News  

Penguatan Literasi Digital Remaja Panti Asuhan melalui Edukasi Jejak Digital

Milenianews.com – Di sebuah aula sederhana di Panti Asuhan Al Hasanat, sejumlah remaja tampak sibuk dengan gawai di tangan mereka. Sesekali, tawa ringan terdengar, berpadu dengan raut penasaran saat mereka menelusuri sesuatu yang sebelumnya terasa asing. Perlahan, dunia digital yang semula hanya menjadi ruang hiburan mulai dipahami sebagai ruang yang menyimpan jejak-jejak yang kelak dapat membentuk arah masa depan mereka.

Bagi banyak remaja, internet kerap dipandang sebagai ruang bebas yang menawarkan hiburan tanpa batas. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan berbagai risiko yang sering kali tidak disadari, mulai dari penyebaran informasi keliru hingga jejak digital yang sulit dihapus. Dalam kondisi minim pendampingan dan literasi yang memadai, remaja termasuk mereka yang tumbuh di lingkungan panti asuhan menjadi kelompok yang rentan menghadapi dampak tersebut.

Ruang Kecil, Langkah Awal Memahami Dunia Digital

Kegiatan yang berlangsung di Panti Asuhan Al Hasanat tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Di balik suasana santai yang tercipta, para remaja diajak untuk melihat kembali bagaimana mereka selama ini berinteraksi dengan dunia digital. Gawai yang sebelumnya digunakan untuk hiburan, perlahan diposisikan sebagai alat yang menyimpan rekam jejak aktivitas mereka sehari-hari.

Dalam proses itu, pemahaman baru mulai tumbuh. Aktivitas sederhana seperti mengunggah foto, memberikan komentar, hingga membagikan informasi ternyata memiliki konsekuensi yang lebih luas dari yang mereka bayangkan. Dunia digital tidak lagi dipahami sebagai ruang yang sepenuhnya bebas, melainkan sebagai ruang yang menuntut kesadaran dan tanggung jawab.

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini juga terasa berbeda. Alih-alih menekankan teori yang kaku, para remaja diajak untuk mengenali pengalaman mereka sendiri sebagai bagian dari proses belajar. Dari situ, muncul kesadaran bahwa memahami dunia digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana bersikap bijak dalam menggunakannya.

Literasi Digital sebagai Kebutuhan, Bukan Pilihan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara remaja berinteraksi, belajar, dan memperoleh informasi. Akses yang begitu luas terhadap internet menghadirkan peluang besar untuk pengembangan diri, namun pada saat yang sama juga membawa tantangan yang tidak dapat diabaikan. Informasi yang tersebar dengan cepat tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya, sehingga kemampuan literasi digital menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki sejak dini.

Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk memahami, memilah, dan mengevaluasi informasi menjadi semakin krusial. Tanpa kesadaran yang memadai, remaja dapat dengan mudah terpapar hoaks, penyalahgunaan data pribadi, hingga jejak digital yang berpotensi berdampak pada masa depan mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi digital bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan dasar dalam kehidupan di era digital.

Dari Kesadaran Menuju Harapan Masa Depan

Berangkat dari kondisi tersebut, Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi dari Cyber University menghadirkan ruang pembelajaran yang lebih kontekstual melalui edukasi mengenai jejak digital. Dalam kegiatan ini, para remaja tidak hanya dikenalkan pada konsep, tetapi juga diarahkan untuk memahami dampaknya dalam kehidupan nyata. Setiap aktivitas di ruang digital, sekecil apa pun, dapat membentuk identitas yang melekat dan berpengaruh pada masa depan.

Pendekatan yang digunakan menempatkan pengalaman sebagai titik awal pembelajaran. Para peserta diajak menelusuri kembali aktivitas digital mereka, mengenali pola penggunaan media sosial, serta memahami pentingnya menjaga privasi dan kredibilitas informasi. Dengan cara ini, literasi digital tidak lagi dipahami sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang memiliki konsekuensi nyata.

Baca juga: Guru Honorer dan Rendahnya Harga Pengabdian

Seiring proses tersebut, terjadi perubahan cara pandang di kalangan remaja yang terlibat. Pemahaman tentang jejak digital yang sebelumnya terasa jauh menjadi lebih relevan dengan kehidupan mereka. Kesadaran ini mendorong sikap yang lebih berhati-hati dalam berinteraksi di ruang digital, sekaligus membuka pandangan bahwa internet bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga bagian dari perjalanan menuju pendidikan dan dunia kerja.

Cyber University yang dikenal sebagai The First Fintech University in Indonesia menunjukkan bahwa akses terhadap edukasi yang tepat dapat menjadi titik awal perubahan, bahkan dalam ruang yang sederhana sekalipun. Melalui pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi berperan sebagai jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan nyata di lapangan, dengan harapan para remaja dapat tumbuh sebagai individu yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *