Jemari yang Tak Pernah Lelah: Kisah Nenek Bando Menenun Asa

Nenek penjual bando

Milenianews.com Di sudut peron dan trotoar, di antara lalu lalang orang yang berkejaran dengan waktu, sosok itu duduk tenang. Tangannya tak pernah berhenti bergerak. Jemari rentanya merajut benang demi benang, membentuk bando, bros, hingga jepitan rambut berwarna-warni.

Sosok “Nenek Bando” di Peron

Namanya Juminem (61). Orang-orang mengenalnya sebagai “Nenek Bando”. Perempuan asal Gombong ini telah merantau ke Depok sejak kecil dan menetap hingga kini.

Namun, hidup tak selalu memberinya jalan yang mudah. Sejak usia sembilan tahun, ia sudah menjadi yatim piatu.

“Saya asli Gombong, tapi menetap di sini sudah dari kecil. Orang tua saya meninggal sejak saya usia sembilan tahun,” ujarnya pelan.

Baca juga: Kisah Inspiratif Anak Pedagang Asongan Menembus Batas Berkat Beasiswa, Bisa Kuliah Sampai S3

Hidup Sendiri, Tetap Bertahan

Saat memasuki usia dewasa, nasib belum banyak berubah. Pernikahannya hanya bertahan dua tahun sebelum sang suami meninggal dunia.

Sejak itu, ia menjalani hidup seorang diri tanpa anak. Ia hanya ditemani seekor kucing bernama Bima Prakasa di kontrakannya yang sederhana.

“Saya tinggal berdua sama kucing, namanya Bima Prakasa. Suami saya meninggal setelah dua tahun nikah,” ucapnya.

Dari kesederhanaan itu, lahir keteguhan yang ia jaga hingga hari ini.

Merajut Sejak Kecil

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Juminem sudah mengenal dunia rajut. Ia terus mengasah keterampilan itu hingga menjadi sumber utama penghidupannya.

Setiap hari, dari subuh hingga malam, ia merajut tanpa henti. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan sekitar 15 aksesori.

“Merajut begini sudah dari SD, tiap hari saya ngerajut,” katanya.
“Kalau merajut biasanya dari subuh sampai malam, dapat sekitar 15-an,” sambungnya.

Tak sekadar kerajinan tangan, setiap rajutan menyimpan cerita tentang ketekunan dan kesabaran. Ia bisa menyelesaikan bando dalam beberapa jam, sementara baju rajut membutuhkan waktu hingga satu bulan.

“Buat baju memang makan waktu lama, biasanya satu bulan baru jadi,” ujarnya.

Menempuh Jarak Demi Bertahan

Meski menetap di Depok, Juminem tidak berjualan di satu tempat saja. Setiap Senin hingga Sabtu, ia berjualan di Stasiun Duren Kalibata. Sementara itu, hari Minggu ia gunakan untuk berdagang di Depok.

Rutinitas ini menuntut perjalanan yang tidak singkat. Dari kontrakannya, ia berjalan sekitar 20 menit menuju Stasiun Depok, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta ke lokasi berdagang.

Ia juga mencari sendiri bahan rajutannya. Ia membeli mutiara dan pita di Tanah Abang, sementara benang ia dapatkan dari Pasar Minggu.

Semua ia lakukan sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Baca juga: Kisah Inspiratif Jenjen, Kebiasaan Baik Pasti Membawa Nasib Baik

Rezeki dari Ketekunan

Harga jual produknya terbilang sederhana. Ia menjual satu bando sekitar sepuluh ribu rupiah. Keuntungan yang ia dapat memang tidak besar, tetapi itu bukan persoalan utama baginya.

“Yang penting berkah,” ujarnya singkat.

Menariknya, hampir setiap hari dagangannya habis terjual. Bahkan, beberapa pembeli kerap memborong untuk dijual kembali.

Ketekunan dan konsistensi yang ia jaga perlahan menemukan jalannya sendiri.

Pesan Sederhana yang Penuh Makna

Di tengah keterbatasan, Juminem tidak pernah kehilangan semangat. Ia terus bekerja dan berkarya. Ia percaya usaha yang jujur akan membawa kebaikan.

Pesannya sederhana, “Jangan malu dan jangan malas, selagi kita bekerja di jalan yang benar,” katanya dengan penuh semangat.

Senja perlahan turun, dan langkah-langkah di peron mulai berkurang. Namun, jemarinya tetap bergerak, merangkai benang-benang kecil menjadi harapan yang tak pernah putus.

Di tengah riuh kota dan kerasnya hidup yang ia jalani seorang diri, Juminem membuktikan bahwa keteguhan tak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang, keteguhan lahir dari rajutan sederhana yang ia kerjakan dengan sabar, hari demi hari.

Bagi sebagian orang, bando dan bros itu mungkin hanya aksesori. Namun bagi Juminem, setiap simpul adalah cara untuk bertahan. Setiap helai benang menjadi doa yang ia titipkan untuk hari esok.

Selama tangannya masih mampu merajut, selama itu pula ia akan terus menganyam harapan—pelan, tekun, dan penuh keyakinan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *