Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Lille berada di utara Perancis, kota yang bisa dicapai sekitar satu jam dari Paris, satu setengah jam dari London, dan hanya tiga puluh menit dari Brussel. Dari Brussel, saya memilih menuju Lille. Perjalanan singkat itu membawa saya ke sebuah kota yang menjadi titik temu tiga negara: Perancis, Belgia, dan Inggris.
Wilayah ini pada abad pertengahan merupakan bagian dari County of Flanders, pusat perdagangan di Eropa utara. Identitas itu masih terasa hingga hari ini.
Secara administratif Lille berada di Perancis, tetapi budayanya tidak sepenuhnya sama dengan Paris atau wilayah Perancis tengah. Perbedaan terlihat pada bahasa dan dialek, jenis kuliner, arsitektur bangunan, hingga karakter sosial masyarakatnya. Jika Paris banyak dipengaruhi budaya monarki dan istana, Lille tumbuh sebagai kota dagang yang lebih terbuka, egaliter, dan praktis.
Baca juga: Menelusuri Jejak di Bukares: Paris dari Timur, Kampus Tua, dan Salad Tomat
Dalam tradisi kuliner, perbedaan itu juga terasa. Lille memiliki budaya konsumsi bir yang kuat, disertai hidangan berbasis daging seperti semur dan panggang. Sementara Paris identik dengan kuliner kelas atas dan konsumsi anggur sebagai simbol kehalusan rasa.
Kota perjuangan yang akrab dan komunal

Saya berangkat pagi menggunakan kereta cepat TGV dari Brussel. Perjalanan hanya tiga puluh menit, dan sebagian besar penumpangnya adalah pekerja dan pebisnis. Setibanya di Lille Flandres, arus manusia bergerak cepat keluar stasiun.
Udara dingin Eropa utara langsung terasa. Jalanan di depan stasiun tidak padat, tetapi tertib. Sepeda melintas tanpa suara, menjadi bagian dari ritme kota.
Begitu keluar dari area stasiun, suasana berubah. Jika di dalam stasiun terasa tergesa, di luar justru lebih tenang. Fasad bangunan bergaya segitiga khas Flandria langsung terlihat. Tidak jauh berjalan, boulevard melebar dan mengarah ke Grand Place Lille, alun-alun utama kota.
Di tengah alun-alun berdiri La Colonne de la Déesse, atau Kolom Dewi. Monumen ini dibangun untuk mengenang keberanian warga Lille saat menghadapi pengepungan Austria pada tahun 1792, di masa Revolusi Perancis. Serangan berlangsung beberapa hari, tetapi warga tidak menyerah. Peristiwa ini menjadi simbol keteguhan dan perlawanan.
Di sekitar alun-alun, suasana terasa hidup namun tidak berisik. Seorang pemain akordion memainkan musik tradisional. Aroma kopi dan roti panggang menguar dari kafe. Beberapa orang duduk santai menikmati pagi, sebagian sibuk dengan ponsel mereka.
Saya berjalan perlahan di atas jalan berbatu. Toko cokelat dan camilan mulai buka, karyawan menata etalase, dan beberapa butik sudah menerima pengunjung. Meski udara dingin, bangku taman tetap terisi.
Vieux Lille dan jejak waktu yang intim

Dari Grand Place, saya melanjutkan langkah ke Vieux Lille, kawasan kota tua. Area ini terasa seperti memasuki ruang waktu yang berbeda.
Bangunan klasik berwarna merah tua, abu-abu, dan krem berdiri rapat di kiri dan kanan jalan. Galeri seni, butik kecil, dan kafe mulai membuka pintu. Arsitekturnya tidak semegah kota tua Antwerpen, tetapi memiliki karakter yang kuat.
Bangunan bertingkat dengan atap tinggi dan jendela besar menciptakan kesan rapi sekaligus hangat. Jalan berbatu yang tidak rata membuat langkah melambat, seolah memaksa untuk menikmati suasana lebih detail.
Saya sempat mampir ke sebuah kafe kecil di sudut jalan. Aroma cokelat terasa dari etalase tua. Secangkir kopi tanpa gula tersaji di meja marmer klasik. Lampu gantung di langit-langit menambah suasana yang tenang dan sederhana. Tidak ada yang berlebihan, tetapi justru terasa akrab.
Dua gereja di pusat kota

Perjalanan membawa saya ke Cathédrale Notre-Dame de la Treille, katedral utama Lille. Fasadnya berbeda dari bangunan tua di sekitarnya. Menggunakan marmer putih dengan bentuk lengkung modern, bangunan ini baru diselesaikan pada tahun 1999 setelah proyek panjang yang tertunda lebih dari satu abad.
Meski bergaya gotik, sentuhan modernnya terasa jelas. Patung Bunda Maria ditempatkan di tengah fasad, menjadi titik fokus utama. Di dalam, suasana hening dan lapang. Langit-langit tinggi khas gotik mengarahkan pandangan ke atas. Cahaya masuk melalui kaca patri, menerangi ruang dengan lembut. Interiornya tidak terlalu ramai ornamen, memberikan kesan sederhana namun tetap khidmat.
Tidak jauh dari sana, berdiri Église Saint-Étienne. Gereja ini lebih tua dan dibangun kembali pada abad ke-18 setelah rusak akibat pengepungan Austria. Gaya arsitekturnya klasik Perancis dengan sentuhan barok yang tidak berlebihan.
Baca juga: Sydney: Kota yang Lahir dari Koloni, Tumbuh Jadi Ikon Dunia
Fasadnya simetris dengan pilar vertikal yang tegas. Di dalam, suasana terasa lebih hangat dan intim dibanding katedral. Cahaya biru dari kaca patri menerangi ruang, menciptakan suasana yang tenang. Gereja ini tidak besar, tetapi terasa hidup. Tampak sebagai bagian dari komunitas sekitar, bukan sekadar bangunan bersejarah.
Dari area gereja, saya sempat melihat penunjuk arah menuju Hospice Comtesse Museum, tetapi tidak melanjutkan ke sana. Saya memilih kembali ke arah stasiun untuk mencari makan siang. Lille meninggalkan kesan sebagai kota yang tumbuh dari tradisi dagang, tetapi tetap hangat dan bersahabat. Tidak berusaha tampil megah, tetapi justru kuat dalam kesederhanaannya.
Kota ini terasa hidup, egaliter, dan dekat dengan keseharian warganya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








