Oleh: Fahma Aisyah Putri Alwa, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Bayangkan sedang duduk di ruang kelas, mengerjakan tugas seperti biasa. Namun, setiap kali berita perang muncul di televisi, pandangan orang-orang di sekitarmu berubah.
Bukan karena kesalahan yang kamu lakukan, melainkan karena identitas yang melekat pada dirimu. Fenomena inilah yang banyak dialami pelajar Muslim di Amerika Serikat ketika konflik Timur Tengah memanas.
Artikel yang diterbitkan The Conversation mengungkap bahwa siswa Muslim sering menjadi sasaran stereotip, prasangka, hingga diskriminasi setiap kali Amerika Serikat terlibat dalam konflik di Timur Tengah. Di ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berkembang, identitas agama justru sering menjadikan mereka objek kecurigaan.
Ironisnya, persoalan ini bukan fenomena baru dalam sejarah manusia. Jika menoleh ke karya sastra Indonesia awal abad ke-20, kita dapat menemukan persoalan serupa dalam novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo.
Baca juga: Strategi Muslimah Hadapi Tantangan Karier dengan Ketahanan
Hidjo dan pengalaman menjadi “yang berbeda”
Novel Student Hidjo mengisahkan seorang pemuda Jawa yang berkesempatan menempuh pendidikan di Belanda pada masa kolonial. Sebagai pribumi yang memasuki ruang pendidikan dan lingkungan sosial Eropa, Hidjo menghadapi realitas bahwa status sosial sering kali lebih menentukan daripada kemampuan yang dimiliki.
Meski berpendidikan dan memiliki wawasan yang luas, Hidjo tetap dipandang melalui identitasnya sebagai orang pribumi. Dalam sistem kolonial, pribumi ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dibanding orang Eropa. Akibatnya, hubungan sosial tidak dibangun atas dasar kesetaraan, melainkan hierarki yang telah ditentukan oleh kekuasaan kolonial.
Pengalaman Hidjo menunjukkan bahwa diskriminasi sering muncul ketika seseorang dianggap berbeda dari kelompok dominan. Identitas menjadi penentu bagaimana seseorang diperlakukan, bahkan sebelum orang lain mengenal siapa dirinya sebenarnya.
Ketika identitas mengalahkan individu
Apa yang dialami Hidjo memiliki kemiripan dengan pengalaman pelajar Muslim di Amerika saat ini. Dalam kasus yang diangkat The Conversation, banyak siswa Muslim mengalami perlakuan tidak menyenangkan karena identitas keagamaannya dikaitkan dengan konflik politik internasional.
Mereka sering mendapat pertanyaan yang menyudutkan, dianggap mewakili tindakan kelompok ekstremis, bahkan menghadapi perundungan dari teman sebaya. Akibatnya, banyak siswa Muslim merasa harus menjelaskan atau membela identitas mereka atas peristiwa yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan mereka.
Di sinilah letak masalahnya. Ketika identitas kelompok lebih dominan daripada penilaian terhadap individu, lahirlah prasangka. Orang tidak lagi dilihat berdasarkan karakter, prestasi, atau perilakunya, melainkan berdasarkan stereotip yang melekat pada kelompoknya.
Pendidikan yang belum sepenuhnya inklusif
Baik dalam novel Student Hidjo maupun kasus diskriminasi Muslim di Amerika, terdapat satu kesamaan penting: keduanya terjadi di lingkungan pendidikan.
Padahal, pendidikan idealnya menjadi ruang yang mengajarkan keterbukaan, penghormatan terhadap keberagaman, dan kemampuan berpikir kritis. Namun dalam praktiknya, ruang pendidikan sering kali tidak sepenuhnya bebas dari bias sosial yang berkembang di masyarakat.
Mas Marco melalui novel Student Hidjo memperlihatkan bahwa pendidikan kolonial belum mampu menghapus sekat-sekat sosial yang ada. Sementara itu, kasus di Amerika menunjukkan bahwa pendidikan modern pun masih menghadapi tantangan yang sama ketika berhadapan dengan isu identitas, agama, dan politik global.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan sistem pendidikan tidak selalu sejalan dengan kemajuan cara pandang masyarakat terhadap kelompok yang berbeda.
Belajar dari sastra untuk memahami realitas
Salah satu kekuatan sastra adalah kemampuannya menjelaskan persoalan sosial yang melampaui zamannya. Meskipun ditulis lebih dari satu abad lalu, novel Student Hidjo tetap relevan untuk membaca berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi saat ini.
Novel tersebut mengingatkan bahwa ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia dapat muncul melalui pandangan merendahkan, stereotip, pengucilan sosial, hingga perlakuan yang berbeda terhadap kelompok tertentu.
Karena itu, membaca novel Student Hidjo bukan hanya memahami sejarah kolonial Indonesia, tetapi juga memahami bagaimana prasangka bekerja dalam kehidupan manusia. Bentuknya boleh berubah, tetapi polanya tetap sama: ada kelompok yang dianggap lebih unggul dan kelompok lain yang dipandang sebagai “yang berbeda”.
Baca juga: Sekolah Bisa Mengajarkan Rumus, tapi Masa Depan Bangsa Ditentukan oleh Cara Kita Mendidik Manusia
Melihat manusia sebagai manusia
Pada akhirnya, baik kasus diskriminasi terhadap pelajar Muslim di Amerika maupun pengalaman Hidjo di Belanda mengajarkan pelajaran yang sama. Identitas tidak boleh menjadi dasar untuk menilai kualitas seseorang.
Ketika agama, ras, atau asal-usul dijadikan ukuran utama dalam memperlakukan orang lain, maka diskriminasi akan terus menemukan ruang untuk hidup. Sebaliknya, ketika manusia dipandang sebagai individu yang memiliki hak dan martabat yang sama, ruang bagi prasangka akan semakin sempit.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana mengenal orang yang berbeda, melainkan bagaimana menghormati perbedaan tersebut. Dalam hal ini, Student Hidjo masih memiliki pesan yang sangat relevan bagi pembaca masa kini: kemajuan tidak akan berarti jika manusia masih dinilai berdasarkan label, bukan kemanusiaannya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








