News  

Agro-Maritim Jadi Arah Baru, Maluku Utara Cari Jalan Keluar dari Ketergantungan Nikel

prof. rokhmin dakhuri

Milenianews.com, Ternate – Di sebuah ballroom hotel di tepi laut Ternate, percakapan tentang masa depan Maluku Utara mengalir pelan namun penuh bobot. Bukan sekadar angka-angka ekonomi yang dibahas, melainkan sebuah kegelisahan lama: mengapa daerah yang kaya justru belum sepenuhnya sejahtera?

Pertanyaan itu menggantung di udara saat Rokhmin Dahuri berbicara. Anggota Komisi IV DPR RI itu tak menutup-nutupi kenyataan: pertumbuhan ekonomi tinggi di Maluku Utara belum otomatis berarti kesejahteraan bagi masyarakatnya.

“Kalau bertumpu pada sektor ekstraktif, dampaknya cenderung tidak merata,” ujarnya tegas.

Baca juga: Halal Bi Halal Himpunan Alumni IPB Kota Bogor, Prof. Rokhmin Dahuri: Umat Islam adalah Umat Terbaik

Selama ini, denyut ekonomi Maluku Utara memang banyak digerakkan oleh tambang—terutama nikel. Angka pertumbuhan melesat, tapi di balik itu, distribusi manfaat masih terasa timpang. Sebuah paradoks yang diam-diam menggerogoti fondasi pembangunan.

Namun siang itu, diskusi tidak berhenti pada kritik. Ada arah baru yang mulai dirumuskan. Bagi Rokhmin Dahuri, jawabannya justru terbentang luas di depan mata: laut Maluku Utara.

Potensinya besar, bahkan melimpah. Tapi ironisnya, baru sekitar 61 persen yang dimanfaatkan. Sisanya? Masih mengendap sebagai peluang yang belum disentuh. Masalahnya bukan pada ikan yang tak ada, melainkan sistem yang belum siap.

Tak cukupnya cold storage, minimnya industri pengolahan, hingga distribusi yang belum efisien membuat hasil laut kehilangan nilai tambahnya. Nelayan bekerja keras, tapi keuntungan terbesar sering berhenti di luar daerah.

“Nilai tambahnya belum dinikmati secara optimal oleh nelayan,” kata Rokhmin, seolah merangkum masalah yang selama ini dianggap biasa.

Membangun dari Laut, Bukan Sekadar Mengambil

maluku utara

Di sisi lain ruangan, Sherly Tjoanda menyampaikan nada yang sama, namun dengan penekanan pada aksi. Pemerintah Provinsi Maluku Utara, katanya, sedang mengarahkan langkah ke ekonomi biru—sebuah pendekatan yang tidak hanya mengeksploitasi, tapi juga menjaga dan memberi nilai tambah.

“Kita ingin membangun ekonomi dari laut untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Selama ini, Maluku Utara terlalu lama berada di posisi sebagai pemasok bahan mentah. Ikan ditangkap, lalu pergi. Nilainya tumbuh di tempat lain. Bagi Sherly, pola itu harus diakhiri.

“Kita tidak boleh terus menjual dalam bentuk mentah,” katanya. “Nilai tambah itu harus tinggal di sini.”

Kalimat itu sederhana, tapi implikasinya besar: membangun industri, memperkuat rantai pasok, dan—yang paling sulit—mengubah cara berpikir.

Di tengah diskusi, muncul satu konsep yang terdengar teknis namun sebenarnya sangat kontekstual: agro-maritim. Gagasan ini menghubungkan laut dan darat dalam satu sistem ekonomi yang saling menguatkan—perikanan, budidaya, pertanian, hingga industri pengolahan berjalan dalam satu ekosistem.

Bagi wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, pendekatan ini bukan pilihan alternatif. Ia adalah keniscayaan. Dengan integrasi itu, efeknya tidak kecil. Pendapatan masyarakat berpotensi meningkat, ketahanan pangan menguat, dan ekonomi daerah tidak lagi bergantung pada satu sektor yang rapuh terhadap fluktuasi global.

PR Besar: Dari Wacana ke Eksekusi

Namun, semua gagasan itu datang dengan syarat. Transformasi tidak akan terjadi hanya dengan forum dan diskusi. Dibutuhkan peta jalan yang jelas, sumber daya manusia yang siap, stabilitas sosial, dan kepemimpinan yang konsisten.

Pendekatan penta helix—melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media—juga disebut sebagai kunci agar perubahan ini tidak berhenti di atas kertas. Di titik ini, tantangan sebenarnya mulai terlihat: bukan pada ide, tapi pada keberanian menjalankan.

Forum diskusi pada 11 April 2026 itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tapi maknanya lebih panjang dari itu. Ia menjadi penanda bahwa Maluku Utara tidak kekurangan visi. Arah sudah mulai terlihat: dari ekonomi yang mengekstraksi, menuju ekonomi yang memberdayakan.

Baca juga: Ketergantungan Besar Maluku Utara  terhadap Nikel Timbulkan Risiko Ketimpangan Ekonomi, Prof. Rokhmin Usulkan Pendekatan Agro-maritim

“Kalau kita kelola dengan baik, laut Maluku Utara bisa menjadi sumber kesejahteraan yang luar biasa,” ujar Rokhmin.

Optimisme itu disambut oleh Sherly, dengan nada yang lebih membumi.

“Kita ingin memastikan kekayaan alam ini benar-benar dirasakan oleh rakyat.”

Dan di antara dua pernyataan itu, terselip harapan yang sederhana namun krusial: bahwa suatu hari nanti, angka pertumbuhan tidak lagi berdiri sendiri—melainkan berjalan seiring dengan kesejahteraan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *