Grand Opening Sekolah BM 400 Depok:  Inspirasi dari Imam Syafi’i, Christiano Ronaldo, dan Tiger Woods

Grand Opening Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Depok, Sabtu, 23 Mei 2026, dihadiri orang tua  siswa baru tahun ajaran 2026, dan orang tua siswa booking seat tahun ajaran  2027.  

Milenianews.com, Depok—Ada pernyataan menarik yang disampaikan oleh CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si saat acara Grand Opening Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Depok, Sabtu, 23 Mei 2026. Saat memberikan laporan di hadapan Menteri Pendidikan Dasar & Menengah RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., dan para tamu undangan lainnya, Dr. Sutrisno Muslimin mengemukakan kesiapan BM 400 Depok untuk menghadirkan sekolah dengan fasilitas modern sekaligus membangun ekosistem pendidikan yang utuh.

Salah satu kesiapan tersebut adalah siswa dan kemitraan orang tua. “Sampai pekan ini, kami telah menerima 130 siswa baru untuk tahun ajaran 2026, serta 50 siswa booking seat untuk tahun ajaran  2027. Ini adalah amanah besar. Namun kami menyadari sepenuhnya, sekolah dak bisa berjalan sendiri. Peran orang tua sangat menentukan,” kata Dr. Sutrisno Muslimin.

Ia menjelaskan, banyak studi menunjukkan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak berkorelasi positif dengan prestasi belajar anak. “Artinya semakin aktif peran serta orang tua dalam membimbing dan mendukung belajar, semakin baik hasil akademis anak,” ujarnya.

Baca Juga : Mendikdasmen Resmikan  Sekolah Bakti Mulya 400 Depok: Mendidik dengan Iman, Memberdayakan Bangsa, menuju Keunggulan Global

Dr. Sutrisno kemudian mencontohkan fakta sejarah tentang kehebatan orang tua dalam mengkhtiarkan dan mendoakan kesuksesan anaknya.

  • Imam Syafi’i tumbuh dalam didikan keteguhan ibunya. Imam Syafi’i lahir di Gaza dalam kondisi yatim. Ayahnya wafat saat ia masih kecil. Ibunya membawa Syafi’i kecil dari Gaza ke Makkah agar tumbuh di lingkungan ilmu dan bahasa Arab yang fasih. “Dari keteguhan seorang ibu, lahirlah pendiri mazhab fikih besar dalam Islam,” kata Dr. Sutrisno.
  • Cristiano Ronaldo dibesarkan oleh pengorbanan ibunya. Cristiano Ronaldo tumbuh di Madeira dalam keluarga miskin. Ayahnya memiliki masalah alkohol, sehingga ibunya, Dolores Aveiro, menjadi penopang utama keluarga. Ibunya melihat bakat Ronaldo sejak kecil dan percaya penuh pada masa depannya. Di usia 12 tahun, Ronaldo dikirim sendiri ke Lisbon untuk masuk Akademi Sporting. Ia bekerja keras agar Ronaldo bisa terus bermain bola. Ronaldo sendiri berkata, “Tanpa ibu saya, saya bukan siapa-siapa.” “Pengorbanan seorang ibu mengubah anak miskin dari Madeira menjadi ikon sepak bola dunia,” ujar Dr. Sutrisno.
  • Tiger Woods ditempa oleh disiplin ayahnya. Tiger Woods diperkenalkan golf oleh ayahnya, Earl Woods, sejak usia 2 tahun. Bukan sekadar mengenalkan, ayahnya merancang proses pembentukan mental juara. Tiger pernah berkata, “Ayah saya adalah alasan utama saya menjadi siapa saya.” Disiplin ayahnya bukan keras, tetapi terarah dan visioner.

“Karena itu, sekolah dan orang tua harus berjalan seirama, sevisi, dan sejalan,” tegas Dr. Sutrisno Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *