Indonesia Tak Lagi Buta Huruf, tapi Masih Buta Makna

literasi di indonesia

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com – Tingkat literasi Indonesia pada tahun 2026 menghadirkan gambaran yang tidak sederhana. Di satu sisi, capaian angka melek huruf nasional yang telah menembus 96,67% menjadi bukti bahwa akses dasar terhadap pendidikan terus mengalami kemajuan. Hal ini merupakan hasil dari berbagai upaya panjang pemerintah dan masyarakat dalam memperluas jangkauan pendidikan hingga ke pelosok negeri.

Namun, di sisi lain, capaian tersebut justru membuka kenyataan baru: persoalan literasi tidak lagi sekadar tentang kemampuan membaca dan menulis, melainkan tentang bagaimana memahami, mengolah, dan memaknai informasi secara mendalam.

Baca juga: Menjaga Akal di Era Digital, Antara Perintah Berpikir dan Ancaman “Brain Rot”

Fenomena yang muncul saat ini dapat disebut sebagai “krisis kedalaman literasi”. Masyarakat Indonesia semakin aktif mengonsumsi berbagai bentuk informasi, terutama melalui media digital. Arus konten yang deras di media sosial menjadikan aktivitas membaca semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tren seperti BookTok dan Bookstagram bahkan berhasil mengubah citra membaca menjadi lebih menarik dan relevan, khususnya bagi generasi muda. Namun, peningkatan minat tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan kemampuan literasi yang memadai. Banyak individu mampu membaca dengan cepat, tetapi belum tentu mampu memahami isi bacaan secara kritis, apalagi memverifikasi kebenaran informasi yang diterima.

Rendahnya literasi siswa dan tantangan pendidikan

Kondisi ini tercermin dalam capaian literasi dan numerasi siswa yang masih tergolong rendah. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 25% siswa yang mencapai kecakapan minimum dalam membaca, dan bahkan lebih rendah dalam matematika, yakni sekitar 18%.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta didik masih berada pada tahap memahami teks secara permukaan. Mereka belum sampai pada kemampuan analisis, refleksi, dan evaluasi informasi. Kondisi ini menjadi tantangan serius, terutama di tengah era informasi yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan adaptif.

Di sisi lain, tingkat kegemaran membaca masyarakat yang berada di angka 54,8 poin menunjukkan adanya perbaikan, meskipun masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hal ini menandakan bahwa budaya membaca mulai tumbuh, tetapi belum mengakar kuat sebagai kebutuhan utama.

Membaca masih sering dipandang sebagai aktivitas tambahan, bukan sebagai bagian penting dari proses belajar sepanjang hayat.

Literasi digital dan risiko pemahaman semu

Kondisi serupa juga terlihat dalam literasi keuangan digital. Meskipun tingkat literasi keuangan telah mencapai 65,43%, laju inklusi atau akses terhadap layanan keuangan berkembang lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat terhadap produk tersebut.

Artinya, banyak masyarakat telah menggunakan layanan keuangan digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko dan manfaatnya. Situasi ini berpotensi menimbulkan masalah baru jika tidak diimbangi dengan edukasi yang memadai.

Jika ditarik lebih luas, posisi Indonesia yang masih berada di peringkat bawah dalam survei PISA 2022 menjadi pengingat bahwa persoalan literasi merupakan pekerjaan besar yang belum selesai. Skor membaca yang masih berada di bawah rata-rata global menunjukkan bahwa peningkatan literasi tidak cukup hanya mengandalkan akses.

Diperlukan peningkatan kualitas pembelajaran, metode pengajaran yang relevan, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya berpikir kritis.

Baca juga: Urgensi Pendidikan Karakter di Era Digital

Pada akhirnya, tingkat literasi Indonesia pada 2026 mencerminkan sebuah fase transisi. Kita tidak lagi menghadapi persoalan buta huruf dalam arti sempit, melainkan tantangan yang jauh lebih kompleks.

Tantangan tersebut adalah membangun masyarakat yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga mampu memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak. Di tengah derasnya arus digital, literasi bukan lagi sekadar kemampuan dasar, melainkan fondasi utama dalam menentukan arah kemajuan bangsa.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *