Representasi Perempuan di Media Indonesia: Analisis Teori Kultivasi Menurut George Garbner terhadap Berita “Komnas Perempuan Bicara Pemberitaan Isu Femisida, Minta Tak Dibuat Sensasional”

Komnas Perempuan

Milenianews.com, Mata Akademisi – Dalam pemberitaan media Indonesia, isu femisida dan kekerasan berbasis gender menjadi salah satu bentuk komunikasi yang mencerminkan bagaimana media tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat memandang realitas sosial. Dalam berita berjudul “Komnas Perempuan Bicara Pemberitaan Isu Femisida, Minta Tak Dibuat Sensasional” yang dimuat oleh Detik.com, Komnas Perempuan menyoroti cara media dalam menampilkan kasus kekerasan terhadap perempuan yang cenderung menonjolkan sisi sensasi sehingga bukannya memberikan ruang empati, media justru memperkuat stereotip dan stigma terhadap korban. Dalam berita tersebut, Komnas Perempuan menegaskan bahwa penyampaian informasi seharusnya tidak mengeksploitasi identitas korban, status sosial, atau aspek pribadi yang dapat menimbulkan penilaian miring dari publik, melainkan perlu berfokus pada konteks struktural dan sistem yang menyebabkan kekerasan itu terjadi.

Baca juga: “Komunikasi Edukatif Dialogis ala Mohammad Hatta: Strategi Dakwah Digital untuk Pembentukan Karakter dan Ketahanan Informasi Remaja”

Jika dianalisis menggunakan kerangka Teori Kultivasi George Gerbner, posisi media dalam kasus ini dapat dipahami sebagai agen pembentuk realitas sosial. Pada tahap pertama, paparan media yang intens mengenai kasus femisida dan kekerasan terhadap perempuan menciptakan kontinuitas informasi yang berulang di ruang publik. Ketika masyarakat terus-menerus mengonsumsi konten dengan pola pemberitaan serupa, persepsi tentang perempuan sebagai kelompok rentan mulai terbentuk dan melekat dalam kesadaran kolektif. Sebagaimana dijelaskan Gerbner, media bekerja seperti tanaman yang terus disiram, sehingga apa yang sering dilihat publik lama kelamaan dianggap sebagai kenyataan. Ketika media memosisikan perempuan sebagai sosok yang selalu menjadi korban, masyarakat dengan pelan namun pasti terpengaruh untuk memaklumi pandangan tersebut sebagai gambaran umum dalam kehidupan nyata.(Yuliati, 2005)

Tahap selanjutnya adalah proses mainstreaming, yaitu ketika berbagai individu dari latar sosial berbeda pada akhirnya memiliki persepsi serupa akibat paparan informasi media yang homogen. Dalam konteks pemberitaan femisida, mainstreaming dapat terlihat ketika publik mulai menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai fenomena yang sudah biasa dan tidak lagi mengejutkan. Masyarakat perlahan kehilangan sensitivitas terhadap kekerasan tersebut karena media sering menampilkan narasi yang sama berulang-ulang. Hal ini dapat menjadi masalah serius karena persepsi yang terbangun tidak hanya menggambarkan perempuan sebagai korban, tetapi juga menormalkan kekerasan terhadap perempuan sebagai sesuatu yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Realitas simbolik inilah yang diperingatkan oleh Gerbner sebagai bahaya terbesar dari dominasi media.(Santoso & Setiansah, 2010)

Kemudian proses pembentukan persepsi sosial muncul sebagai konsekuensi dari paparan jangka panjang. Masyarakat yang terus terpapar pemberitaan sensasional seperti pada artikel Detik.com tersebut akan mulai menilai korban berdasarkan narasi media yang beredar. Misalnya, publik menjadi mudah menyalahkan perempuan karena pakaian, pekerjaan, atau keputusan hidupnya, seolah-olah kekerasan terjadi akibat pilihan personalnya. Mekanisme psikologis ini menunjukkan bagaimana media dapat membentuk stereotip baru atau memperkuat stereotip lama, menjadikan perempuan bukan sekadar pihak yang mengalami kekerasan, tetapi juga pihak yang dianggap ikut bertanggung jawab atas penderitaannya sendiri. Di titik inilah terlihat betapa kuatnya peran media dalam membentuk struktur sosial melalui budaya visual dan verbal yang terus diproduksi.

Selain menguatkan stereotip, pemberitaan yang sensasional juga berpotensi menghambat upaya pemberdayaan. Publik yang terbiasa melihat perempuan sebagai objek penderitaan akan kesulitan menerima narasi bahwa perempuan mampu memimpin, kuat, dan memiliki otoritas sosial. Konsepsi ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi tumbuh melalui proses panjang yang disiram oleh media hari demi hari. Bila pemberitaan tidak diarahkan dengan bijaksana dan berperspektif gender, maka media justru memperpanjang mata rantai ketidakadilan sosial. Sebaliknya, jika media dikelola dengan etis, informatif, dan suportif, pemberitaan mengenai femisida dapat menjadi sarana edukasi publik sekaligus mendorong lahirnya kebijakan perlindungan perempuan yang lebih kuat.(Santoso & Setiansah, 2010)

Baca juga: Dari Mimbar ke Media Sosial: Analisis Semiotik Dakwah Kontemporer Melalui Kacamata Roland Barthes

Dengan demikian, melalui berita detik.com tersebut kita dapat melihat bagaimana Teori Kultivasi bekerja dalam realitas sosial di Indonesia. Media bukan sekadar cermin peristiwa yang terjadi, tetapi juga produsen cara berpikir dan pola menilai. Ketika media menampilkan kekerasan terhadap perempuan secara sensasional, masyarakat belajar untuk memaknai perempuan melalui kacamata korban. Ketika media memberikan narasi yang empatik dan berbasis edukasi, masyarakat belajar untuk melihat perempuan sebagai individu yang memiliki hak dan martabat yang harus dijaga. Realitas sosial pada akhirnya tumbuh mengikuti pola media yang dominan diakses publik.

Oleh karena itu, penting bagi media dan konsumennya untuk menyadari kekuatan kultivasi dalam pemberitaan. Media perlu mengubah cara pemberitaan agar tidak memperkuat stigma, melainkan menumbuhkan kesadaran dan keberpihakan pada korban. Di sisi lain, publik perlu bersikap kritis dalam membaca informasi dan tidak menerima mentah-mentah narasi yang berulang. Ketika kedua pihak bekerja sejalan, maka media dapat menjadi ruang pembelajaran bersama, bukan penyemaian bias dan ketidakadilan. Berita tentang femisida bukan lagi sekadar tragedi, tetapi menjadi momentum refleksi nasional untuk membangun masyarakat yang lebih peka, adil, dan beradab terhadap perempuan.

Penulis: Salwa, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *