Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Noryangjin, katanya jika ingin melihat wajah lain Seoul, maka perlu datang ke sini. Bukan Seoul dengan gemerlap Gangnam, deretan toko kosmetik di Myeongdong, atau kafe minimalis di Hannam-dong. Noryangjin menghadirkan sisi kota yang lebih jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah kepungan gedung pencakar langit, pasar ini menunjukkan bahwa Seoul tetaplah kota pelabuhan yang hidup dari tradisi. Di sini, hasil laut segar berpindah dari tangki kaca menuju meja makan, atau bahkan dikirim ke berbagai negara. Semua berlangsung cepat, sibuk, tetapi teratur.
Baca juga: Seoul, Si Kota Futuristik yang Tetap Muslim Friendly
Saya tiba di Stasiun Noryangjin saat pagi mulai berjalan. Udara Seoul terasa sejuk dan bersih. Dari stasiun, petunjuk menuju pasar sangat mudah diikuti. Di sepanjang jalan sudah ada kios kecil dan warung makan yang buka, tetapi saya memilih terus berjalan. Sarapan terbaik tampaknya menunggu di dalam pasar.
Dari jembatan penyeberangan, aktivitas pasar mulai terlihat. Truk pengangkut hasil laut hilir mudik, orang-orang berjalan cepat menuju tujuan yang sama: ikan dan hasil laut segar.
Pasar laut yang hidup dan penuh gerak

Saya berhenti sejenak di pintu masuk, menikmati momen sebelum benar-benar masuk ke pasar ikan terbesar di Korea Selatan, Noryangjin Fisheries Wholesale Market.
Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah. Cahaya neon putih memantul di lantai pasar yang selalu basah. Suara ember bergesekan, percikan air, dan percakapan pedagang bercampur menjadi bunyi khas yang terus bergerak.
Di kanan dan kiri, deretan tangki kaca dan akuarium besar dipenuhi hasil laut segar. Gurita merayap di dinding kaca, kepiting bergerak di dasar bak, lobster perlahan menggerakkan capitnya, sementara ikan-ikan besar berenang dalam ruang sempit.
Saya berjalan pelan agar tidak melewatkan detail kecil.
Para pedagang mengenakan sepatu bot tinggi dan celemek tahan air. Mereka berdiri sigap di belakang lapak, menawarkan dagangan dengan ramah. Ketika ada pengunjung tertarik, mereka langsung mengangkat ikan atau kepiting untuk menunjukkan kesegarannya.
Di sini, pedagang bukan hanya penjual. Mereka seperti kurator hasil laut.
Semakin masuk ke dalam, suasana semakin ramai. Warga lokal bercampur dengan wisatawan. Ada yang serius berbelanja, ada juga yang sekadar menikmati atmosfer pasar.
Saya sempat berhenti di sebuah lapak besar. Penjualnya dengan antusias mengangkat seekor kerapu hidup berukuran besar dari dalam tangki. Ikan itu masih bergerak aktif ketika ditunjukkan kepada saya.
Kami tidak berbicara dalam bahasa yang sama, tetapi senyum dan anggukan sudah cukup untuk saling mengerti.
Di pasar ini, pengunjung bisa membeli hasil laut segar lalu membawanya ke lantai atas untuk dimasak di restoran. Namun karena datang sendirian, saya memilih langsung makan di restoran tanpa membeli ikan mentah.
Menikmati laut dari lantai dua

Saya naik lift menuju lantai restoran. Di dalam lift, beberapa pengunjung membawa kantong plastik berisi king crab dan ikan segar yang baru dibeli. Ada capit kepiting yang masih bergerak keluar dari kantong. Begitu pintu lift terbuka, suasana langsung berubah lebih hangat. Aroma laut yang tajam berganti dengan harum tumisan bawang putih dan jahe dari dapur-dapur terbuka.
Deretan restoran kecil berjajar rapat. Suara pedagang digantikan denting alat masak dan obrolan pengunjung yang ramai. Beberapa kelompok tampak menikmati makan sambil bersulang soju. Karena tidak membawa hasil laut dari bawah, saya masuk ke restoran dengan menu tetap. Ruangannya sederhana, didominasi meja kayu panjang yang rapat tanpa banyak privasi antar pengunjung. Justru dari suasana seperti itu terasa bahwa saya sedang berada di tengah kehidupan lokal Seoul.
Saya memesan mo-eum hoe, sashimi campur, lalu maeuntang, sup ikan pedas, lengkap dengan semangkuk nasi putih. Tak lama kemudian, berbagai banchan khas Korea memenuhi meja. Kimchi, saus, acar, hingga wasabi tersaji sebagai pelengkap.
Sashimi datang lebih dulu. Potongan flounder putih dan salmon berlemak diiris cukup tebal, berbeda dengan sashimi yang biasa saya temui di restoran Jepang di Jakarta. Saya mengambil daun selada dan perilla, meletakkan sepotong ikan di atasnya, lalu menambahkan sedikit saus. Rasanya segar, gurih, dan sedikit pedas dengan aroma herbal yang ringan.
Baca juga: Makau, Jejak Budaya dan Rasa di Persimpangan Portugis dan China
Setelah itu datang maeuntang dalam panci logam kecil yang masih mengepul. Kuah merahnya berasal dari bubuk cabai Korea. Rasanya pedas, gurih, dan hangat.
Menurut kebiasaan lokal, potongan ikan biasanya dimakan lebih dulu, lalu sisa kuah dicampur nasi hingga habis. Saya memilih cara sendiri. Potongan ikan saya makan bersama nasi sejak awal, seperti menikmati sop ikan di rumah makan Indonesia. Caranya berbeda, tetapi rasa nyaman yang muncul ternyata mirip.
Pagi itu di Noryangjin bukan hanya soal makan seafood segar. Ada pengalaman melihat bagaimana laut menjadi bagian dari kehidupan Seoul, bergerak dari pasar, dapur, lalu tiba di meja makan dengan cara yang sangat Korea.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.












