Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Pernah ke Jambi? Kalau jawabannya belum, itu hal yang wajar. Jambi memang belum masuk radar utama wisata Indonesia. Tidak banyak orang datang ke kota ini khusus untuk berlibur atau berburu kuliner.
Padahal Jambi menyimpan banyak hal menarik. Provinsi ini dilalui Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera dengan bentang sekitar 800 kilometer. Di sini juga terdapat Kompleks Candi Muaro Jambi yang disebut-sebut sebagai salah satu kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara. Belum lagi Gunung Kerinci dan kawasan taman nasional yang telah dikenal dunia.
Baca juga: Ladong, Rasa Laut dan Bebek Kuntilanak dari Pesisir Aceh
Salah satu hambatan utama memang aksesibilitas. Bandar Udara Sultan Thaha sudah melayani penerbangan ke Jambi, tetapi rute langsung masih terbatas. Jalur darat juga memerlukan perjalanan panjang dengan kondisi jalan yang belum seluruhnya ideal.
Namun justru di situlah Jambi terasa berbeda. Kota ini tidak terburu-buru menjadi destinasi wisata massal.
Batanghari dan wajah kota sungai

Pesawat mulai menurun menuju Jambi. Dari jendela tampak aliran Sungai Batanghari membelah daratan seperti ular raksasa berwarna kecokelatan. Kota ini tidak dipenuhi gedung tinggi. Di kejauhan masih terlihat hamparan hijau yang kemungkinan ladang dan hutan.
Jambi juga tidak menyambut dengan hiruk-pikuk besar. Lalu lintasnya relatif tenang. Keramaian hanya terasa di titik-titik tertentu.
Salah satu tempat terbaik menikmati wajah kota adalah kawasan Jembatan Gentala Arasy. Jembatan pejalan kaki ini menghubungkan dua sisi Kota Jambi. Di satu sisi berdiri kawasan kota modern dengan deretan ruko dan area komersial. Di sisi lain terdapat Seberang Kota Jambi, kawasan lama yang masih mempertahankan rumah panggung dan permukiman tepian sungai.
Bentuk Jembatan Gentala Arasy melengkung seperti huruf S, mengikuti alur Sungai Batanghari. Sebagian lantainya menggunakan kayu, membuat langkah kaki menghasilkan bunyi khas ketika dilalui.
Di ujung jembatan berdiri menara jam setinggi sekitar 80 meter dengan sentuhan arsitektur Islam yang kuat. Menara ini menjadi penanda kawasan sekaligus mempertegas karakter visual jembatan.
Di area bawah jembatan, kehidupan masyarakat terasa dekat. Ada kios kecil, pedagang makanan, dan lapak minuman. Pengunjung bisa duduk menikmati bakso atau kelapa muda sambil memandang sungai.
Tak jauh dari sana terdapat dermaga kecil tempat perahu ketek bersandar. Perahu tradisional ini masih menjadi alat transportasi penting bagi warga. Ketek tidak hanya murah, tetapi juga bisa mengantar penumpang langsung ke tepian rumah-rumah warga di pinggir sungai.
Batanghari memang bukan sekadar bentang air. Sungai ini adalah bagian dari ritme hidup masyarakat Jambi.
Pagi hari dipenuhi aktivitas warga yang berolahraga di tepian sungai. Sementara malam hari menghadirkan suasana berbeda. Lampu Jembatan Gentala Arasy memantul di permukaan air, dan kawasan sekitar tetap hidup hingga larut malam.
Kuliner Jambi yang dekat dengan Palembang

Saya sarapan di Warung Ahok, tempat yang cukup populer di Jambi. Dari namanya saja sudah terlihat pengaruh budaya peranakan dalam kulinernya.
Menu yang tersedia cukup beragam, mulai dari mi celor, pempek, kopi susu, hingga martabak India.
Saya memesan martabak telur dengan dua telur tanpa tambahan lain. Di Jambi, martabak menjadi menu sarapan yang umum, mirip tradisi di Palembang. Penyajiannya menggunakan kuah kari santan yang lebih ringan dibanding versi Palembang yang cenderung memakai kentang halus.
Perbedaan kecil juga terlihat pada telur setengah matang yang disajikan di piring kecil, bukan di gelas.
Pempek juga sangat mudah ditemui di Jambi. Variannya hampir sama seperti di Palembang, mulai dari kapal selam, adaan, hingga pastel. Hubungan budaya pesisir timur Sumatera memang terasa kuat dalam urusan rasa.
Selain itu ada pindang patin dan pindang udang satang. Kuahnya bening dengan perpaduan rasa pedas, asam, dan sedikit manis. Di Jambi, rasa asam lebih banyak berasal dari nanas dibanding belimbing wuluh.
Rasanya segar, hangat, dan cocok dengan karakter kota sungai seperti Jambi.
Ikan toman dan gurih tempoyak

Salah satu kuliner yang paling menarik perhatian saya adalah ikan toman.
Toman masih satu keluarga dengan ikan gabus, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Ikan ini hidup di rawa dalam dan perairan yang tidak pernah surut sepanjang tahun. Dalam dunia internasional, toman dikenal sebagai red snakehead karena warna tubuhnya yang gelap kemerahan.
Ukuran ikan ini bisa sangat besar, panjangnya mencapai satu meter dengan berat belasan kilogram. Toman dikenal sebagai predator air tawar yang agresif, tetapi justru dagingnya sangat disukai. Teksturnya padat, gurih, dan kaya protein serta albumin.
Saya menikmati gulai tempoyak kepala toman. Tempoyak sendiri adalah fermentasi durian khas Sumatera yang menghasilkan rasa asam gurih yang kuat.
Baca juga: Pempek di Kampung Pempek: Menghirup Identitas Palembang dari Mangkok Cuko
Kepala toman yang disajikan ukurannya besar. Dari tampilannya, ikan ini kemungkinan berbobot lebih dari tiga kilogram. Kuah tempoyaknya pekat dengan aroma fermentasi durian yang khas. Perpaduan rasa gurih ikan toman dan asam tempoyak menciptakan karakter rasa yang kuat dan sulit ditemukan di daerah lain.
Kuliner seperti ini mungkin tidak mudah diterima semua orang pada gigitan pertama. Namun justru di situlah daya tariknya.
Jambi bukan kota yang ramai mempromosikan dirinya. Tetapi lewat Sungai Batanghari, budaya sungai, dan rasa kulinernya, kota ini perlahan meninggalkan kesan yang sulit hilang.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








