Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Di ujung utara Sulawesi, laut bukan sekadar pemandangan. Ia adalah sumber hidup, denyut ekonomi, sekaligus dapur terbesar yang langsung tersambung ke meja makan.
Bitung adalah pintu masuknya.
Menghadap langsung ke Laut Maluku dan Laut Sulawesi, kota ini berada di jalur strategis lumbung ikan dunia. Tuna, cakalang, hingga berbagai hasil laut lainnya bergerak dari kapal nelayan ke industri pengolahan, lalu menembus pasar global—Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Baca juga: Idulfitri dan Nasi Minyak, Saat Palembang Menyajikan yang Terbaik
Tapi sebelum semua itu jadi komoditas ekspor, sebagian kecilnya mengambil jalan berbeda: berhenti di dapur-dapur lokal, dan disajikan dalam bentuk paling jujur—segar, sederhana, dan tanpa banyak kompromi.
Perjalanan ke Bitung hampir selalu berpasangan dengan Manado. Bandara ada di Manado, dan keduanya terhubung tol sekitar 35 menit. Dekat, cepat, dan secara rasa—nyaris satu napas.
Pagi di pelabuhan: Bubur hangat dan tuna tanpa basa-basi

Pagi di Pelabuhan Perikanan Bitung dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar naik.
Perahu pajeko merapat satu per satu, membawa hasil tangkapan dari laut lepas. Di kejauhan, Gunung Dua Saudara berdiri seperti latar tetap yang tidak pernah berubah. Di sini, rantai panjang industri laut dimulai—dari tengah Pasifik hingga ke restoran di belahan dunia lain.
Tapi pagi itu dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: tinutuan. Bubur Manado ini bukan bubur biasa. Beras dimasak bersama jagung dan labu kuning, lalu diperkaya kangkung dan daun kemangi. Teksturnya lembut, rasanya ringan, tapi kompleks.
Di meja sederhana, tersedia ikan asin dan sambal roa. Tidak dicampur langsung—biar kita yang menentukan sendiri seberapa asin, seberapa pedas. Kontrol penuh di tangan penikmatnya. Segelas kopi hitam melengkapi suasana. Obrolan ringan para pelaut tentang harga ikan dan perjalanan laut jadi latar suara yang terasa autentik.
Lalu datang highlight yang tidak bisa dilewatkan: tuna mentah. Bukan gimmick, bukan tren. Ini real deal. Tuna grade A yang baru turun dari kapal dipotong tipis, disajikan dengan sambal dabu-dabu—campuran cabai rawit, tomat, bawang merah, dan perasan jeruk nipis.
Tidak ada saus aneh, tidak ada plating berlebihan. Rasanya bersih, segar, dan jujur. Bahkan, kalau mau dibandingkan, level kesegarannya bisa bikin sashimi di restoran mahal Jakarta terasa… terlalu jauh dari sumbernya.
Siang di Manado: Cakalang Fufu dan rasa yang lebih dalam
Dari Bitung, perjalanan berlanjut ke Manado. Pantai Malalayang jadi titik berhenti berikutnya. Di sini, laut tetap jadi latar, tapi dengan sentuhan urban yang lebih rapi. Jalur pedestrian lebar, angin laut yang konstan, dan pemandangan ke arah Bunaken di kejauhan.
Di sepanjang kawasan ini, pilihan makan berjejer. Dari kios sederhana sampai restoran yang lebih nyaman. Pilihan jatuh ke satu menu yang tidak pernah gagal: cakalang rica-rica.
Tapi sebelum jadi rica-rica, ada proses penting: cakalang fufu.
Ikan cakalang diasap dengan bara tempurung kelapa selama berjam-jam. Hasilnya daging berwarna coklat keemasan, aroma asap yang kuat, tekstur padat di luar tapi tetap lembut di dalam. Pengasapan ini bukan cuma soal rasa, tapi juga teknik pengawetan tradisional.
Saat diolah jadi rica-rica, potongan cakalang fufu dimasak dengan bumbu cabai merah, cabai rawit, tomat, bawang merah, bawang putih, jahe, dan perasan jeruk yang cukup banyak. Hasil akhirnya: pedas, segar, smoky, dan dalam satu suapan langsung terasa “berat”—dalam arti memuaskan.
Di meja, cakalang rica-rica disajikan panas dengan nasi putih, irisan mentimun, daun kemangi, dan sambal dabu-dabu sebagai penyeimbang. Ini bukan sekadar makan siang. Ini pengalaman rasa yang lengkap.
Malam di jalan roda: Penutup yang hangat dan penuh cerita

Perjalanan kuliner di Manado belum selesai tanpa mampir ke Jalan Roda—atau yang dikenal sebagai Jarod.
Dulu tempat ini jadi titik kumpul roda sapi, alat transportasi masa lalu. Sekarang berubah jadi koridor kuliner yang tetap mempertahankan nuansa lama. Lampu-lampu sederhana, bangunan bergaya kolonial, dan interaksi warga yang terasa santai tapi hidup. Di sini, pilihan jatuh ke nasi jaha.
Sekilas mirip lemang, tapi dengan karakter sendiri. Beras ketan direndam dalam santan, jahe, serai, daun jeruk, lalu dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar perlahan hingga empat jam. Hasilnya nasi ketan yang pulen, harum, dengan sentuhan smoky yang khas.
Nasi jaha bukan sekadar makanan. Ia bagian dari tradisi Minahasa, hadir dalam acara pengucapan syukur—momen ketika rumah dibuka untuk siapa saja yang datang. Disajikan dengan cakalang rica dan telur asin, nasi jaha jadi penutup yang hangat—secara rasa dan makna.
Baca juga: Ternate dan Tidore, Ketika Laut, Rempah, dan Sejarah Bertemu
Dari laut ke meja, tanpa kehilangan identitas
Manado dan Bitung menawarkan sesuatu yang jarang: hubungan yang sangat dekat antara sumber bahan dan hidangan. Ikan tidak datang dari rantai distribusi panjang. Ia datang langsung dari laut ke dapur. Rempah tidak dipakai berlebihan, tapi cukup untuk mengangkat rasa asli.
Tidak ada yang dibuat terlalu rumit. Tidak ada yang dipoles berlebihan. Dan mungkin justru itu kekuatannya. Di sini, makanan tidak hanya soal kenyang. Ia adalah cerita—tentang laut, tentang tradisi, dan tentang cara hidup yang tetap bertahan di tengah perubahan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








