Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Kebijakan pemerintah yang menetapkan work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak April 2026 memunculkan satu dilema: apakah ini benar-benar solusi efisiensi energi, atau justru kebijakan yang belum sepenuhnya matang?
Tujuan kebijakan ini jelas—menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dengan mengurangi mobilitas harian, khususnya di wilayah perkotaan yang padat. Secara teori, langkah ini masuk akal. Sektor transportasi memang menjadi penyumbang terbesar konsumsi energi berbasis minyak. Mengurangi perjalanan pulang-pergi kerja satu hari dalam sepekan seharusnya berdampak pada penghematan energi dan anggaran negara.
Namun, kebijakan publik tidak cukup dinilai dari logika konseptual. Ia harus diuji oleh realitas sosial.
Baca juga: Pendidikan Jarak Jauh: Antara Realitas, Fanatisme dan Hijrah
Niat baik yang berpotensi melenceng
WFH sebagai bagian dari efisiensi energi bukanlah hal baru. Tren global bahkan mendorong fleksibilitas kerja untuk menekan emisi dan menciptakan keseimbangan hidup pekerja. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah terlihat progresif.
Masalahnya muncul pada detail implementasi—khususnya pemilihan hari Jumat.
Di tengah pola kerja masyarakat Indonesia, keputusan ini berpotensi menciptakan long weekend. Alih-alih mengurangi mobilitas, waktu luang yang lebih panjang justru bisa mendorong perjalanan pribadi, seperti rekreasi ke luar kota.
Jika itu terjadi, maka tujuan utama kebijakan ini berisiko berbalik arah: konsumsi BBM yang seharusnya ditekan justru bisa meningkat.
Produktivitas yang dipertaruhkan
Selain soal mobilitas, isu produktivitas juga tidak bisa diabaikan. WFH menuntut kedisiplinan serta sistem pengawasan yang jelas. Tanpa mekanisme kontrol yang memadai, kebijakan ini berpotensi dimaknai sebagai “hari bebas”.
Memang tidak semua ASN akan menyalahgunakan kebijakan ini. Namun, potensi itu tetap ada dan perlu diantisipasi. Jika produktivitas menurun, dampaknya tidak hanya pada internal birokrasi, tetapi juga pada kualitas pelayanan publik.
Di titik ini, efisiensi energi tidak boleh dibayar dengan penurunan kinerja.
Alternatif yang lebih rasional
Kritik yang berkembang di masyarakat sebenarnya menawarkan solusi yang lebih realistis, yakni memindahkan WFH ke pertengahan pekan, seperti hari Rabu.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tidak menciptakan jeda panjang yang bisa dimanfaatkan untuk bepergian. Selain itu, jeda di tengah pekan dapat menjaga ritme kerja tetap stabil sekaligus memberikan ruang pemulihan bagi pekerja.
Ini menunjukkan bahwa kebijakan publik tidak hanya soal niat baik, tetapi juga soal memahami pola perilaku masyarakat.
Kebijakan butuh data, bukan sekadar narasi
Keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada evaluasi berbasis data. Pemerintah perlu menjawab pertanyaan mendasar: apakah konsumsi BBM benar-benar menurun? Apakah mobilitas masyarakat berkurang? Apakah produktivitas ASN tetap terjaga?
Tanpa data yang transparan, kebijakan ini berisiko menjadi sekadar simbol tanpa dampak nyata.
Kritik yang muncul seharusnya tidak dilihat sebagai penolakan, melainkan sebagai bagian dari proses penyempurnaan. Justru dari kritik itulah kebijakan bisa diperbaiki agar lebih tepat sasaran.
Antara eksperimen dan keberanian mengoreksi
WFH Jumat pada dasarnya adalah sebuah eksperimen kebijakan. Namun, setiap eksperimen menuntut keberanian untuk mengevaluasi dan memperbaiki.
Jika tidak dirancang dengan cermat, kebijakan yang bertujuan efisiensi justru bisa menjadi kontraproduktif. Di sinilah pemerintah diuji: apakah siap menyesuaikan kebijakan berdasarkan realitas, atau bertahan pada konsep yang belum tentu efektif?
Pada akhirnya, efisiensi energi tidak cukup dicapai dengan kebijakan simbolik. Ia membutuhkan desain yang presisi, berbasis data, dan selaras dengan perilaku masyarakat.
Tanpa itu, WFH Jumat mungkin hanya akan menjadi kebijakan yang terlihat baik—tetapi tidak benar-benar bekerja.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













