Milenianews.com, Jakarta – Kadang yang membuat mimpi anak bangsa kandas bukan lawan tangguh di lapangan, melainkan saldo dana yang terlalu sunyi. Dan Indonesia baru saja membuktikannya lagi.
Tim nasional Garuda Jalanan dipastikan batal tampil di ajang Homeless World Cup 2026 di Mexico City. Bukan karena kalah kualifikasi. Bukan juga karena pemain cedera massal. Tapi karena satu musuh klasik yang di negeri ini rasanya lebih sulit dikalahkan daripada juara dunia yaitu tidak ada dana.
Baca juga:Â Timnas Indonesia Gagal Juara FIFA Series 2026 Usai Kalah Tipis
Ironisnya, kabar ini datang di tengah semangat pemerintah dan banyak pihak yang gemar berbicara soal pemberdayaan, inklusivitas, dan kesempatan bagi kelompok marginal. Kata-katanya megah. Presentasinya rapi. Tapi ketika waktunya membeli tiket pesawat dan membiayai keberangkatan atlet, semuanya mendadak seperti sinyal WiFi di desa pegunungan.
Ketika Semangat Tidak Bisa Dibayar dengan Tepuk Tangan
Keputusan pahit itu diumumkan oleh Rumah Cemara, organisasi yang selama ini menjadi rumah sekaligus tulang punggung tim Indonesia di ajang tersebut.
Sekretaris Rumah Cemara, Rin Aulia, menyebut keputusan mundur diambil setelah mempertimbangkan kondisi pendanaan yang tak kunjung jelas.
“Rumah Cemara dengan berat hati mengumumkan bahwa Indonesia tidak akan berpartisipasi dalam ajang Homeless World Cup 2026 yang akan diselenggarakan di Mexico City,” ujar Rin dalam keterangannya, Selasa (5/5).
“Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan secara matang kondisi ketiadaan kepastian pendanaan dan dukungan institusional hingga saat ini,” lanjutnya. dikutip dari detikjabar.
Banyak orang mungkin masih menganggap Homeless World Cup cuma turnamen sepak bola biasa. Padahal lebih dari itu. Ajang ini adalah ruang bagi kelompok marginal orang-orang yang sering dilupakan sistem untuk mendapatkan kembali rasa percaya diri, harga diri, bahkan alasan untuk bangkit.
Baca juga:Â Shin Tae-yong Resmi Akhiri Perjalanan Bersama Timnas IndonesiaÂ
Dan Indonesia sebenarnya punya rekam jejak yang cukup membanggakan sejak pertama kali ikut pada 2011. “Garuda Jalanan” bukan sekadar tim sepak bola. Mereka simbol bahwa olahraga bisa menjadi jalan pemulihan sosial.
Sponsor Sulit Datang, Dukungan Mudah Menghilang
Menurut Rumah Cemara, sejak 2023 tantangan pendanaan makin berat. Sebagian besar biaya operasional bahkan harus mereka tanggung sendiri. Bayangkan itu. Program sosial bertaraf internasional berjalan dengan cara “patungan bertahan hidup.”
Sementara di sisi lain, kita hidup di era ketika klub futsal antar kompleks saja bisa punya sponsor kopi literan dan jersey full logo.
Negara Sering Bangga Saat Menang, Tapi Absen Saat Berjuang
Inilah paradoks yang terus berulang. Ketika atlet atau komunitas berhasil menorehkan prestasi, semua ramai ikut bangga. Caption motivasi bertebaran. Kata “inspiratif” dipakai di mana-mana.
Tapi sebelum sampai ke panggung itu, perjuangan mereka sering dibiarkan sunyi. Padahal dukungan terhadap komunitas seperti ini seharusnya bukan sekadar urusan belas kasihan atau CSR musiman.
Ini soal keberpihakan sosial. Karena kelompok marginal tidak membutuhkan slogan. Mereka membutuhkan sistem yang benar-benar hadir.
Baca juga:Â Jadwal Laga yang Dinanti Pelatih Anyar Timnas Indonesia, Patrick Kluivert
Absennya Indonesia di Homeless World Cup 2026 bukan cuma soal satu turnamen yang terlewat. Ini tamparan kecil tentang bagaimana program berbasis komunitas masih berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Dan mungkin yang paling menyedihkan bukan fakta bahwa mereka gagal berangkat. Melainkan kenyataan bahwa kabar seperti ini sudah terlalu mudah ditebak bahkan sebelum diumumkan.
Sebab di negeri yang gemar bicara mimpi besar, kadang hal paling sulit justru memastikan orang-orang kecil bisa tetap berjalan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.












