Ladong, Rasa Laut dan Bebek Kuntilanak dari Pesisir Aceh

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya berada di Kampung Ladong, sebuah kawasan pesisir di Aceh yang menyimpan jejak sejarah panjang. Di sini berdiri Benteng Indra Patra, peninggalan abad ke-7 dari Kerajaan Lamuri. Benteng ini menjadi penanda bahwa pengaruh Hindu pernah hadir lebih dulu di Aceh, jauh sebelum Kesultanan Aceh yang Islami berkembang.

Kampung Ladong terletak di tepi pantai yang relatif tenang. Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, dan pantainya menjadi ruang wisata lokal. Di sisi darat, kawasan ini dikelilingi bukit kapur yang membentuk lanskap khas, berpadu dengan pepohonan rindang yang membuat suasana terasa sejuk.

Namun, tujuan saya ke Ladong bukan untuk menelusuri jejak sejarah semata. Saya datang untuk menikmati alamnya, sekaligus memenuhi undangan dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Aceh, atau Politeknik KP Aceh, sebuah lembaga pendidikan yang berperan dalam membentuk generasi baru sektor maritim.

Baca juga: Barelang, Menyusuri Jembatan dan Sunyi di Selatan Batam

Mendidik generasi maritim

politeknik kp

Politeknik KP Aceh memiliki empat pilar utama: Nautika Kapal Penangkap Ikan, Teknik Kapal Penangkap Ikan, Agribisnis Perikanan, serta Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan. Lulusannya menyandang gelar Diploma Tiga dan telah tersebar di berbagai wilayah, bahkan hingga ke luar negeri.

Sebagai pendidikan vokasi penuh, sistem yang diterapkan berbasis asrama. Para siswa tinggal dan menjalani pendidikan dengan disiplin tinggi. Program ini sebagian besar disubsidi negara, dengan prioritas bagi anak-anak dari keluarga nelayan, pembudidaya, dan pelaku usaha perikanan.

Hari di kampus dimulai sebelum matahari terbit. Saat langit masih gelap, bunyi peluit membangunkan para siswa. Mereka segera berbaris rapi, menjalani latihan fisik dan pembentukan mental. Di dunia maritim, ketepatan waktu, daya tahan fisik, dan kerja sama tim bukan sekadar nilai, melainkan kebutuhan.

Dari Jalan Krueng Raya menuju Banda Aceh, kampus ini terlihat menghadap laut. Dari kejauhan, kadang terlihat siswa berlari di lapangan. Mereka adalah bagian dari generasi muda yang dipersiapkan untuk menjaga masa depan negara kepulauan.

Rasa Aceh dalam jejak perdagangan dunia

Membicarakan Aceh tidak lengkap tanpa menyentuh kulinernya. Masakan Aceh adalah hasil pertemuan berbagai budaya yang pernah singgah di wilayah ini: Arab, India, China, hingga Persia.

Pengaruh India terlihat kuat dalam penggunaan rempah seperti ketumbar, kapulaga, kayu manis, jintan, dan cengkih. Banyak hidangan berkuah kental yang berakar dari tradisi kari. Pengaruh Arab dan Persia hadir dalam olahan daging kambing, sementara pengaruh China tampak pada hidangan seperti mi goreng Aceh.

Di antara bahan lokal, ada dua yang menjadi kunci rasa: asam sunti dan u neulheu. Asam sunti berasal dari belimbing wuluh yang dikeringkan, memberikan rasa asam lembut sekaligus menghilangkan aroma amis pada ikan. Sementara u neulheu adalah kelapa parut yang disangrai hingga menjadi pasta, menghasilkan rasa gurih yang berbeda dari santan.

Engkot Yee, tradisi yang mulai berubah

Salah satu kuliner khas Aceh adalah engkot yee, hidangan berbahan dasar ikan hiu. Tidak banyak daerah yang memiliki tradisi mengolah ikan hiu, dan di Aceh, hidangan ini menjadi bagian dari warisan pesisir.

Daging hiu memiliki tekstur padat dan kenyal, tetapi juga aroma yang cukup kuat. Proses pengolahan menjadi penting, biasanya menggunakan jeruk nipis dan asam sunti untuk menetralkan bau tersebut.

Salah satu olahan yang populer adalah asam keu eung, yaitu hiu dalam kuah kuning asam pedas.

Namun, seiring meningkatnya kesadaran terhadap konservasi laut, konsumsi hiu mulai berkurang. Banyak jenis hiu kini dilindungi, sehingga hidangan ini mulai digantikan oleh ikan lain seperti cucut atau pari yang memiliki tekstur serupa.

Bebek Kuntilanak dan jalanan menujunya yang gelap

rm bebek kuntilanak

Perjalanan kuliner saya berlanjut ke sebuah tempat yang unik. Saya diajak mencoba “bebek kuntilanak”, nama yang terdengar menyeramkan, tetapi justru memancing rasa penasaran.

Nama ini bukan karena suasananya angker, melainkan karena warungnya buka menjelang tengah malam hingga dini hari.

Lokasinya sekitar 10 kilometer dari pusat kota menuju arah selatan, ke kawasan Peukan Biluy. Jalan yang dilalui semakin sempit, masuk ke jalan desa tanpa penerangan. Kami sempat kebingungan di beberapa persimpangan.

“Kok begini?” saya bertanya.

“Namanya juga cari kuntilanak,” jawab teman saya sambil tertawa.

Warung ini bernama Sie Itek Pak Nasir. Menu yang ditawarkan sederhana: gulai bebek dengan nasi putih dan kerupuk opak. Tidak banyak pilihan, tetapi justru di situ kekuatannya.

Baca juga: Salatiga Kini, Kota yang Tak Lagi Sekadar Dilewati

Dapur terbuka membuat pengunjung bisa melihat langsung proses memasak. Pak Nasir berdiri di depan kompor, melayani sekaligus berbincang dengan pelanggan. Kami duduk di kursi sederhana, dikelilingi aroma gulai yang mengepul dari kuali.

Suasana hangat terasa di tengah malam yang sunyi. Tawa pengunjung sesekali terdengar, menyatu dengan aroma rempah yang kuat.

Bebek kuntilanak menjadi bukti sederhana bahwa dalam kuliner Aceh, rasa sering kali lebih kuat daripada kesan pertama. Bahkan nama yang menyeramkan pun tidak mampu menahan orang untuk datang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *