Kita Terlalu Sibuk Mengejar Viral Sampai Lupa Cara Menghormati Orang Lain

viralitas konten dan empati

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai informasi, hiburan, edukasi, hingga aktivitas sehari-hari kini dapat dibagikan dalam hitungan detik kepada jutaan orang. Kehadiran platform digital membuka peluang besar bagi siapa saja untuk berkarya, berkomunikasi, dan membangun pengaruh.

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat fenomena yang patut menjadi perhatian bersama. Belakangan ini semakin banyak konten yang menjadikan orang berkebutuhan khusus sebagai bahan hiburan demi memperoleh perhatian publik dan mengejar viralitas.

Fenomena ini muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang meniru cara berbicara, ekspresi wajah, gerak tubuh, maupun kondisi tertentu yang dimiliki sebagian penyandang disabilitas atau orang berkebutuhan khusus. Konten tersebut kemudian dikemas sebagai lelucon, parodi, atau hiburan ringan yang diharapkan mampu mengundang tawa penonton. Tidak jarang, konten semacam ini memperoleh jutaan tayangan, ribuan komentar, dan berbagai bentuk apresiasi dari pengguna media sosial.

Baca juga: Pengaruh Endorsement Influencer Viral Seperi Daehon karena Kasus Korban Perselingkuhan dalam Promosi Brand: Analisis Teori Two-Step Flow Komunikasi

Ketika keterbatasan menjadi komoditas

Persoalan yang perlu mendapat perhatian bukan sekadar banyaknya penonton yang menikmati konten tersebut, melainkan munculnya anggapan bahwa perilaku semacam itu merupakan sesuatu yang wajar. Ketika keterbatasan seseorang dijadikan bahan hiburan, nilai-nilai kemanusiaan perlahan mengalami pengikisan.

Kondisi yang seharusnya dipahami dengan empati justru diperdagangkan sebagai komoditas untuk meraih popularitas, perhatian publik, bahkan keuntungan. Di sinilah persoalan utamanya. Kita tidak lagi hanya berbicara tentang konten hiburan, tetapi juga tentang cara masyarakat memandang sesama manusia.

Dalam kehidupan sosial, setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Tidak ada seorang pun yang memilih dilahirkan dengan kondisi tertentu, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Oleh karena itu, menjadikan kondisi mereka sebagai bahan candaan pada dasarnya sama dengan menempatkan mereka sebagai objek, bukan sebagai manusia yang memiliki hak dan perasaan yang sama seperti orang lain.

Budaya viral dan pudarnya kepekaan sosial

Lebih memprihatinkan lagi, fenomena ini berkembang di tengah masyarakat yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kesopanan, tenggang rasa, dan gotong royong. Bangsa Indonesia dibangun di atas semangat menghargai sesama tanpa membedakan suku, agama, status sosial, maupun kondisi fisik seseorang.

Nilai-nilai tersebut bahkan diajarkan sejak usia dini melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Akan tetapi, derasnya arus media sosial tampaknya mulai menggeser sebagian nilai tersebut menjadi budaya yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan kepedulian.

Budaya mengejar viralitas sering kali membuat sebagian orang mengabaikan batas antara kreativitas dan penghormatan terhadap sesama. Selama sebuah konten mampu menghasilkan banyak penonton, sebagian kreator merasa bahwa cara apa pun dapat dibenarkan. Padahal, tidak semua yang viral layak untuk ditiru dan tidak semua yang menghibur memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial.

Tantangan bagi pendidikan dan keluarga

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan dan keluarga. Anak-anak serta remaja yang tumbuh di era digital menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber pembelajaran mereka. Apa yang mereka lihat setiap hari akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan orang lain.

Ketika mereka terus-menerus disuguhi konten yang menormalisasi ejekan terhadap kelompok tertentu, maka bukan tidak mungkin perilaku tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik secara akademik. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter yang berlandaskan moral, etika, dan rasa kemanusiaan. Kemampuan menghormati orang lain, memahami perbedaan, serta menunjukkan empati merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang harus terus ditanamkan.

Peran orang tua pun menjadi sangat penting. Pendampingan terhadap penggunaan media sosial tidak cukup hanya dengan membatasi waktu penggunaan gawai. Orang tua juga perlu mengajak anak berdiskusi mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam setiap konten yang mereka konsumsi.

Media sosial yang lebih manusiawi

Di sisi lain, para kreator konten juga memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Sebagai pihak yang memiliki pengaruh terhadap jutaan pengguna media sosial, mereka memiliki kesempatan besar untuk membangun budaya digital yang lebih sehat.

Kreativitas sesungguhnya tidak pernah kekurangan ruang. Masih banyak cara untuk menciptakan hiburan yang menarik tanpa harus menjadikan kondisi orang lain sebagai bahan tertawaan.

Orang berkebutuhan khusus bukan kelompok yang perlu dikasihani secara berlebihan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Banyak di antara mereka yang mampu meraih prestasi luar biasa di bidang pendidikan, olahraga, seni, maupun berbagai bidang lainnya.

Baca juga: Dari Mimbar ke Media Sosial: Analisis Semiotik Dakwah Kontemporer Melalui Kacamata Roland Barthes

Media sosial akan selalu berkembang mengikuti zaman. Teknologi juga akan terus menghadirkan berbagai kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagi informasi. Namun, kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan kematangan moral penggunanya. Semakin luas jangkauan media sosial, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.

Masyarakat yang beradab tidak diukur dari seberapa cepat mereka membuat sesuatu menjadi viral, melainkan dari kemampuan mereka menjaga rasa hormat terhadap sesama. Ketika empati masih menjadi landasan dalam berinteraksi, media sosial dapat menjadi ruang yang membawa manfaat bagi banyak orang. Sebaliknya, ketika keterbatasan orang lain dijadikan hiburan, yang sedang dipertontonkan bukan hanya sebuah konten, melainkan juga krisis kepedulian yang perlu segera disadari dan diperbaiki bersama.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *