Di Hangzhou, Menyusuri West Lake, Penjaga Legenda Siluman Ular Putih

hang zhou

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Pagi di Hangzhou menghadirkan simfoni yang lembut. Kecipak air di tepian West Lake, aroma teh hijau yang baru diseduh, serta deretan pohon ginkgo yang tertata rapi menciptakan suasana yang menenangkan. Menyusuri jalan setapak berbatu yang telah berusia ratusan tahun terasa seperti melintasi lorong waktu.

Di sepanjang jalan, setiap sudut seolah menyimpan jejak kisah klasik Legenda Siluman Ular Putih. Kisah itu membuat siapa pun ingin berhenti sejenak, menikmati keindahan yang tetap bertahan meski zaman terus berubah.

Hangzhou berjarak sekitar 170 kilometer dari Shanghai. Jika Shanghai dikenal sebagai kota metropolitan yang bergerak cepat dan menjadi simbol ambisi masa depan dengan hutan pencakar langitnya, Hangzhou justru kerap disebut para penyair sebagai surga di bumi. Kota ini menawarkan ruang bagi jiwa untuk bernapas, tempat modernitas Tiongkok berpadu harmonis dengan jejak sejarah yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Baca juga: Shanghai dan Dua Masjid Bersejarah, Jejak Muslim di Kota Pencakar Langit

West Lake memang menjadi jantung Hangzhou. Namun, kota ini juga merupakan rumah bagi salah satu pusat teknologi paling maju di Tiongkok. Di sinilah Alibaba Group bermarkas. Kehadiran perusahaan raksasa tersebut ikut mengubah Hangzhou menjadi salah satu kota paling digital di dunia. Bahkan, Hangzhou termasuk kota pertama di Tiongkok yang hampir sepenuhnya meninggalkan penggunaan uang tunai.

Selain West Lake, Hangzhou juga memiliki Grand Canal atau Jinghang Canal, jalur air buatan manusia tertua dan terpanjang di dunia. Kanal sepanjang 1.794 kilometer ini menghubungkan Hangzhou hingga Beijing dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

West Lake, Mahakarya Lanskap yang Menginspirasi Penyair

pagoda

Perjalanan saya dimulai dari Jalan Kuno Hefang, kawasan bersejarah yang menjadi pusat budaya Hangzhou. Deretan bangunan tua masih berdiri kokoh, dipenuhi toko obat tradisional, kudapan khas, kipas, hingga kain sutra berkualitas tinggi. Hangzhou memang telah dikenal sebagai penghasil sutra sejak berabad-abad silam.

Usai menikmati suasana pagi di Hefang Street, saya melanjutkan perjalanan menuju West Lake. Dari pintu masuk taman, hamparan danau mulai terlihat di kejauhan. Kawasan yang tertata rapi itu sejak lama menjadi sumber inspirasi para penyair dan pelukis Tiongkok.

Air danau yang tenang berwarna kehijauan berpadu dengan perbukitan, jembatan batu, serta pagoda yang tampak muncul dari balik kabut tipis. Berjalan di tepian West Lake menghadirkan pengalaman yang mengingatkan pada lukisan-lukisan klasik Tiongkok, hanya saja kali ini saya berada di dalamnya.

West Lake telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Karena itu, rasanya tidak ada alasan untuk berjalan tergesa-gesa. Setiap langkah justru mengajak menikmati harmoni antara lanskap alami dan sentuhan manusia yang telah dirawat selama berabad-abad.

Hampir satu jam saya berjalan di salah satu sisi danau. Bukan mengelilinginya, karena West Lake sangat luas dan memiliki banyak titik wisata. Jalan setapak yang dinaungi pepohonan rindang membuat suasana terasa teduh. Ranting-ranting yang menjuntai hingga menyentuh permukaan air menciptakan riak kecil setiap kali tertiup angin, menghadirkan pemandangan yang sulit berhenti untuk diabadikan melalui kamera.

Di sisi lain, taman-taman tertata rapi dengan aneka tanaman hortikultura dan bunga musiman. Saat musim dingin, bunga plum bermekaran. Sementara pada musim panas, bunga lotus menjadi penghias utama permukaan danau.

Dari kejauhan tampak siluet Pagoda Leifeng yang berdiri di Bukit Sunset, di sisi selatan West Lake. Pagoda ini merupakan salah satu ikon sejarah, budaya, sekaligus arsitektur Hangzhou.

Pagoda Leifeng pertama kali dibangun pada tahun 975 M atas perintah Raja Qian Chu untuk memperingati kelahiran putranya. Selama lebih dari seribu tahun, bangunan tersebut mengalami berbagai peristiwa, mulai dari peperangan, kebakaran, hingga akhirnya runtuh dimakan usia. Pagoda yang berdiri saat ini merupakan hasil rekonstruksi pada tahun 2002 yang dibangun di lokasi bangunan aslinya.

Perjalanan kemudian membawa saya menuju Broken Bridge atau Jembatan Patah. Nama itu sempat membuat saya membayangkan sebuah jembatan yang rusak. Ternyata jembatan tersebut berdiri utuh.

Sebutan “Jembatan Patah” muncul karena ketika salju mulai mencair, bagian jembatan yang gelap terlihat seolah-olah terputus jika dipandang dari kejauhan.

Broken Bridge bukan hanya ikon West Lake, tetapi juga menjadi lokasi paling penting dalam kisah Legend of the White Snake atau Legenda Siluman Ular Putih.

Legenda Ular Putih, Kisah Cinta dan Kesetiaan

broken bridge

Legenda Bai She Zhuan merupakan salah satu karya sastra klasik Tiongkok yang mengangkat tema cinta, kemanusiaan, spiritualitas, dan pertarungan antara hukum alam dengan perasaan manusia. Kisahnya berlatar West Lake pada masa Dinasti Song.

Alkisah, seekor ular putih kecil nyaris dibunuh seorang pemburu sebelum akhirnya diselamatkan oleh seorang anak laki-laki yang berhati baik. Ular itu kemudian kembali ke West Lake dan menjalani pertapaan selama ratusan tahun hingga memperoleh kesaktian serta mampu menjelma menjadi seorang perempuan cantik bernama Bai Suzhen.

Meski telah memiliki kesempatan untuk naik ke kahyangan sebagai dewi, Bai Suzhen memilih kembali ke dunia manusia demi membalas budi kepada anak laki-laki yang pernah menyelamatkannya. Dengan bantuan kemampuan spiritualnya, Bai Suzhen akhirnya menemukan bahwa anak tersebut telah bereinkarnasi menjadi Xu Xian, seorang pemuda yang bekerja di toko obat.

Pertemuan mereka di Broken Bridge seolah berlangsung secara kebetulan, padahal telah diatur oleh Bai Suzhen. Dari sanalah benih-benih cinta tumbuh hingga akhirnya mereka menikah. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Bai Suzhen membantu usaha toko obat sang suami hingga berkembang pesat. Kehidupan mereka pun berjalan bahagia dan dihormati masyarakat.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Seorang biksu bernama Fahai mengetahui bahwa Bai Suzhen sebenarnya adalah siluman ular. Menurut keyakinannya, manusia dan siluman tidak boleh hidup sebagai suami istri karena dianggap melanggar tatanan alam. Fahai berusaha memisahkan pasangan tersebut, tetapi Xu Xian menolak mempercayainya.

Konflik memuncak saat Festival Perahu Naga. Bai Suzhen tanpa sengaja meminum arak tradisional yang membuat kekuatan spiritualnya melemah sehingga ia kembali berubah menjadi ular putih. Melihat wujud asli istrinya, Xu Xian terkejut hingga meninggal dunia.

Baca juga: Tembok Besar China: Tentang Ambisi, Ketekunan, dan Warisan Lintas Dinasti

Dengan kesaktiannya, Bai Suzhen berhasil menghidupkan kembali Xu Xian. Namun, Fahai kemudian membawa Xu Xian dan mengurungnya di Kuil Jinshan. Bai Suzhen menyerbu kuil tersebut demi menyelamatkan suaminya. Pertarungan hebat menyebabkan banjir besar yang turut menimpa masyarakat sekitar.

Xu Xian akhirnya bebas, tetapi Bai Suzhen harus menerima hukuman atas bencana tersebut. Setelah melahirkan putranya, ia dikurung di bawah Pagoda Leifeng. Fahai bersumpah bahwa Bai Suzhen hanya dapat memperoleh kebebasannya apabila air West Lake mengering dan Pagoda Leifeng runtuh.

Xu Xian yang tetap mencintai istrinya kemudian memilih menjadi biksu agar dapat tinggal di dekat pagoda dan menjaga Bai Suzhen. Legenda itu terus hidup hingga sekarang. Masyarakat Hangzhou percaya, selama air West Lake masih berkilau dan Pagoda Leifeng tetap berdiri, kisah cinta Bai Suzhen dan Xu Xian akan selalu menjadi bagian dari jiwa kota ini.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *