Keliru Membaca Tagar #KaburAjaDulu: Ketika Kritik Anak Muda Malah Dianggap Ancaman

#kaburajadulu

Oleh: Sri Radjasa, M.BA., Pemerhati Intelijen

Mata Akademisi, Milenianews.com – Tagar #KaburAjaDulu mungkin terdengar sinis, sarkastik, bahkan provokatif bagi sebagian kalangan. Namun di balik nada satir itu, sesungguhnya tersimpan kegelisahan yang nyata dari generasi muda terhadap kondisi negara. Sayangnya, kritik semacam ini justru kerap dibaca secara keliru oleh penguasa.

Presiden Prabowo Subianto tampak terusik dengan kemunculan tagar #KaburAjaDulu dan narasi “Indonesia Gelap” yang ramai disuarakan di media sosial beberapa waktu terakhir. Prabowo menilai narasi tersebut tidak mencerminkan kondisi objektif Indonesia. Bahkan kritik itu disebut sebagai rekayasa pihak-pihak yang menginginkan Indonesia gaduh dan miskin.

Baca juga: #KaburAjaDulu: Brain Drain dan Dilema Generasi Muda Indonesia

Respons tersebut kemudian berkembang semakin emosional. Presiden bahkan sempat menyatakan bahwa jika memang ingin pergi, maka “kabur saja” ke luar negeri. Di sisi lain, sejumlah elite politik ikut menggiring opini bahwa gerakan #KaburAjaDulu mencerminkan rapuhnya nasionalisme anak muda Indonesia.

Padahal masalah utamanya bukan pada tagarnya, melainkan mengapa tagar itu bisa terasa relevan bagi banyak orang.

Ketika kritik dianggap ancaman

Cara pemerintah merespons kritik menunjukkan adanya kecenderungan defensif dibanding reflektif. Kritik diposisikan sebagai ancaman terhadap negara, bukan sebagai alarm sosial yang perlu didengar.

Padahal sejak awal kepemimpinannya, ekspektasi publik terhadap Prabowo sangat tinggi. Latar belakangnya sebagai mantan jenderal membuat banyak orang berharap ia mampu membereskan berbagai persoalan politik, hukum, ekonomi, dan sosial yang dianggap carut-marut di era sebelumnya.

Namun dalam pandangan sebagian masyarakat, harapan itu perlahan memudar. Prabowo justru dinilai larut dalam pola politik lama yang sebelumnya diharapkan bisa diperbaiki. Kedekatannya dengan Jokowi juga memunculkan persepsi bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam arah kekuasaan.

Kekecewaan publik semakin terasa ketika berbagai tuntutan masyarakat dianggap tidak mendapatkan respons serius. Mulai dari kritik terhadap penegakan hukum, dugaan kriminalisasi, hingga tindakan represif aparat terhadap kelompok sipil dan mahasiswa, semuanya menumpuk menjadi rasa frustrasi sosial yang tidak kecil.

Banyak anak muda melihat negara semakin sulit menerima kritik. Ruang dialog terasa menyempit, sementara pendekatan kekuasaan justru semakin keras terhadap suara yang berbeda.

Dalam situasi seperti itu, tagar menjadi medium pelampiasan.

Generasi muda sedang mengirim sinyal

#KaburAjaDulu bukan semata ajakan meninggalkan Indonesia secara harfiah. Ia lebih tepat dibaca sebagai ekspresi kekecewaan kolektif. Sebuah metafora tentang hilangnya harapan, rasa lelah menghadapi ketidakpastian, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi negara.

Sayangnya, kritik seperti ini justru ditanggapi dengan tudingan bahwa gerakan tersebut dibayar koruptor, tidak nasionalis, atau bagian dari agenda membuat Indonesia kacau.

Cara membaca semacam itu berbahaya. Sebab ketika kritik selalu dicurigai sebagai ancaman politik, pemerintah justru kehilangan kesempatan memahami suara publik secara jujur.

Dalam demokrasi, kritik seharusnya tidak otomatis dipandang sebagai permusuhan terhadap negara. Kritik sering kali lahir justru karena masih adanya harapan agar keadaan bisa berubah menjadi lebih baik.

Anak muda yang bersuara lewat tagar dan media sosial bukan berarti membenci Indonesia. Bisa jadi mereka justru terlalu peduli, tetapi merasa semakin jauh dari ruang pengambilan keputusan.

Negara tidak bisa terus antikritik

Persoalan terbesar hari ini mungkin bukan sekadar munculnya tagar #KaburAjaDulu, melainkan cara kekuasaan meresponsnya. Ketika kritik dijawab dengan kemarahan, tudingan, dan sikap antikritik, publik akan semakin merasa tidak didengar.

Baca juga: #Kaburajadulu: Catalyst Perubahan Struktural atau Hanya Sekadar Letupan Ketidakpuasan Sementara?

Apalagi gaya komunikasi politik yang cenderung satu arah membuat jarak antara pemerintah dan masyarakat semakin lebar. Penguasa sibuk berbicara, tetapi gagal mendengar.

Padahal yang dibutuhkan publik sebenarnya sederhana, yaitu kehadiran negara yang mau memahami keresahan rakyatnya sendiri.

Sebab kritik yang diabaikan lama-kelamaan tidak lagi berubah menjadi percakapan, melainkan ketidakpercayaan. Dan ketika kepercayaan publik mulai runtuh, tagar hanyalah gejala kecil dari masalah yang jauh lebih besar.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *