Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Banyak orang belum sadar bahwa Lampung sebenarnya dekat. Jauh lebih dekat dibanding Bali atau Belitung. Dari Jakarta, perjalanan menuju Lampung bahkan terasa seperti bepergian ke Purwokerto atau Pekalongan.
Lampung berada di ujung selatan Pulau Sumatera, hanya dipisahkan Selat Sunda dari Pulau Jawa. Kita bisa membawa mobil sendiri naik kapal feri, lalu langsung menjelajah berbagai sudut provinsi ini dengan mudah.
Padahal Lampung menyimpan paket wisata yang lengkap. Ada pegunungan, pantai pasir putih, pulau-pulau kecil eksotis, dan budaya yang berbeda dari Jawa. Kuliner khasnya pun punya karakter kuat yang sulit dilupakan.
Baca juga: Salatiga Kini, Kota yang Tak Lagi Sekadar Dilewati
Dermaga Ringgung, awal perjalanan ke Tegal Mas
Saya menginap di kawasan Jalan Raden Intan, Bandar Lampung. Pagi-pagi sekali perjalanan dimulai menuju Dermaga Ringgung, titik keberangkatan ke Pulau Tegal Mas.
Kota Bandar Lampung belum benar-benar bangun ketika minibus yang kami tumpangi melaju meninggalkan pusat kota. Jalanan perlahan berubah dari kawasan pertokoan menjadi jalur perbukitan hijau dengan aroma laut yang mulai terasa.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian kami tiba di Dermaga Ringgung. Suasana dermaga sudah hidup. Beberapa rombongan wisatawan tampak bersiap naik perahu. Deretan kapal kayu dan speedboat berjajar di tepi laut, sebagian sudah bekerja sama dengan biro perjalanan wisata.
Sedikit pengarahan, lalu kami turun menuju kapal. Deru mesin mulai memecah permukaan laut. Daratan Sumatera perlahan menjauh. Air laut berubah warna dari hijau lumut menjadi biru kristal yang bening hingga dasar.
Perjalanan sekitar tiga puluh menit membawa kami mendekati Pulau Tegal Mas. Dari kejauhan mulai terlihat vila-vila kayu berdiri di atas laut, seperti kampung terapung yang muncul dari permukaan air.
Pulau untuk menikmati matahari terbit dan tenggelam

Tegal Mas menawarkan konsep kembali ke alam dengan sentuhan modern. Bangunan vila di pulau ini banyak mengambil inspirasi dari lumbung padi tradisional Lampung. Gaya arsitekturnya sederhana, memakai pendekatan vernakular yang memanfaatkan bentuk dan material yang dekat dengan budaya lokal.
Kayu, atap jerami, jembatan penghubung, dan suara ombak menjadi bagian dari suasana yang terus terasa sepanjang hari. Di bawah vila, laut begitu jernih. Tanpa perlu menyelam dalam, ikan-ikan kecil sudah terlihat berenang di sela tiang kayu. Aktivitas utama di sini memang menikmati laut: snorkeling, berenang, atau sekadar naik kano mengitari pulau.
Taman koral di sekitar pulau masih cukup terjaga. Airnya tenang dan membuat orang betah berlama-lama. Momen paling dramatis datang menjelang sore.
Dari ujung dermaga vila, matahari perlahan turun di balik gugusan pulau kecil. Air laut berubah warna menjadi keemasan. Di kejauhan terlihat Pulau Pahawang dan Kelagian seperti batu zamrud di atas hamparan biru. Pemandangan seperti ini yang membuat orang rela kembali lagi ke Lampung.
Nyeruit, ritual makan Orang Lampung
Kuliner Lampung sebenarnya masih berkerabat dekat dengan Sumatera Selatan dan Jambi. Tidak heran karena wilayah-wilayah ini dulu punya akar sejarah yang saling terhubung. Kita masih bisa menemukan pempek, pindang ikan, tempoyak, hingga kopi yang mirip dengan daerah tetangga.
Namun Lampung punya satu tradisi makan yang sangat khas: seruit. Kini seruit bukan hanya dikenal sebagai makanan, tetapi juga ritual kebersamaan masyarakat Lampung. Tradisi ini berakar dari nilai piil pesenggiri, filosofi kehormatan dan penghormatan kepada tamu.
Dalam tradisi nyeruit, makanan disajikan di atas nampan besar yang dinikmati bersama-sama. Empat unsur utama biasanya selalu hadir: ikan bakar, sambal terasi, tempoyak, dan perasan jeruk kunci.
Baca juga: Barelang, Menyusuri Jembatan dan Sunyi di Selatan Batam
Tempoyak berasal dari fermentasi durian matang yang menghasilkan rasa asam-manis khas. Sambal terasi Lampung terkenal kuat aromanya dan sangat pedas. Ikan bakarnya idealnya memakai ikan sungai seperti baung atau belida, walau kini sering diganti gurami atau lele.
Semua elemen itu dicampur bersama nasi hangat yang masih mengepul. Rasanya kuat, pedas, asam, gurih, dan sedikit creamy dari tempoyak. Sensasi yang sulit ditemukan di daerah lain. Namun nyeruit bukan sekadar soal rasa. Tradisi ini selalu membutuhkan waktu panjang, obrolan, tawa, dan kebersamaan. Orang makan sambil bercakap, bercanda, dan berkeringat karena pedasnya sambal. Di situlah inti nyeruit sebenarnya.
Lampung akhirnya bukan hanya tentang laut biru Tegal Mas atau pulau-pulau cantik di Teluk Lampung. Ada budaya makan yang mengajarkan bahwa makanan terbaik selalu hadir bersama percakapan dan kebersamaan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











