Jakarta Jadi Penutup Belajaraya 2026, Fokus pada Solusi Pendidikan Inklusif

Sesi diskusi panel bersama para narasumber dalam press conference Belajaraya Jakarta 2026
Sesi diskusi panel bersama para narasumber dalam press conference Belajaraya Jakarta 2026

Milenianews.com, Jakarta – Saat pendidikan masih sering diperdebatkan di meja rapat dan dijadikan janji di panggung seremoni, ada sekelompok orang yang memilih cara lebih sederhana yaitu bekerja bareng. Bukan saling klaim, bukan saling unggah pencapaian, melainkan duduk bersama, bertukar ide, lalu bergerak. Dari semangat itulah Belajaraya 2026 hadir mengingatkan publik bahwa memperbaiki pendidikan tak cukup dengan pidato tahunan setiap Hari Pendidikan Nasional.

Baca juga: Motor Listrik untuk SPPG, Ketika Niat Baik Bertabrakan dengan Luka Lama Pendidikan

Pada 2 Mei 2026, Taman Ismail Marzuki akan menjadi lokasi Belajaraya Jakarta, penutup rangkaian festival pendidikan yang telah digelar di Bali, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, Jogja, Kupang, dan kota lainnya. Tema yang diusung pun terdengar sederhana namun justru paling sulit diwujudkan: “Merayakan Kerja Barengan untuk Ekosistem Pendidikan”.

Sebab faktanya, pendidikan di Indonesia kerap diperlakukan seperti proyek sektoral. Sekolah sibuk dengan kurikulum, pemerintah sibuk dengan regulasi, swasta sibuk dengan program CSR, masyarakat sibuk mengeluh di media sosial. Semua bergerak, tetapi sering ke arah masing-masing.

Dari Komunitas ke Gerakan Nasional

Belajaraya mencoba membalik pola itu. Sejak diinisiasi Semua Murid Semua Guru pada 2016, forum ini telah menghimpun lebih dari 1.000 komunitas dan organisasi pendidikan untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat jejaring, dan menciptakan kolaborasi nyata.

Ketua Umum Semua Murid Semua Guru, Marsya Nurmaranti, menegaskan kemajuan pendidikan tak bisa dijalankan sendirian. Menurutnya, Belajaraya menjadi ajakan terbuka agar publik ikut terlibat memperkuat ekosistem pendidikan melalui semangat kerja bersama.

Marsya Nurmaranti, Ketua Umum Semua Murid Semua Guru mengatakan dalam sesi konferensi pers yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini ini sebagai langkah awal memperkenalkan pelaksanaan festival pendidikan tahun ini sekaligus mengajak publik dan berbagai pemangku kepentingan untuk  terlibat aktif dalam memperkuat ekosistem pendidikan di Indonesia melalui semangat #KerjaBarengan.

“Melalui forum ini, Belajaraya menegaskan bahwa upaya memajukan pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama dari berbagai pihak,” kata Marsya dalam sambutannya pada Selasa (21/4).

Baca juga: Sekolah Prestasi Global-Depok Resmi Luncurkan Kurikulum Cambridge, Tandai Langkah ke Pendidikan Global

Najelaa Shihab, Pendidik & Inisiator Jaringan Semua Murid Semua Guru, juga menyoroti persoalan lama yang masih bercokol: masyarakat masih sering menyamakan pendidikan dengan sekolah formal. Padahal pendidikan jauh lebih luas dari ruang kelas, seragam, dan tumpukan tugas rumah.

Di tengah perkembangan tersebut, saya melihat bahwa tantangan terbesar justru terletak pada cara pandang masyarakat terhadap pendidikan yang masih kerap disamakan dengan persekolahan formal. Padahal, melalui jaringan Semua Murid Semua Guru yang kini telah berkembang dari puluhan menjadi lebih dari seribu komunitas, upaya yang dilakukan adalah melengkapi dan mendorong perubahan di luar sistem formal dengan tujuan utama bukan sekadar capaian akademik, melainkan perubahan perilaku dan kontribusi nyata terhadap ekosistem yang lebih luas,” kata Najelaa.

Tantangan Baru di Era Digital

Di sisi lain, tantangan baru datang dari perkembangan teknologi. Rizki Ameliah dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia menilai dunia pendidikan kini bergerak sangat dinamis. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tak perlu ditakuti, melainkan dipahami dan dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan.

“Pendidikan kita saat ini sangat dinamis, sehingga kunci utamanya adalah kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu bergerak bersama dengan komunitas, swasta, dan akademisi. Di tengah perkembangan teknologi, termasuk AI, kita tidak boleh takut, tetapi harus melek dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan keterampilan diri,” papar Rizki Ameliah.

Kalimat itu relevan, sebab masih banyak orang yang lebih cepat panik mendengar AI dibanding cepat belajar menggunakannya.

Festival Pendidikan yang Tak Membosankan

Sebagai festival, Belajaraya tentu tak hanya berisi seminar yang membuat peserta mengantuk sambil mengangguk sopan. Di Jakarta nanti, publik akan disuguhi Ngobrol Publik, Kelas Belajar, Booth Komunitas, Pameran Karya, hingga pertunjukan musik dari sejumlah musisi seperti Andien, Dere, dan Endah N Rhesa.

Sejumlah tokoh lintas sektor juga dijadwalkan hadir, mulai dari Meutya Hafid, Nasaruddin Umar, M. Quraish Shihab, Najwa Shihab, Nikita Willy, hingga Ryan Adriandhy.

Baca juga: Kolaborasi Yayasan BSI dan Puteri Indonesia Buka Akses Pendidikan untuk Finalis 2026

Namun inti acara ini bukan pada daftar nama besar di poster. Bukan pula pada panggung megah atau sorotan lampu. Intinya ada pada kesadaran sederhana: pendidikan terlalu penting jika hanya diserahkan pada satu pihak.

Karena masa depan anak-anak tak akan selesai dibenahi lewat seremoni setahun sekali. Ia butuh lebih banyak ruang temu, lebih sedikit ego sektoral, dan jauh lebih banyak orang yang benar-benar mau kerja bareng.

Jangan sampai ketinggalan, ikuti segala informasi dan cerita inspirasi terbaru Belajaraya 2026 melalui kanal resmi akun Instagram @belajaraya.smsg atau @semuamuridsemuaguru. Informasi mengenai festival selengkapnya dan cara mendapatkan tiket Belajaraya Jakarta dapat mengakses laman resmi di https://ticketing.belajaraya2026.com 

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *