demikian, TKA bukan tanpa nilai. Jika dirancang dan digunakan secara tepat, TKA dapat menjadi alat diagnosis yang efektif untuk mengidentifikasi kelemahan siswa, termasuk dalam aspek literasi.
Data yang dihasilkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan sekolah untuk merancang intervensi yang lebih tepat sasaran. Misalnya, jika ditemukan bahwa banyak siswa kesulitan memahami teks panjang, maka kurikulum dapat diperkuat dengan pendekatan literasi yang lebih intensif.
Literasi sebagai budaya, bukan sekadar program
Masalahnya, peningkatan literasi tidak dapat dilakukan hanya melalui kebijakan formal. Literasi adalah budaya, dan budaya tidak bisa dibangun secara instan.
Rendahnya literasi di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari minimnya akses terhadap bahan bacaan, rendahnya minat membaca, hingga metode pembelajaran yang belum sepenuhnya mendorong siswa berpikir kritis. Dalam banyak kasus, siswa lebih terbiasa menerima informasi secara instan daripada mengolahnya secara mendalam.
Perkembangan teknologi juga membawa tantangan tersendiri. Akses informasi memang semakin mudah, tetapi di sisi lain, banjir informasi menuntut kemampuan literasi yang lebih tinggi agar siswa mampu memilah mana informasi yang valid dan mana yang tidak. Tanpa kemampuan tersebut, siswa akan kesulitan menghadapi kompleksitas informasi di era digital.
Membangun fondasi pendidikan yang berbasis literasi
Dalam konteks ini, TKA tidak seharusnya berdiri sendiri. Ia perlu menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang menempatkan literasi sebagai fondasi utama.
Transformasi pendidikan berbasis literasi perlu dimulai dari langkah sederhana namun mendasar. Guru perlu didorong menggunakan metode pembelajaran yang kontekstual dan berbasis pemahaman. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendukung budaya membaca. Orang tua juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca sejak dini.
Jika tidak, TKA hanya akan menjadi simbol formal evaluasi pendidikan tanpa menyentuh akar persoalan. Kita mungkin melihat peningkatan angka, tetapi tanpa perubahan signifikan dalam literasi, kemajuan tersebut bersifat semu.
Pendidikan melampaui angka
Pada akhirnya, esensi TKA bukan terletak pada seberapa tinggi skor yang diperoleh siswa, melainkan pada sejauh mana tes tersebut mampu mencerminkan kualitas pembelajaran yang sesungguhnya.
Kualitas pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari literasi. Tanpa literasi yang kuat, pendidikan akan kehilangan arah, dan TKA hanya menjadi angka tanpa makna.
Baca juga: Indonesia Tak Lagi Buta Huruf, tapi Masih Buta Makna
Indonesia tidak kekurangan potensi. Dengan jumlah penduduk besar dan keragaman budaya, peluang untuk membangun generasi yang cerdas dan kritis sangat terbuka. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud jika literasi ditempatkan sebagai prioritas utama.
TKA dapat menjadi alat bantu, tetapi bukan solusi utama. Yang dibutuhkan adalah fondasi literasi yang kokoh. Sebab pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa sulit soal yang diberikan, tetapi oleh seberapa dalam siswa mampu memahami dunia di sekitarnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











