Tetumbuhan dan Pepohonan Sujud kepada Allah

Dr. KH.  Syamsul Yakin MA. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Mata Akademisi– Allah menegaskan, “Dan tetumbuhan dan pepohonan keduanya sujud kepada-Nya.” (QS. al-Rahman/55: 6)  Yang dimaksud sujud di dalam ayat ini adalah tunduk.

Pengarang Tafsir Jalalain, membedakan antara al-Najm dan al-Syajar. Tetumbuhan yang tidak mempunyai batang disebut al-Najm. Syaikh Nawawi menyebutnya sebagai tetumbuhan yang merambat. Sementara  tetumbuhan yang memiliki batang dinamakan al-Syajar. Baik al-Najm maupun al-Syajar, keduanya tunduk kepada apa yang dikehendaki Allah.

Namun al-Najm, seperti selama ini dipahami, berarti bintang. Ibnu Katsir menuliskan itu dengan mengacu kepada pendapat ahli tafsir masa  awal seperti Mujahid dan Qatadah.

Dalilnya adalah firman Allah, “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar  manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.” (QS. al-Hajj/22: 18).

Namun tampaknya, makna al-Najm dalam ayat ini lebih tepat seperti yang dikatakan oleh pengarang  Tafsir Jalalain dan Syaikh Nawawi. Alasannya, al-Najm yang berarti tetumbuhan tak berbatang beriringan dengan al-Syajar yang berarti pepohonan yang berbatang.

Di luar soal itu, yang jelas ayat ini merupakan konstruksi nikmat yang ada di bumi, setelah sebelumnya Allah memaparkan nikmat yang ada di langit berupa keteraturan matahari dan bulan serta turunannya. Maka pantas kalau al-Maraghi menyebut surah al-Rahman sebagai surah yang berjejal nikmat di dalamnya.

Bagi al-Maraghi, bukti ketundukan tetumbuhan dan pepohonan kepada Allah adalah bentuk, warna, ukuran, rasa, dan buahnya yang berbeda-beda. Semua itu bukti bahwa keduanya tunduk terhadap kehendak Allah Yang Maha Perkasa.

Selain itu, Syaikh Nawawi menuturkan bukti tunduk keduanya kepada kekuasaan Allah adalah bahwa mereka keluar dari dalam tanah tanpa ada yang kuasa menahan kemudian berdiri kokoh tanpa ada yang menopang. Pergerakan  mereka ini disamakan dengan tunduk kepada Allah.

Sayyid Quthb memahami ayat ini sebagai bentuk kepatuhan tetumbuhan dan pepohonan dalam rangka beribadah kepada Allah. Bukan hanya mereka, langit yang tujuh juga tunduk kepada Allah dan bertasbih.

Allah memberi informasi, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. al-Israa/17: 44). Tentu memahami tasbih mereka jadi penjelajahan ilmu dan spiritual menarik.

Di lain ayat, Allah menyampaikan, “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya.” (QS. al-Nuur/24: 41).

Jadi semua makhluk di kolong langit ini Allah ciptakan mempunyai cara masing-masing untuk tunduk kepada Allah.

Penulis: Dr. KH.  Syamsul Yakin MA.,  Dai Lembaga Dakwah Darul Akhyar (LDDA) Kota Depok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *