Vientiane, Ibu Kota Tenang di Jantung ASEAN

vientiane laos

Milenianews.com ASEAN sejak tahun 2025 anggotanya telah bertambah satu sehingga kini memiliki 11 negara anggota. Timor Leste adalah negara terakhir yang bergabung. Alhamdulillah, sebagai orang yang suka jalan-jalan, saya telah mengunjungi semua negara anggota ASEAN. Kota Vientiane adalah ibu kota negara Laos, lengkapnya Republik Demokratik Rakyat Laos. Kota ini tenang tanpa hiruk pikuk, merupakan kota budaya dengan warisan sejarah yang masih dijaga dan dirawat dengan baik. Bukan semata untuk wisatawan, tetapi memang mereka memiliki kultur yang kuat dalam menjaga situs budaya. Vientiane adalah kota yang tidak besar dengan suasana sederhana, teduh, dan ramah.

Kita sesama ASEAN tidak terlalu mengenal Laos, karena memang jarang ada berita tentang Laos. Bahkan, jangan-jangan kita juga tidak sadar bahwa Laos adalah satu-satunya negara ASEAN yang tidak memiliki laut atau garis pantai. Padahal, Laos merupakan negara di jantung Semenanjung Indochina yang berbatasan dengan Kamboja, Thailand, Myanmar, serta China di utara. Laos menjadi penghubung darat negara-negara tersebut, khususnya dengan raksasa ekonomi di utara, China. Saat ini telah dibangun dua proyek besar yang menghubungkan negara-negara ASEAN dengan China, yaitu jalur kereta api ASEAN Railway dan jalan raya ASEAN Highway. Proses pembangunan sedang berlangsung, walau masih ada yang tersendat. Maklum, proyek ini melibatkan hampir 10 negara.

Baca juga: Tsukiji Bukan Sekadar Pasar Ikan, tapi Pusat Rasa dan Sejarah Tokyo

Vientiane, ibu kota negara Laos, memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ibu kota negara ASEAN lainnya. Namun, walau sederhana dan masih terus membangun, kota ini menunjukkan kemajuan yang baik dan stabil, khususnya dalam sektor infrastruktur, perdagangan, dan jasa. Luas kota sekitar 3.920 km² dengan jumlah penduduk 840.000 jiwa. Jika dibandingkan, kira-kira setara dengan Kota Makassar atau Kota Palembang. Luas wilayah yang besar dengan jumlah penduduk yang tidak banyak membuat kepadatan penduduk relatif rendah. Penduduk terpusat di area-area tertentu sehingga masih banyak wilayah kota yang berupa pinggiran, lahan pedesaan, serta area terbuka yang luas. Vientiane berkembang dengan kecepatan khas kota kecil.

Memang bukan kota besar. Bandara Vientiane hanya berjarak sekitar 5 km dari pusat kota. Saya mendarat di Bandara Internasional Wattay, gerbang udara utama bagi yang ingin berkunjung ke Vientiane atau Laos. Bandara ini sekaligus menjadi bagian dari pusat kota karena lokasinya yang strategis dan berada di area keramaian. Saya teringat Bandara Kemayoran sebelum ditutup permanen pada awal 1980-an. Lokasi Kemayoran saat itu sekitar 5 km dari pusat kota di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta. Bandara Wattay mungkin mirip Kemayoran atau Bandara Halim sekarang, tetapi lebih kecil karena volume penerbangan yang lebih sedikit.

Walau terminal dan volume penumpang lebih kecil dibanding Bandara Halim, Wattay tampil sebagai bandara internasional yang proporsional dengan jumlah penumpang yang dilayani. Tidak ada antrean panjang di ruang kedatangan yang berukuran tidak besar. Bangunan bandara mengarah ke desain modern tanpa meninggalkan karakter lokal yang dipengaruhi arsitektur pagoda. Pengelolaannya menekankan kesederhanaan dan kenyamanan. Keluar dari Bandara Wattay tidak merepotkan dan tidak perlu menggunakan taksi. Karena tempat menginap berada di pusat kota dan tidak jauh dari bandara, saya memilih menggunakan tuk-tuk, angkutan kota yang juga banyak dijumpai di Bangkok dan Phnom Penh.

Sungai Mekong dan Riverside Tempat Masyarakat Berkumpul

Pusat ekonomi kota terpusat di Lane Xang Avenue, Samsenthai Road, area sekitar Pasar Pagi Talat Sao, serta koridor wilayah dari Patuxai hingga Sungai Mekong. Pusat perdagangan di Vientiane masih didominasi ritel kecil dengan susunan bangunan seperti ruko. Ada pusat perbelanjaan berskala lokal, dengan perdagangan yang masih didominasi pedagang kecil dan menengah yang melayani kebutuhan sehari-hari. Ibu kota Laos ini masih menampilkan kemiripan dengan ibu kota provinsi seperti Padang atau Pontianak dibandingkan dengan ibu kota negara ASEAN lainnya. Talat Lao, pasar utama di Vientiane, tergolong kecil dan sederhana. Dari segi ukuran, mungkin dapat disejajarkan dengan Pasar Mayestik, meski dari sisi keramaian dan kepadatan, Mayestik masih lebih ramai.

Saya belum melihat merek restoran atau kedai kopi internasional di sini. Namun, kafe yang didatangi wisatawan mancanegara sudah tersedia, dengan menu barat seperti steak, pizza, cappuccino, dan sebagainya. Restoran ayam goreng tepung atau burger juga sudah ada, meski bukan merek internasional. Di supermarket yang tidak besar, saya melihat beberapa merek internasional untuk kebutuhan sehari-hari seperti sampo, pasta gigi, dan lainnya. Namun, untuk kebutuhan gaya hidup dan pakaian, belum banyak merek internasional yang hadir.

Sebagai wisatawan, apalagi yang belum pernah berkunjung, Vientiane merupakan kota yang menarik. Kota ini menawarkan paduan unik antara suasana tenang kota kecil yang berkembang dengan kecepatan rendah menuju modernitas yang terukur, dengan keunggulan di sektor warisan budaya. Dari sisi budaya, mereka memiliki kekayaan budaya yang masih terawat. Kota ini terletak di tepi Sungai Mekong, sungai yang juga menjadi batas negara karena berseberangan langsung dengan Kota Nong Khai, kota provinsi di Thailand. Kawasan tepi Mekong menjadi area riverside yang terbuka untuk masyarakat umum, tempat penduduk dan wisatawan berkumpul menjelang senja.

Menelusuri kawasan ini, saya menyewa sepeda. Terdapat deretan kafe, restoran, dan street food lokal. Tepian Sungai Mekong menjadi tempat untuk melihat kehidupan masyarakat Vientiane yang menyukai ketenangan dan bergerak dengan ritme perlahan. Pada pagi hari, kawasan ini menyajikan matahari yang muncul di balik bangunan kota, deretan pepohonan, serta jalur pedestrian yang tertata rapi. Banyak penduduk berolahraga dan berjalan santai menikmati udara pagi yang sejuk. Sungai Mekong di sini merupakan bagian hulu, tidak terlalu lebar dibandingkan yang melewati Saigon atau Phnom Penh. Menjelang siang, aktivitas di sungai meningkat. Beberapa kapal kayu tampak melintas, ada yang menuju hilir dan ada pula yang ke hulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *