Milenianews.com, Jakarta – Sore menjelang malam di seberang Stasiun Duren Kalibata, seorang perempuan berusia 52 tahun mendorong sepeda pelan. Rencengan sachet minuman tergantung seadanya. Di dekatnya, seorang anak laki-laki kecil mengikuti langkah ibunya—kadang tertinggal, kadang tertidur di tempat yang tak seharusnya menjadi ruang istirahat.
Bertahan Hidup di Jalanan
Namanya Jamilah. Ia sudah tujuh tahun berjualan minuman keliling. Bahkan saat anak bungsunya masih berusia empat bulan dalam kandungan, ia tetap berjalan menyusuri jalanan kota.
“Kalau nggak jalan, ya nggak makan,” begitulah logika sederhana yang ia pegang hingga hari ini.
Bagi Jamilah, hidup tak pernah benar-benar memberi jeda. Ia seorang janda dengan tiga anak laki-laki. Dua anaknya yang kini beranjak dewasa sudah jarang pulang.
“Kalau lagi ingat ya pulang,” katanya singkat saat diwawancarai pada Senin (6/4).
Harapan pada Anak Bungsu
Anak bungsunya, Siddiq (6), masih duduk di bangku taman kanak-kanak dan sebentar lagi akan masuk sekolah dasar. Harapan kecil itu terus ia genggam di tengah kerasnya hidup.
Dua kakaknya lebih dulu putus sekolah dan tidak sempat melanjutkan pendidikan.
Kehilangan yang Datang Bertubi-tubi
Perjalanan hidup Jamilah dipenuhi kehilangan. Suami pertamanya meninggal saat dua anaknya masih balita. Suami keduanya pergi begitu saja ketika ia tengah mengandung anak ketiganya.
Sejak saat itu, Jamilah menjalani hidup seorang diri.
Sebelum memiliki sepeda seperti sekarang, ia menjajakan dagangan dengan berjalan kaki. Ia menenteng dagangan di kedua tangan sambil menggendong bayi.
Tak ada yang bisa ia andalkan saat itu. Hingga suatu hari, seseorang memberinya sepeda untuk berjualan.
Baca juga: Saat Tren “Sujud Freestyle” Merenggut Nyawa Anak-Anak, Tamparan Keras Untuk Para Orang Tua
Hidup di Bawah Tekanan Jalanan
Hari-harinya dimulai dan berakhir di jalan. Dari kontrakan di Kramat Jati yang ia bayar Rp800 ribu per bulan, ia menempuh perjalanan ke kawasan Kalibata untuk berjualan.
Ia biasanya pulang sekitar pukul 23.30 WIB, bahkan sering lewat tengah malam.
Di balik lelahnya, ada tekanan yang tak selalu terlihat. Ia harus berhadapan dengan penjaga wilayah dan menyisihkan uang “jatah” sekitar lima ribu rupiah per hari. Dalam sebulan, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Selain itu, ia juga menghadapi risiko razia. Petugas pernah mengangkutnya karena berjualan di pinggir jalan. Ia bahkan harus menerima perlakuan kasar saat mencari nafkah.
Namun, Jamilah tak banyak mengeluh.
“Ya mau gimana, memang kalau di jalanan begitu. Namanya juga lika-liku kehidupan, ada manis dan pahit, jadi hal biasa,” ujarnya.
Bertahan Demi Anak
Di bawah flyover, Siddiq kadang tertidur beralaskan spanduk. Sementara itu, Jamilah tetap berjualan di trotoar, berharap ada pembeli yang mampir.
Penghasilannya tak menentu—kadang cukup, kadang jauh dari cukup. Meski begitu, ia tetap bersyukur, walau sering merasa kewalahan menjalani semuanya sendiri.
“Kalau nggak ada anak, ya nggak tahu deh,” ujarnya pelan.
Kalimat itu menjadi alasan utama yang membuatnya terus bertahan.
Harapan Sederhana dari Seorang Ibu
Sejak kecil, Jamilah terbiasa hidup berpindah. Ia merantau dari Jawa ke Jakarta bersama orang tuanya. Kini, ia tak lagi memiliki tempat untuk pulang. Harta warisan sudah lama habis dijual ayahnya.
Namun, di tengah keterbatasan, ia tetap menyimpan harapan—bukan untuk dirinya, melainkan untuk generasi yang lebih muda.
“Semoga anak-anak sekarang bisa dapat suami yang bisa angkat derajatnya, langgeng sampai tua,” katanya.
Harapan itu terdengar sederhana, tetapi lahir dari perjalanan hidup yang panjang dan tidak mudah.
Di tengah riuh kendaraan dan langkah orang-orang yang bergegas, kisah Jamilah mungkin hanya sepintas lalu. Namun di balik itu, ada keteguhan yang berdiri diam-diam—pelan, lelah, tetapi tak pernah benar-benar berhenti.







