Milenianews.com, Jakarta – Pemerintah akhirnya turun tangan dan kali ini bukan untuk menambah beban. Lewat kebijakan baru, negara siap menanggung PPN tiket pesawat kelas ekonomi. Kedengarannya seperti kabar baik, kan? Tapi tunggu dulu, dalam urusan harga tiket, kabar baik sering datang dengan catatan kaki yang cukup panjang.
Melalui Peraturan Kementerian Keuangan Nomor 24 Tahun 2026, pemerintah mencoba menenangkan satu hal yang belakangan bikin napas penumpang makin pendek: harga tiket pesawat yang diam-diam naik, pelan tapi pasti. Biang keroknya klasik biaya bahan bakar yang merangkak naik, seperti grafik yang lupa cara turun.
Baca juga:Â Pemerintah Siapkan Kebijakan Bayi Baru Lahir Otomatis Terdaftar BPJS Kesehatan
Di atas kertas, solusi ini terlihat elegan. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk tiket kelas ekonomi akan ditanggung pemerintah. Artinya, komponen tarif dasar dan fuel surcharge dua hal yang biasanya bikin harga tiket terasa “nggak masuk akal” akan sedikit diringankan. Negara, untuk sementara, bersedia jadi penyangga.
Diskon Rasa Setengah
Kebijakan ini hanya berlaku untuk kelas ekonomi. Jadi, kalau Anda kebetulan sering duduk di kelas bisnis atau eksekutif, ya… selamat menikmati harga normal. Negara tampaknya punya prioritas: membantu yang paling banyak, bukan yang paling nyaman.
Durasi kebijakannya pun tidak panjang. Hanya 60 hari. Dua bulan. Cukup untuk memberi napas, tapi mungkin belum cukup untuk benar-benar membuat harga terasa stabil.
Dan di sinilah letak ironi yang pelan-pelan muncul: pemerintah menanggung pajak, tapi di saat yang sama, biaya bahan bakar tetap naik. Jadi, yang satu ditahan, yang lain dilepas. Hasil akhirnya? Harga tiket tetap naik, hanya saja katanya masih dalam batas “wajar”, sekitar 9 sampai 13 persen.
Pemerintah juga meminta maskapai melaporkan penggunaan kebijakan ini secara transparan. Sebuah kata yang dalam praktiknya sering lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan.
Transparansi, dalam industri penerbangan, kadang seperti jadwal delay: selalu diumumkan, tapi tidak selalu sesuai kenyataan.
Namun setidaknya, ada upaya untuk mengontrol. Negara tidak hanya membayar, tapi juga ingin memastikan uangnya tidak hilang di antara angka-angka yang sulit dilacak.
Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Di satu sisi, penumpang kelas ekonomi jelas mendapat manfaat. Harga tiket tidak melonjak terlalu tinggi. Di sisi lain, maskapai juga mendapat ruang bernapas karena sebagian beban pajak ditanggung negara.
Jadi ini bukan sekadar subsidi untuk rakyat, tapi juga semacam penyeimbang untuk industri yang sedang ditekan biaya operasional.
Baca juga:Â Pemerintah Batasi Akun Anak di Media Sosial Mulai 28 Maret 2026
kebijakan ini terasa seperti plester di luka yang belum benar-benar sembuh. Ia membantu, tapi tidak menyelesaikan akar persoalan. Harga tiket mungkin tidak melonjak liar. Tapi juga tidak benar-benar turun.
Dan di situlah posisi publik: tetap membeli tiket, tetap berharap murah, sambil pelan-pelan menerima kenyataan bahwa terbang kini bukan lagi soal cepat sampai, tapi juga soal seberapa dalam dompet siap berkompromi.
Karena di negeri ini, bahkan untuk sekadar pulang kampung lewat udara, kadang yang paling berat bukan jaraknya tapi harganya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







