Mutu Sekolah tak akan Pernah Melampaui Mutu Gurunya, Sekolah BM 400 Depok Cari Guru dengan Ruhul Mudaris

CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si bersama Pengurus Yayasan BKSP Bakti Mulya 400 dan Yayasan Amanah Cerdas Bangsa (pengelola Sekolah BM 400 Depok). (Foto: Dok BM 400)

Milenianews.com, Depok– Sekolah BM 400 Depok diresmikan oleh . Menteri Pendidikan Dasar & Menengah RI, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sabtu, 23 Mei 2026.  Dalam kesempatan tersebut CEO Bakti Mulya 400, Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si memaparkan  kesiapan BM 400 Depok untuk menghadirkan sekolah dengan fasilitas modern sekaligus membangun ekosistem pendidikan yang utuh.

Salah satu kesiapan tersebut adalah kesiapan guru dengan ruhul mudaris. “Kami sangat meyakini satu prinsip: Mutu sekolah dak akan pernah melampaui mutu gurunya. Gedung dapat dibangun megah. Kurikulum dapat dirancang modern. Teknologi dapat dibeli paling mutakhir. Tetapi semua itu dak akan pernah menjelma menjadi pendidikan yang hidup tanpa kehadiran guru yang memiliki ruhul mudaris — jiwa keguruan yang menyala dari dalam,” kata Dr. Sutrisno Muslimin.

Ia menjelaskann, ruhul mudaris bukan sekadar kemampuan mengajar. Ia adalah kesadaran batin bahwa menjadi guru adalah amanah peradaban. “Bahwa di tangan seorang guru, masa depan anak, arah bangsa, dan nilai kemanusiaan sedang dibentuk setiap hari, di setiap kelas, pada setiap perjumpaan,” ujarnya.

Baca Juga : Mendikdasmen Resmikan  Sekolah Bakti Mulya 400 Depok: Mendidik dengan Iman, Memberdayakan Bangsa, menuju Keunggulan Global

Karena itu, kata Dr. Sutrisno, di Sekolah Bakti  Mulya 400, guru tidak dipilih hanya berdasarkan:

  • Kompetensi akademik,
  • Kecakapan pedagogik,
  • Sertifikat profesional,
  • Pengalaman mengajar.

“Semua itu penting, tetapi belum cukup. Yang kami cari adalah guru yang memiliki Passion, Responsibility dan Vision,” tegasnya.

Passion — Mengajar dengan Cinta dan Antusiasme. “Di tangan guru yang memiliki passion, kelas tidak terasa sebagai kewajiban, tetapi menjadi ruang dialog, ruang eksplorasi, ruang tumbuh bersama. Anak-anak tidak hanya belajar materi. Mereka belajar semangat hidup dari gurunya,” kata Dr. Sutrisno.

Responsibility — Mengajar dengan Rasa Tanggung Jawab Moral. “Tanggung jawab mereka bukan hanya menyelesaikan silabus, tetapi memastikan: anak merasa dihargai, anak merasa dipahami dan anak merasa ditumbuhkan,” ujarnya.

Vision — Mengajar dengan Pandangan Jauh ke Depan. “Mereka mengajar untuk kehidupan anak 10–20 tahun ke depan. Mereka memahami bahwa dunia berubah cepat. Maka pembelajaran harus: menumbuhkan nalar kri s, menguatkan karakter, mela h kemandirian dan menyiapkan anak menjadi pembelajar sepanjang hayat,” papar Dr. Sutrisno Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *