Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Menelajahi Oshino Hakkai memperkaya perjalanan ke Gunung Fuji, Jepang. Perjalanan ke sini menjadi bagian dari menikmati kehidupan pedesaan Jepang yang masih terjaga. Di desa ini tersimpan potret Jepang seperti dalam lukisan; ada mata air suci, tradisi berusia ratusan tahun, serta kuliner hangat yang cocok dinikmati di tengah udara pegunungan yang sejuk. Oshino Hakkai menghadirkan wajah Jepang tradisional melalui kolam-kolam sebening kristal yang berasal dari mata air Gunung Fuji.
Pagi itu udara di kaki Gunung Fuji terasa dingin, segar, dan bersih. Di kejauhan, gunung ikonik tersebut berdiri tenang dengan puncaknya yang masih diselimuti salju. Bus mini yang kami tumpangi menyusuri jalan pedesaan yang berkelok. Bahu jalan tertata rapi, parit-parit kecil mengalirkan air yang jernih, sementara rerumputan dan semak tumbuh terawat di sepanjang perjalanan.
Semakin masuk ke kawasan desa, suasana Jepang masa lalu seakan hidup kembali. Rumah-rumah beratap jerami berdiri di antara kebun-kebun hortikultura yang tertata rapi. Air mengalir di berbagai sudut, kincir-kincir tua masih berputar perlahan, dan kolam-kolam bening memantulkan cahaya pagi. Sesekali terlihat penduduk berjalan santai di halaman rumah atau bercakap ringan di udara yang masih dingin.
Baca juga: Kyoto, Ibu Kota Lama Jepang yang Tetap Dijaga
Kami tiba di Oshino Hakkai, sebuah desa wisata yang terkenal di kaki Gunung Fuji. Bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Fuji, Oshino Hakkai sering menjadi destinasi tambahan selain danau-danau di sekitar gunung, pusat perbelanjaan, atau taman bunga musiman. Hari itu, pilihan kami jatuh pada desa yang terkenal karena kejernihan airnya.
Oshino Hakkai secara harfiah sering diartikan sebagai “delapan kolam Oshino”. Delapan kolam ini telah diakui sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO karena keterkaitannya dengan Gunung Fuji. Air yang memenuhi kolam-kolam tersebut berasal dari lelehan salju Gunung Fuji yang meresap melalui lapisan batu vulkanik selama puluhan tahun sebelum akhirnya muncul sebagai mata air yang sangat jernih.
Dari desa ini, pemandangan Gunung Fuji terlihat sangat jelas. Banyak wisatawan berburu foto klasik dengan latar rumah tradisional Jepang, kincir air tua, taman bunga, atau salah satu kolam suci dengan Gunung Fuji menjulang di kejauhan. Pada pagi yang cerah sebelum keramaian datang, panorama ini terasa hampir sempurna.
Kolam-kolam suci dengan air sejernih kristal


Keberadaan kolam-kolam Oshino Hakkai berawal dari tradisi spiritual Jepang kuno. Air yang berasal dari Gunung Fuji dipercaya telah mengalami proses pemurnian alamiah sekaligus memiliki nilai spiritual. Pada masa lalu, banyak peziarah datang ke sini untuk membersihkan diri sebelum mendaki Gunung Fuji sebagai bagian dari ritual keagamaan Fujiko, sebuah aliran spiritual yang memuliakan gunung tersebut.
Delapan kolam itu memiliki nama masing-masing: Deguchi-ike, Okama-ike, Sokonashi-ike, Nigori-ike, Kagami-ike, Shobu-ike, Choshi-ike, dan Waku-ike. Semuanya indah, tetapi ada dua yang paling sering menjadi perhatian wisatawan.
Kagami-ike terkenal karena permukaannya mampu memantulkan bayangan Gunung Fuji secara sempurna ketika cuaca cerah. Sementara Waku-ike dianggap sebagai kolam paling indah dengan tingkat kejernihan air yang luar biasa. Di beberapa titik bahkan tersedia area khusus bagi pengunjung yang ingin membasuh wajah atau mencicipi air mata air tersebut.
Saya sempat memperhatikan sepasang wisatawan Jepang yang berdiri lama di tepi Waku-ike tanpa banyak bicara. Mereka hanya memandangi air di hadapan mereka. Saya pun ikut berhenti dan memahami alasannya.
Kolam itu mungkin memiliki kedalaman sekitar empat meter, tetapi dasar kolam terlihat sangat jelas. Ikan-ikan berenang di antara lumut dan tanaman air yang tumbuh alami. Warna air tampak hijau kebiruan, sebuah perpaduan unik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Transparansinya membuat dasar kolam terlihat hidup dan memukau.
Dari sudut tertentu, langit dan puncak Gunung Fuji memantul lembut di permukaan air. Suasana yang tenang membuat para pengunjung cenderung berbicara dengan suara pelan.
Seorang kakek lokal mengeluarkan botol kecil dari tas selempangnya. Ia mengambil air dari salah satu titik mata air yang diperbolehkan untuk diminum. Setelah meneguk sedikit, ia mengisi botolnya hingga penuh, lalu pergi tanpa tergesa. Sebuah pemandangan sederhana yang terasa begitu Jepang.
Mochi hangat dan kuliner khas kaki Gunung Fuji


Perjalanan berlanjut melewati jembatan kayu tradisional yang membentang di atas aliran sungai kecil yang jernih. Bentuk jembatan dan lanskap di sekitarnya membuat tempat ini menjadi salah satu sudut paling fotogenik di Oshino Hakkai.
Tak jauh dari sana terdapat deretan kios makanan. Suara gemericik air kini bercampur dengan aroma makanan yang dipanggang di atas bara. Asap tipis membubung perlahan di antara bangunan kayu dan atap jerami.
Saya berhenti di sebuah kios mochi dan memilih duduk di bangku sederhana di dekat area pemanggangan. Mochi memang sudah dikenal luas di Indonesia, bahkan dapat ditemukan di Cianjur maupun Sukabumi. Namun menikmati mochi di Jepang, terutama di kaki Gunung Fuji, menghadirkan pengalaman berbeda.
Adonan mochi yang lembut dibentuk bulat atau pipih, lalu diisi dengan pasta kacang merah, gula, atau matcha. Beberapa mochi ditusuk seperti sate dan dipanggang hingga hangat sebelum disajikan. Menariknya, proses pembuatannya hampir sama menghiburnya dengan saat menyantapnya. Tangan penjual bergerak cepat membentuk adonan, mengisi, lalu menyusunnya dengan gerakan yang terlihat sangat terlatih.
Baca juga: Masjid di Tokyo dan Amsterdam, Ruang Tenang bagi Muslim Minoritas
Gigitan pertama mochi yang masih hangat menghadirkan tekstur kenyal dan lembut. Isian kacang merahnya manis, tetapi tidak berlebihan. Sangat cocok dinikmati di tengah udara pegunungan yang dingin. Tak jauh dari kios mochi, saya juga menemukan warung kecil yang menjual Hoto, mi khas Prefektur Yamanashi. Mi ini lebih tebal dibandingkan ramen dan disajikan dalam kuah miso hangat bersama potongan labu serta sayuran pegunungan.
Saya tidak memesan semangkuk Hoto, hanya segelas ocha panas untuk beristirahat setelah hampir dua jam berkeliling desa. Sambil menikmati teh hangat, saya memandang ke arah Gunung Fuji yang berdiri megah di kejauhan. Di antara kolam-kolam suci, rumah-rumah tradisional, dan udara yang bersih, saya merasakan sisi Jepang yang berbeda dari hiruk pikuk Tokyo.
Jepang yang tua. Jepang yang tenang. Jepang yang masih hidup berdampingan dengan alam seperti ratusan tahun lalu. Mungkin karena itulah banyak orang selalu ingin kembali ke Oshino Hakkai.
Saya pun demikian.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














