Ironi Ekonomi Hijau: Mengapa Produk Daur Ulang Justru Lebih Mahal?

bumi

Oleh: Asmansyah, S.A.P., M.A.P.

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pernahkah kita berdiri di depan rak supermarket lalu dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman? Di satu sisi ada produk konvensional dengan harga lebih murah. Di sisi lain ada produk daur ulang yang diklaim lebih ramah lingkungan, tetapi harganya justru lebih mahal.

Di titik itu, niat untuk berkontribusi menjaga bumi sering kali bertabrakan dengan kenyataan isi dompet. Keinginan berbuat baik mendadak terasa mahal. Seolah-olah kepedulian terhadap lingkungan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih.

Padahal, secara logika sederhana, barang yang berasal dari limbah atau sampah seharusnya memiliki harga yang lebih murah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Produk daur ulang sering kali dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan produk berbahan baku baru.

Baca juga: Kurangi Plastik, Selamatkan Bumi: Langkah Kecil Untuk Lingkungan Lebih Asri

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang layak direnungkan: apakah merawat bumi perlahan berubah menjadi hak istimewa kalangan tertentu?

Tingginya harga produk daur ulang sebenarnya bukan semata-mata karena strategi pemasaran perusahaan yang menumpang tren lingkungan. Jika ditelusuri lebih dalam, persoalannya jauh lebih kompleks. Harga mahal tersebut lahir dari rantai pasok yang belum efisien dan ketimpangan skala produksi yang masih terjadi dalam industri daur ulang.

Kita sedang berhadapan dengan realitas bahwa sistem ekonomi saat ini belum sepenuhnya mendukung masyarakat yang ingin berkontribusi menjaga lingkungan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan heran apabila masyarakat berpenghasilan rendah tetap memilih produk plastik sekali pakai. Bukan karena mereka tidak peduli terhadap lingkungan, melainkan karena mereka harus lebih dahulu memikirkan kebutuhan hidup hari ini daripada ancaman lingkungan puluhan tahun ke depan.

Ekonomi hijau tidak akan pernah berhasil jika hanya dapat diakses oleh kelompok masyarakat tertentu, sementara mayoritas masyarakat tidak mampu menjangkaunya.

Membongkar mitos “bahan baku gratis”

Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami industri daur ulang adalah anggapan bahwa bahan bakunya berasal dari sampah sehingga otomatis gratis.

Kenyataannya tidak demikian. Ada biaya besar yang harus dikeluarkan untuk mengubah barang yang sudah dibuang menjadi produk yang kembali layak digunakan.

Perjalanan sampah plastik hingga menjadi produk baru sangat panjang. Tantangan pertama adalah proses pemilahan. Berbagai jenis plastik harus dipisahkan berdasarkan karakteristiknya. Proses ini membutuhkan teknologi dan peralatan khusus yang nilainya tidak murah.

Masalah berikutnya adalah kebersihan. Sampah yang masuk ke industri daur ulang umumnya berada dalam kondisi kotor, bercampur dengan berbagai limbah lain, bahkan berpotensi terkontaminasi bakteri maupun zat kimia berbahaya.

Untuk menghasilkan produk yang aman digunakan, terutama yang memenuhi standar food grade, proses pencucian harus dilakukan berulang kali. Tahapan ini membutuhkan air, energi, tenaga kerja, dan waktu yang tidak sedikit.

Dengan kata lain, bahan baku memang berasal dari sampah, tetapi proses untuk menjadikannya kembali bernilai justru memerlukan biaya yang besar.

Benturan skala ekonomi

Alasan lain yang membuat produk daur ulang tetap mahal adalah persoalan skala ekonomi.

Sebagian besar industri daur ulang masih beroperasi dalam skala yang relatif kecil. Karena volume produksinya terbatas, biaya operasional yang tinggi akhirnya dibebankan kepada harga jual produk.

Situasinya berbeda dengan industri plastik konvensional yang telah berkembang selama puluhan tahun. Mereka memproduksi dalam jumlah sangat besar sehingga biaya produksi per unit menjadi jauh lebih murah.

Inilah yang membuat plastik sekali pakai terlihat sangat murah di pasaran.

Masalahnya, harga murah tersebut sesungguhnya menyimpan biaya yang tidak pernah dihitung dalam mekanisme pasar. Kerusakan lingkungan, pencemaran sungai, timbunan sampah, hingga biaya pemulihan ekosistem tidak masuk ke dalam harga produk.

Biaya itu pada akhirnya dibayar oleh masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan terhadap dampak lingkungan.

Karena itu, harga plastik konvensional sebenarnya tidak benar-benar murah. Sebagian biaya produksinya hanya dipindahkan menjadi beban sosial dan ekologis yang harus ditanggung bersama.

Baca juga: Ciputat Kebanjiran Sampah, Pemerintah Kebanjiran Alasan

Ekonomi hijau harus menjadi milik semua orang

Ekonomi hijau tidak akan terwujud hanya melalui slogan dan kampanye yang terdengar indah. Negara perlu hadir melalui kebijakan yang mampu memperkuat industri daur ulang dan membuat produk ramah lingkungan lebih terjangkau.

Insentif bagi industri hijau, dukungan teknologi, penguatan sistem pengelolaan sampah, hingga edukasi masyarakat perlu berjalan secara bersamaan. Tanpa itu, produk ramah lingkungan akan terus dianggap sebagai barang premium yang hanya dapat dinikmati segelintir orang.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi hijau tidak diukur dari banyaknya kampanye lingkungan yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana masyarakat biasa dapat ikut terlibat tanpa harus terbebani biaya yang mahal.

Sebab bumi yang lestari tidak bisa dijaga oleh sebagian orang saja. Ia hanya bisa terwujud ketika seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam menjaganya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *