Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Sepuluh tahun lalu, perjalanan ke Salatiga adalah uji kesabaran. Jalur Pantura via Jalan Daendels dipenuhi kemacetan, pasar tumpah, serta lalu lintas lokal yang bercampur dengan kendaraan jarak jauh. Perjalanan terasa panjang dan melelahkan.
Kini, perjalanan dari Jakarta ke Salatiga memang masih memakan waktu berjam-jam. Namun lewat jalan tol, hambatan nyaris tak terasa. Laju kendaraan lebih stabil, dan ada kesan seolah perjalanan ini memiliki tujuan yang lebih jelas untuk dikejar.
Saat keluar dari pintu tol, pemandangan berubah drastis. Gunung Merbabu berdiri gagah di cakrawala, seolah menjadi tuan rumah yang menyambut setiap pendatang. Salatiga yang dahulu hanya kota persinggahan menuju Solo atau Yogyakarta, kini menjelma menjadi destinasi yang layak disinggahi. Wisata, suasana, dan kulinernya meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan.
Baca juga: Manado–Bitung: Dari Laut ke Meja, Cerita Rasa yang Tidak Basa-Basi
Enam jam sebelumnya, hiruk pikuk Jakarta masih terasa. Hutan beton di Semanggi berganti dengan lanskap hijau lereng gunung. Udara sejuk yang di Jakarta menjadi kemewahan, di sini hadir sebagai keseharian. Salatiga menyambut dengan tenang, khususnya di pusat kota, di sepanjang Jalan Diponegoro.
Jejak kota peristirahatan bergaya eropa
Jalan Diponegoro dahulu dikenal sebagai Toentangscheweg, jalur utama yang menghubungkan wilayah pedalaman Jawa seperti Magelang, Solo, dan Yogyakarta dengan pesisir utara. Hingga kini, jejak masa lalu itu masih terasa.
Berjalan kaki di trotoar yang bersih dan terawat, suasananya seperti membawa kembali ke masa ketika Salatiga dijuluki De Schoonte Stad van Midden Java—kota terindah di Jawa Tengah.
Salah satu bangunan yang menonjol adalah bekas vila milik Oei Tiong Ham, konglomerat gula dan salah satu orang terkaya di Hindia Belanda. Bangunan ini bergaya Indische, perpaduan arsitektur Eropa dan lokal. Langit-langit tinggi, pintu dan jendela besar, serta teras luas menjadi ciri khasnya.
Kini bangunan tersebut difungsikan sebagai markas Korem Makutarama. Bahkan, pada pertengahan 1950-an, Presiden Soeharto pernah tinggal di sini saat menjabat sebagai Komandan Korem.
Tak jauh dari sana, berdiri Gedung Papak—nama yang berarti “rata” dalam bahasa Jawa, merujuk pada bentuk atapnya yang tidak lazim untuk bangunan kolonial. Dahulu gedung ini adalah kediaman Baron van Heeckeren, seorang bangsawan dan pengusaha perkebunan.
Atap datar itu dibuat agar sang baron bisa menikmati pemandangan pegunungan tanpa terhalang saat bersantai di teras. Kini, gedung tersebut menjadi Kantor Wali Kota Salatiga.
Di pusat kota, Lapangan Pancasila atau alun-alun menjadi titik nol yang memperlihatkan perpaduan tata kota kolonial dan kehidupan modern. Di kawasan ini juga berdiri Gereja Tamansari, yang awalnya dibangun tahun 1823 sebagai gudang amunisi, sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi gereja.
Arsitektur bergaya gotik terlihat dari jendela tinggi dengan lengkungan runcing, serta menara kecil dengan lonceng buatan tahun 1828 yang masih berfungsi hingga kini.
Ritme tenang dan soto legendaris

Hal yang sering luput disadari pendatang adalah bahwa keistimewaan Salatiga bukan pada kemegahan fisik, melainkan pada ritme hidupnya. Kota ini menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di kota besar.
Klakson kendaraan nyaris tak terdengar. Waktu berjalan lebih pelan. Duduk di bangku taman pun terasa cukup, tanpa tekanan atau rasa terburu-buru.
Di tengah suasana seperti ini, kuliner menjadi bagian penting dari pengalaman kota. Salah satu yang legendaris adalah Soto Ayam Esto, berdiri sejak 1940.
Nama “Esto” berasal dari perusahaan bus lama: Eerste Salatigasche Transport Onderneming. Awalnya, soto ini dijual dari gerobak di depan garasi bus, melayani penumpang dan awak yang datang dan pergi.
Semangkuk soto disajikan hangat. Kuahnya kuning bersantan—berbeda dengan soto khas Jawa Tengah lain yang cenderung bening. Santannya ringan, menghasilkan tekstur lembut dan creamy, berpadu dengan kaldu ayam kampung, kunyit, dan kemiri.
Di dalamnya terdapat suwiran ayam, nasi, dan kecambah. Di meja tersedia lauk tambahan seperti sate kerang, tahu, tempe, dan telur puyuh. Perasan jeruk nipis dan sambal menambah dimensi rasa.
Yang khas, warga lokal hampir selalu menambahkan kerupuk karak. Saat terkena kuah, karak menjadi sedikit lunak namun tetap menyisakan tekstur unik.
Menikmati soto ini bukan sekadar makan, tetapi juga merasakan denyut kehidupan kota—berdampingan dengan warga lokal, wisatawan, hingga pekerja kantoran.
Rawa Pening dan lanskap yang menenangkan
Tak jauh dari pusat kota, Rawa Pening menghadirkan suasana yang berbeda. Danau luas ini dikelilingi tiga gunung: Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran, menciptakan lanskap yang dramatis sekaligus menenangkan.
Di pagi hari, kabut tipis menyelimuti permukaan air. Perahu-perahu kecil milik nelayan tradisional—disebut pandega—bergerak perlahan membelah kabut.
Baca juga: Pempek di Kampung Pempek: Menghirup Identitas Palembang dari Mangkok Cuko
Dari Bukit Cinta, panorama Rawa Pening terlihat seperti kanvas luas. Pantulan langit, bayangan gunung, dan aktivitas nelayan menyatu dalam komposisi yang harmonis.
Sejak tol Trans Jawa beroperasi, kawasan ini semakin populer sebagai destinasi wisata. Namun bagi warga lokal, Rawa Pening lebih dari itu—ia adalah sumber kehidupan. Airnya mengairi sawah, menjadi habitat keanekaragaman hayati, serta sumber ekonomi dari hasil perikanan.
Duduk di Bukit Cinta, suasana mengajak untuk berhenti sejenak. Angin, aroma air, dan ketenangan yang hadir menjadi pengingat bahwa Salatiga bukan sekadar kota kecil—melainkan ruang yang menyimpan cerita, sejarah, dan jeda yang dibutuhkan banyak orang.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










