Paris, Harissa Tunisia dan Sholat Ied yang Tak Sempat Ditunaikan

paris

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Kembali hadir di Paris untuk kelima kalinya memberi pengalaman yang berbeda. Kota ini memang tidak pernah habis dijelajahi. Semakin sering datang, semakin terasa bahwa Paris bukan hanya tentang Menara Eiffel, museum, atau jalan-jalan romantis yang sering muncul di kartu pos.

Kali ini saya ingin menikmati Paris dengan cara yang lebih tenang dan lebih personal. Bukan sekadar mengunjungi ikon wisata, tetapi menyentuh sisi budaya dan spiritual yang kadang terlewat dalam perjalanan singkat.

Paris adalah kota tempat berbagai budaya bertemu, termasuk budaya kuliner. Karena itu, kami mencoba menikmati kuliner Tunisia yang cukup mudah ditemukan di kota ini. Selain halal, kuliner Tunisia juga belum banyak hadir di Jakarta.

Baca juga: Lille, Jejak Kota Dagang yang Hangat di Utara Prancis

Dan kebetulan, saat berada di Paris, jatuh tanggal 10 Dzulhijjah 1445 Hijriah. Kami pun berencana menunaikan Sholat Idul Adha di Grande Mosquée de Paris, Masjid Raya Paris.

Harissa pedas dan hangatnya kuliner Tunisia

Saya duduk di sebuah restoran Tunisia di Paris. Ini pengalaman pertama menikmati masakan Tunisia secara langsung.

Tunisia memang punya hubungan panjang dengan Prancis. Negara Afrika Utara itu pernah berada di bawah protektorat Prancis sejak 1881. Pengaruh kolonial membuat bahasa, pendidikan, dan budaya Prancis berkembang di Tunisia. Sebaliknya, banyak warga Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Prancis dan membentuk komunitas besar, terutama di Paris.

Hidangan pembuka datang lebih dulu. Ada roti khobz yang disantap bersama harissa, saus cabai khas Tunisia yang rasanya pedas dan tajam. Harissa hampir selalu hadir di berbagai masakan Tunisia dan menjadi penanda rasa yang paling khas.

Di meja juga tersaji salade mechouia, olahan paprika, tomat, dan bawang yang dipanggang hingga aromanya keluar.

Setelah itu datang menu utama, daging domba panggang dengan kentang goreng, bulgur, dan sayuran segar. Aroma dombanya kuat, tetapi tetap gurih dan nyaman di lidah.

Semua disantap bersama roti hangat yang menjadi bagian penting dalam tradisi makan masyarakat Afrika Utara.

Grande Mosquée de Paris dan sejarah Muslim di Prancis

Grande Mosquée de Paris bukan hanya tempat ibadah. Masjid ini adalah simbol sejarah panjang komunitas Muslim di Prancis.

Masjid Raya Paris dibangun setelah Perang Dunia I sebagai penghormatan kepada sekitar 100 ribu tentara Muslim dari koloni Afrika Utara yang gugur membantu Prancis. Masjid ini diresmikan tahun 1926 dan menjadi salah satu bentuk pengakuan resmi negara terhadap kontribusi komunitas Muslim dalam sejarah modern Prancis.

Secara visual, bangunannya sangat indah. Arsitekturnya memadukan gaya Moorish, Maroko, dan Andalusia. Menaranya setinggi 33 meter berdiri dengan lapisan mosaik biru yang khas. Lengkungan tapal kuda, ukiran kayu, dan ornamen geometris membuat suasananya terasa berbeda dari masjid-masjid di Asia Tenggara.

Masjid ini juga memiliki sejarah kemanusiaan yang penting. Saat Perang Dunia II, Grande Mosquée de Paris disebut pernah membantu memberikan perlindungan dan identitas Muslim kepada warga Yahudi yang diburu Nazi.

Kini, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga memiliki perpustakaan, ruang pendidikan, restoran, hingga hammam tradisional. Sebuah ruang publik yang memperlihatkan wajah Islam yang moderat dan menyatu dengan kehidupan modern Paris.

Sholat Ied yang tidak jadi

hujan di paris

Tanggal 16 Juni 2024 pagi, saya dan istri berangkat menuju Grande Mosquée de Paris untuk Sholat Idul Adha.

Kami menginap di pinggiran Paris dan memesan Uber menuju masjid. Menurut catatan perjalanan, waktu tempuh sekitar tiga puluh menit. Kami sudah mendapat informasi bahwa sholat dilakukan dalam dua gelombang karena jumlah jamaah yang sangat banyak.

Perjalanan pagi itu lancar. Jalanan Paris masih relatif lengang. Namun mendekati area masjid, suasana sudah ramai. Banyak jamaah berjalan menuju lokasi. Jalan di sekitar masjid sebagian ditutup, sehingga kami turun dekat area museum dan melanjutkan berjalan kaki sambil ikut antre bersama jamaah lain.

Hujan rintik turun pelan. Untung kami sudah membawa payung. Di dalam masjid, sholat gelombang pertama sedang berlangsung. Dari luar tidak terdengar ceramah keras atau pengeras suara berlebihan. Suasananya tenang dan tertib.

Sekitar lima belas menit kemudian jamaah gelombang pertama mulai keluar. Antrean perlahan bergerak masuk. Kami mengikuti arus jamaah menuju pintu masjid di Rue Georges Desplas. Petugas keamanan tampak mengatur antrean dengan rapi. Bahkan ada polisi berkuda berjaga di lapangan seberang masjid.

Kami semakin dekat ke pintu masuk. Tinggal sekitar tiga puluh meter lagi. Lalu antrean berhenti. Informasi datang bahwa ruang masjid dan halaman dalam sudah penuh. Jamaah di luar tidak bisa masuk lagi. Tidak ada gelombang tambahan. Dan kami pun diminta pulang.

Baca juga: Idulfitri dan Nasi Minyak, Saat Palembang Menyajikan yang Terbaik

Tidak ada rasa marah. Tidak juga kecewa berlebihan. Ada rasa takzim dan ikhlas menerima keadaan. Ini Paris, bukan kota mayoritas Muslim. Di sini, aturan ruang publik dijalankan sangat ketat. Sholat tidak boleh meluber ke trotoar atau menutup jalan umum.

Berbeda dengan suasana Idul Adha di Indonesia, ketika halaman masjid bahkan jalanan sekitar bisa dipenuhi jamaah. Di Paris, ruang ibadah dibatasi pagar masjid.

Pagi itu kami memang gagal mengikuti Sholat Ied di Grande Mosquée de Paris. Namun pengalaman berdiri di tengah antrean panjang jamaah Muslim dari berbagai bangsa, di bawah gerimis kota Paris, justru menjadi pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *